Cerita Dewasa Bisnis Dengan Tante Girang Binal –
Kali ini terasa agak dingin dihembus kipas angin dari atas. Kuambil
selimut sambil melihat Tante yang masih berposisi telanjang bongkok
udang. Hal ini menarikku untuk memeluknya dari belakang. Kutebarkan
selimut lebar itu hingga menutupi tubuh kami berdua. Tangan kiri
kusisipkan di bawah badannya dan tangan kananku kupelukkan melingkupi
dadanya.
Pinggulku kulekatkan ke arah pantatnya, sehingga otomatis zakarku
menempel di situ pula, di sela-sela paha belakangnya.Dasar darah mudaku
masih panas, sejenak kemudian burung kecilku sudah jadi ‘garuda’ perkasa
yang siap tempur lagi. Kugerak-gerakkan menusuki sela-sela paha
belakang Tante. Tanganku pun tidak tinggal diam dan mulai memelintir
puting Tante kiri-kanan seraya meremas-remas gumpalan kenyal itu. Kontan
mendapat perlakuan seperti itu Tanteku terbangun dan bereaksi.“Sudah,
Ron..! Jangan lagi..!” tubuh Tante beringsut menjauhiku, namun aku tetap
memeluknya erat.
Bahkan dengkulku sekarang berupaya membuka pahanya dari belakang.
Tante beringsut menjauh lagi dan kedua tangannya berusaha melepas
pelukanku.
“Jangan, Ron..! Aku ini Tantemu.” rintihnya sambil tetap membelakangiku.
“Tapi, tadi kita sudah melakukannya, Tante?” tanyaku tidak mengerti. Pelukanku tetap.
“Ya. Ta.. tadi Tante.. khilaf..”
“Khilaf..? Tapi kita sudah melakukannya sampai dua kali Tante?” aku tidak habis mengerti.
Kulekatkan lagi zakarku ke pantatnya. Tante menghindar.“Ii.. ya, Ron.
Tante tadi benar-benar tak mampu.. menahan nafsu.. Tante sudah lama
tidak melakukan ini sejak Oom-mu meninggal. Dan sekarang kamu merangsang
Tante sampai Tante terlena.”
“Masak terlena sampai dua kali?”
“Yang pertama memang.
Tante baru terbangun setelah.., Roni mem.. memasuki Tante. Tante mau
melawan tapi tenagamu kuat sekali sampai akhirnya Tante diam dan malah
jadi terlena.”“Kalau yang kedua, Tante..?” tanyaku ingin tahu sambil
mendekap lebih erat. Tante menghindar dan menepisku lagi.
“Kamu mencium bibir Tante. Di situ lah kelemahan Tante, Ron. Tante selalu terangsang kalau berciuman..”
“Oh, kalau begitu Tante kucium saja sekarang ya..? Biar Tante bernafsu
lagi.” pintaku bernafsu sambil berupaya memalingkan wajah Tante. Tapi
Tante menolak keras.
“Jangan, Ron..! Sudah cukup. Kita jangan berzinah lagi. Tante merasa berdosa pada Oom-mu. Hik.. hik.. hik..” Tante terisak.
Aku jadi mengendurkan serangan, meski tetap memeluknya dari
belakang.Kemudian kami terdiam. Dalam dekapanku terasa Tante sedang
menangis. Tubuhnya berguncang kecil.
“Ya sudah, Tante. Sekarang kita tidur saja. Tapi bolehkan Roni memeluk Tante seperti ini..?”
Tidak kuduga Tante justru berbalik menghadapku sambil membetulkan
selimut kami dan berkata, “Tapi kamu harus janji tak akan menyetubuhi
Tante lagi kan, Ron?”
“Iya, Tante. Aku janji.., anggap saja Tante sekarang sedang memeluk anak
Tante sendiri.”Sekilas kulihat bibir Tante tersenyum. Di bawah selimut,
aku kembali memeluknya dan kurasakan tangan Tante juga memelukku. Buah
dada besarnya menekan dadaku, tapi aku mencoba mematikan nafsuku.
Zakarku, meski menyentuh pahanya, juga kutahan supaya tidak tegang
lagi. Wajah kami berhadap-hadapan sampai napas Tante terasa menerpa
hidungku. Matanya terpejam, aku pun mencoba tidur.Mungkin saking
lelahnya, dengan cepat Tante terlelap lagi. Namun lain halnya dengan
aku. Terus terang, meski sudah berjanji, mana bisa aku mengekang terus
nafsu birahiku, terutama si ‘garuda’ kecilku yang sudah mulai
mengepakkan sayapnya lagi.
Dengan tempelan buah dada sebesar itu di dada dan pelukan hangat
tubuh polos menggairahkan begini, mana bisa aku tidur tenang? Mana bisa
aku menahan syahwat? Jujur saja, aku sudah benar-benar ingin segera
menelentangkan Tante, menusuk dan memompanya lagi!Tapi aku sudah janji
tidak akan menyetubuhinya lagi. Mestikah janji ini kuingkari? Apa akal?
Bisakah tidak mengingkari janji tapi tetap dapat menyebadani Tante?
Benakku segera berputar, dan segera ingat kata-kata Tante tadi bahwa dia
paling mudah terangsang kalau dicium. Mengapa aku tidak menciumnya
saja? Bukankah mencium tidak sama dengan menyetubuhi?Ya, pelan tapi
pasti kusisipkan kaki kiri di bawah kaki kanan Tante, sedang kaki
kananku kumasukkan di antara kakinya sehingga keempat kaki kami saling
bertumpang tindih.
Aku tidak perduli zakarku yang sudah jadi tonggak keras melekat di
pahanya. Kurapatkan pelukan dan dekapanku ke tubuh Tante, wajahku
kudekatkan ke wajahnya dan perlahan bibirku kutautkan dengan
bibirnya.Lidahku kembali berupaya memasuki rongga mulutnya yang agak
menganga. Aku terus bertahan dengan posisi erotis ini sambil agak
menekan bagian belakang kepala Tante supaya pertautan bibir kami tidak
lepas. Dan usahaku ternyata tidak sia-sia. Setelah sekitar 30 menit
kemudian, tubuhku mulai pegal-pegal, kurasakan gerakan lidah Tante.
Serta merta gerakannya kubalas dengan jilatan lidah juga.
“Emm.. emm.. mm..” desis Tante sambil membelit lidahku.Kepalanya
kutekan makin kuat dan aku berusaha menyedot lidahnya hingga masuk ke
mulutku. Kukulum lidahnya dan kupermainkan dengan lidahku. Kusedot,
kusedot dan kusedot terus sampai Tante agak kesakitan, lalu
kubelit-belit lagi dengan lidahku. Ya, silat lidah ini berlangsung cukup
lama dan ketika tanpa sengaja pahaku menyenggol vagina tante, terasa
agak basah. Pasti Tante terangsang, pikirku. Tapi aku tidak mau memulai,
takut melanggar janji. Biar Tante saja yang aktif.Maka aku pun berusaha
menambah daya rangsang pada diri Tante. Pelan tangan kirinya kubimbing
untuk menggenggam zakarku. Meski mula-mula enggan, tapi lama kelamaan
digenggamnya juga ‘garuda perkasa’-ku. Bahkan dipijit-pijit sehingga aku
pun menggelinjang keenakan.
“Shh.. shh..!” desisku sambil mengulum lidahnya.Tangan kananku,
setelah membimbing tangan kiri Tante menggenggam zakarku lalu meneruskan
perjalanannya ke celah paha Tante yang sudah basah. Kusibakkan
rambut-rambut tebal itu, mencari celah-celah lalu menyisipkan jari
telunjuk dan tengahku di situ. Kugerakkan ke keluar-masuk dan Tante
mendesis-desis, genggamannya di zakarku terasa mengeras. Aku tidak tahan
lagi.“Masukin ya, Tante?” bisikku, lupa pada janjiku.
“Ja.. jangan, Ron..!”
“Ak.. aku nggak tahan lagi, Tante..!” pintaku.
“Di.. dijepit paha saja ya, Ron..?”
Tanpa kusuruh, Tante lalu telentang dan mengangkangkan pahanya. Pelan
aku menaikinya. Tante membimbing zakarku di antara pahanya sekitar
sejengkal di bawah vagina, lalu menjepitnya. Ia menggerak-gerakkan
pahanya sehingga zakarku terpelintir-pelintir nikmat sekali.Payudara
besar Tante menekan dadaku juga. Tangan kiriku mengutil-ngutil puting
kanannya. Ciuman ke bibirnya kulanjutkan lagi, jemari tangan kananku
juga terus berupaya memasuki vagina Tante dan mengocoknya.
“Heshh.. heshh.. Ron.. mm..,” Tante sulit bicara karena mulutnya masih kukulum.
“Tanganmu.. Ron..!” tangan kanan Tante berusaha menghentikan kegiatan
tangan kiriku di putingnya, sedang tangan kanannya berusaha menghentikan
kegiatan jemari kananku di vaginanya.Dipegangnya jemariku. Aku hentikan
gerakan, tapi tiga jari tetap terendam di vagina basah itu dan
kukutil-kutil kecil. Sampai Tante tidak tahan dan mengangkangkan sedikit
pahanya hingga jepitan pada zakarku terlepas. Cepat kutarik jemariku
dari situ dan kunaikkan sedikit tubuhku sehingga sekarang ganti zakarku
berada di pintu gerbang nikmat itu. Kepalanya malah sudah menyeruak
masuk.“Hshh.. Ron, jangan dimasukkan..!” Tante buru-buru memegang
zakarku, digenggamnya.
“Tapi aku sudah nggak tahan Tante..” desisku.
“Cukup kepalanya saja, Ron.. dan jangan dikocok..!” Tante memperketat
genggamannya, sementara aku semakin memperderas tekanan ke vaginanya.
“Ii.. ingat janjimu, Ron..!”
“Ta.. tapi Tante juga ingin kan?” tanyaku polos.
“Ii.. iya sih, Ron. Tante juga sudah nggak tahan. Tapi ini zinah namanya.”
“Apa kalau tidak dimasukkan bukan zinah, Tante?” tanyaku bloon.
“Bu.. bukan, Ron. Asal burungmu tidak masuk ke vagina Tante, bukan zinah..” aku jadi bingung.
Terus terang tidak mengerti definisi zinah menurut Tante ini.“Kalau
begitu, apa Tante punya jalan keluar? Kita sudah sama-sama terangsang
berat. Tapi kita nggak mau berzinah.”
“Egh.. gini aja Ron. Tante akan.. ugh.. mengulum punyamu. Turunlah sebentar..!”
Dan aku pun menurut, turun dari atas Tante dan telentang.
Tante bangkit lalu memutar badannya dan mengangkangiku. Mulutnya ada
di atas zakarku dan vaginanya di atas wajahku. Kurasakan ia mulai
menggenggam dan mengulum ‘garuda perkasa’-ku. Dikulum dan digerakkan
naik turun di mulutnya.Shiit.. hsshh.. nikmat sekali. Jemariku segera
menangkap pinggulnya yang bergerak maju mundur dan segera kuselipkan
empat jari kanan ke vaginanya. Kugerakkan cepat, malah agak kasar,
keluar masuk sampai basah semua.
“Ugh.. uughh.. uagh.. Ron..! Ron, Tante mau keluar, mm.. mm..” Tante terus mengulum sambil meracau.
Sekejap kemudian tubuhnya berhenti bergerak, lalu pinggul yang kupegangi
terasa berkejat-kejat. Kemudian cairan hangat membanjiri tanganku dan
sebagian menetesi dadaku. Kurasakan cairan itu seperti air maniku hanya
lebih encer dan bening.Tante kemudian terkapar kelelahan di atasku
dengan posisi mulutnya tetap mengulum zakarku sambil mengocoknya. Tidak
berapa lama, aku pun merasa mau keluar.
“Egh.. egh.. Tante. Aku mau keluar..!” Tante malah mempercepat kocokannya dan memperdalam kulumannya. Agen Obat Kuat
Aku berkejat dan muncrat memasuki mulut Tante dan ditelannya, semuanya
habis ditampung mulut Tante. Akhirnya aku pun lemas dan ikut menggelepar
kelelahan.Tangan-kakiku terkapar lemas ke kiri-kanan. Tante juga
terkapar kelelahan namun mulutnya masih terus menjilati zakarku sampai
bersih, barulah kemudian dia berbalik dan memelukku. Wajah kami
berhadapan, mata Tante merem-melek.“Kalau yang barusan ini bukan zinah
tante?” tanyaku lagi.
“Bukan, Ron.. karena kamu tidak memasukkan burungmu ke vagina Tante.” jawabnya sambil mata memejam.
Aku tidak tahu apakah jawabnya itu benar atau salah. Namun, setelah
kupikir-pikir, aku lalu bertanya lagi, “Jadi kalau begitu, boleh dong
kita melakukan lagi seperti yang barusan ini, Tante?”
“He-eh..” jawabnya sambil terkantuk-kantuk kemudian dengkur kecilnya
mulai terdengar lagi.Jam enam pagi waktu itu. Aku pun segera menebarkan
selimut lagi di atas tubuh polos kami dan memeluknya dengan ketat.
Rasanya aku tidak mau melepaskan tubuh Tante walau sekejap pun. Persetan
dengan pekerjaan, persetan dengan kuliah. Sengaja aku juga tidak
mengingatkan Tante akan pekerjaan kami. Aku malah berharap menginap lagi
semalam, biar ada kesempatan bersebadan dengan Tante lebih lama lagi.
Sepanjang hari ini aku mau bercumbu terus dengan Tante, sampai spermaku
keluar sepuluh kali lagi! Begitu angan-angan jorokku.Ya, akhirnya memang
kami hari itu tidak keluar kamar dan memperpanjang menginap sehari
lagi.
Selama di dalam kamar, di atas ranjang, kami tidak pernah mengenakan
pakaian barang selembar pun. Hampir setiap tiga jam sekali aku dan Tante
sama-sama mengalami orgasme, meskipun hanya pakai bantuan tangan atau
mulut dan lidah.Jam delapan pagi, sebelas, dua siang, lima sore, delapan
malam, sebelas malam, dua pagi, lima pagi dan delapan paginya lagi kami
selalu terkejat-kejat dan orgasme hampir bersamaan. Selama itu memang
Tante masih selalu ingat untuk menolakku yang ingin memasukkan penisku
ke vaginanya, dan aku pun menurutinya.Namun, akhirnya Tante terlena dan
aku pun bebas memasukkan penisku ke vaginanya. Tentunya setelah kami
pulang dari perjalanan bisnis berkesan itu, dan kembali pulang ke rumah.
Kesempatan itu terbuka lebar karena memang aku suka tinggal di
rumahnya.
Komentar
Posting Komentar