Pada pembahasan cerita sex kali ini kita akan membahas tentang salah
satu narasumber bernama Deni,dia adalah seorang laki laki masih
bujangan berumur 28 tahun yang saat ini sedang kebingungan.
Pasalnya, panggilan pekerjaan dari sebuah perusahaan dimana dia
melamar begitu mendadak. Dia bingung bagaimana harus mencari tempat
tinggal secepat ini. Perusahaan dimana dia melamar terletak di luar
kota, jangka waktu panggilan itu selama empat hari, dimana dia harus
melakukan tes wawancara. Akhirnya dia memaksa berangkat besoknya, dengan
tujuan penginapanlah dimana dia harus tinggal. Dengan bekal yang cukup
malah berlebih mungkin, sampailah dia di penginapan dimana perusahaan
yang dia lamar terletak di kota itu juga.
Sudah 2 hari ini dia tinggal di penginapan itu, selama ini dia sudah
mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan guna kelancaran dalam tes
wawancara nanti. Sampai pada akhirnya, dia membaca di surat kabar, bahwa
disitu tertulis menerima kos-kosan atau tempat tinggal yang permanen.
Kemudian dengan bergegas dia mendatangi alamat tersebut. Sampai pada
akhirnya, sampailah dia di depan pintu rumah yang dimaksud itu.
Perlahan Deni mengetuk pintu, tidak lama kemudian terdengar suara kunci terbuka diikuti dengan seorang wanita tua yang muncul.
“Iya, ada perlu apa, Pak..?”
“Oh, begini.., tadi saya membaca surat kabar, disitu tertulis bahwa di
rumah ini menyediakan kamar untuk tempat tinggal.” sahut Deni seketika.
“Oh, ya, memang benar, silakan masuk Pak, biar saya memanggil nyonya dulu,” wanita tua itu mempersilakan Deni masuk.
“Hm.., baik, terima kasih.”
Sejenak kemudian Deni sudah duduk di kursi ruang tamu.
Terlihat sekali keadaan ruang tamu yang sejuk dan asri. Deni
memperhatikan sambil melamun. Tiba-tiba Deni dikejutkan oleh suara
wanita yang masuk ke ruang tamu.
“Selamat siang, ada yang perlu saya bantu..?”
Terhenyak Deni dibuatnya, di depan dia sekarang berdiri seorang wanita
yang boleh dikatakan belum terlalu tua, umurnya sekitar 40 tahunan,
cantik, anggun dan berwibawa.
“Oh.., eh.. selamat siang,” Deni tergagap kemudian dia melanjutkan, “Begini Bu…”
“Panggil saya Bu Siska..,” tukas wanita itu menyahut.
“Hm.., o ya, Bu Siska, tadi saya membaca surat kabar yang tertulis bahwa disini ada kamar untuk disewakan.”
“Oh, ya. Hm.., siapa nama anda..?”
“Deni Bu,” sahut Deni seketika.
“Memang benar disini ada kamar disewakan, perlu diketahui oleh Nak Deni
bahwa di rumah ini hanya ada tiga orang, yaitu, saya, anak saya yang
masih SMA dan pembantu wanita yang tadi bicara sama Nak Deni, kami
memang menyediakan satu kamar kosong untuk disewakan, selain agar kamar
itu tidak kotor juga rumah ini biar tambah ramai penghuninya.” dengan
singkat Bu Siska menjelaskan semuanya.
“Hm, suami Ibu..?” tanya Deni singkat.
“Oh ya, saya dan suami saya sudah bercerai satu tahun yang lalu,” jawab Bu Siska singkat.
“Ooo, begitu ya, untuk masalah biayanya, berapa sewanya..?” tanya Deni kemudian.
“Hm, begini, Nak Deni mau mengambil berapa bulan, biaya sewa sebulannya tujuh puluh ribu rupiah,” jawab Bu Siska menerangkan.
“Baiklah Bu Siska, saya akan mengambil sewa untuk enam bulan,” kata Deni.
“Oke, tunggu sebentar, Ibu akan mengambil kuitansinya.”
Akhirnya setelah mengemasi barang-barang di penginapan, tinggallah Deni
disitu dengan Bu Siska, Ida anak Bu Siska dan Bik Sumi pembantu Bu
Siska.
Sudah satu bulan ini Deni tinggal sambil menunggu panggilan
selanjutnya. Dan sudah satu bulan ini pula Deni punya keinginan yang
aneh terhadap Bu Siska. Wanita yang anggun, cantik dan berwibawa yang
cukup lama hidup sendirian. Deni tidak dapat membayangkan bagaimana
mungkin wanita yang masih kelihatan muda dari segi fisiknya itu dapat
betah hidup sendirian. Bagaimana Bu Siska menyalurkan hasrat seksualnya.
Ingin sekali Deni bercinta dengan Bu Siska. Apalagi sering Deni melihat
Bu Siska memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh Bu
Siska yang masih kelihatan kencang dan indah. Ingin sekali Deni
menyentuhnya.
“Aku harus bisa mendapatkannya..!” gumam Deni suatu saat.
“Saya harus mencari cara,” gumamnya lagi.
Sampai pada suatu saat kemudian, yaitu pada saat malam Minggu, rumah
kelihatan sepi, maklum saja, Ida anak Bu Siska tidur di tempat neneknya,
Bik Sumi balik ke kampung selama dua hari, katanya ada anaknya yang
sakit. Tinggallah Deni dan Bu Siska sendirian di rumah. Tapi Deni sudah
mempersiapkan cara bagaimana melampiaskan hasratnya terhadap Bu Siska.
Lama Deni di kamar, jam menunjukkan pukul delapan malam, dia melihat Bu
Siska menonton TV di ruang tengah sendirian. Akhirnya setelah mantap,
Deni pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang tengah.
“Selamat malam, Bu, boleh saya temani..?” sejenak Deni berbasa-basi.
“Oh, silakan Nak Deni..,” mempersilakan Bu Siska kepada Deni.
“Ngomong-ngomong, tidak keluar nih Nak Deni, malam Minggu loh, masa di rumah terus, apa tidak bosan..?” tanya Bu Siska kemudian.
“Ah, nggak Bu, lagian keluar kemana, biasanya juga malam Minggu di rumah saja,” jawab Deni sekenanya.
Lama mereka berdua terdiam sambil menikmati acara TV.
Tidak lama kemudian Deni sudah kembali sambil membawa nampan berisi dua teh dan sedikit makanan kecil di piring.
“Silakan Bu, diminum, mumpung masih hangat..!”
“Terima kasih, Nak Deni.”
Akhirnya setelah sekian lama terdiam lagi, terlihat Bu Siska sudah mulai
mengantuk, tidak lama kemudian Bu Siska sudah tertidur di kursi dengan
keadaan memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh dan
payudaranya yang indah. Tersenyum Deni melihatnya.
“Akhirnya aku berhasil, ternyata obat tidur yang kubeli di apotik
siang tadi benar-benar manjur, obat ini akan bekerja untuk beberapa saat
kemudian,” gumam Deni penuh kemenangan.
“Beruntung sekali tadi Bu Siska mau kubuatkan teh, sehingga obat tidur
itu dapat kucampur dengan teh yang diminum Bu Siska,” gumamnya sekali
lagi.
Sejenak Deni memperhatikan Bu Siska, tubuh yang pasrah yang siap
dipermainkan oleh lelaki manapun. Timbul gejolak kelelakian Deni yang
normal tatkala melihat tubuh indah yang tergolek lemah itu.
Diremas-remasnya dengan lembut payudara yang montok itu bergantian kanan
kiri sambil tangan yang satunya bergerilnya menyentuh paha sampai ke
ujung paha. Terdengar desahan perlahan dari mulut Bu Siska, spontan Deni
menarik kedua tangannya.
“Mengapa harus gugup, Bu Siska sudah terpengaruh obat tidur itu sampai beberapa saat nanti,” gumam Deni dalam hati.
Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Deni kemudian membopong tubuh Bu
Siska memasuki kamar Deni sendiri. Digeletakkan dengan perlahan tubuh
yang indah di atas tempat tidur, sesaat kemudian Deni sudah mengunci
kamar, lalu mengeluarkan tali yang memang sengaja dia simpan siang tadi
di laci mejanya.
Tidak lama kemudian Deni sudah mengikat kedua tangan Bu Siska di atas
tempat tidur. Melihat keadaan tubuh Bu Siska yang telentang itu, tidak
sabar Deni untuk melampiaskan hasratnya terhadap Bu Siska.
“Malam ini aku akan menikmati tubuhmu yang indah itu Bu Siska,” kata Deni dalam hati.
Satu-persatu Deni melepaskan apa saja yang dipakai oleh Bu Siska.
Perlahan-lahan, mulai dari daster, BH, kemudian celana dalam, sampai
akhirnya setelah semua terlepas, Deni menyingkirkannya ke lantai.
Terlihat sekali sekarang Bu Siska sudah dalam keadaan polos, telanjang
bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Diamati oleh Deni
mulai dari wajah yang cantik, payudara yang montok menyembul indah,
perut yang ramping, dan terakhir paha yang mulus dan putih dengan
gundukan daging di pangkal paha yang tertutup oleh rimbunnya rambut.
Sesaat kemudian Deni sudah menciumi tubuh Bu Siska mulai dari kaki,
pelan-pelan naik ke paha, kemudian berlanjut ke perut dan terakhir
ciuman Deni mendarat di payudara Bu Siska. Sesekali terdengar desahan
kecil dari mulut Bu Siska, tapi Deni tidak memperdulikannya. Diciumi dan
diremas-remas kedua payudara yang indah itu dengan mulut dan kedua
tangan Deni. Puting merah jambu yang menonjol indah itu juga tidak lepas
dari serangan-serangan Deni. Dikulum-kulum kedua puting itu dengan
mulutnya dengan perasaan dan gairah birahi yang sudah memuncak. Setelah
puas Deni melakukan itu semua, perlahan-lahan dia bangkit dari tempat
tidur.
Satu-persatu Deni melepas pakaian yang melekat di badannya, akhirnya
keadaan Deni sudah tidak beda dengan keadaan Bu Siska, telanjang bulat,
polos, tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Terlihat
kemaluan Deni yang sudah mengencang hebat siap dihunjamkan ke dalam
vagina Bu Siska. Tersenyum Deni melihat rudalnya yang panjang dan besar,
bangga sekali dia mempunyai rudal dengan bentuk begitu.
Perlahan-lahan Deni kembali naik ke tempat tidur dengan posisi
telungkup menindih tubuh Bu Siska yang telanjang itu, kemudian dia
memegang rudalnya dan pelan-pelan memasukkannya ke dalam vagina Bu
Siska. Deni merasakan vagina yang masih rapat karena sudah setahun tidak
pernah tersentuh oleh laki-laki. Akhirnya setelah sekian lama, rudal
Deni sudah masuk semuanya ke dalam vagina Bu Siska.
Ketika Deni menghunjamkan rudalnya ke dalam vagina Bu Siska sampai masuk
semua, terdengar rintihan kecil Bu Siska, “Ah.., ah.., ah..!”
Tapi Deni tidak menghiraukannya, dia lalu menggerakkan kedua pantatnya maju munjur dengan teratur, pelan-pelan tapi pasti.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar setiap kali ketika Deni melakukan
aktivitasnya itu, diikuti dengan bunyi tempat tidur yang berderit-derit.
“Uh.., oh.., uh.., oh..,” sesekali Deni mengeluh kecil, sambil
tangannya terus meremas-remas kedua payudara Bu Siska yang montok itu.
Lama Deni melakukan aktivitasnya itu, dirasakannya betapa masih
kencangnya dan rapatnya vagina Bu Siska. Akhirnya Deni merasakan
tubuhnya mengejang hebat, merapatkan rudalnya semakin dalam ke vagina Bu
Siska.
“Ser.., ser.., ser..,” Deni merasakan cairan yang keluar dari ujung kemaluannya mengalir ke dalam vagina Bu Siska.
“Oh.. ah.. oh.. Bu Siska.., oh..!” terdengar keluhan panjang dari mulut Deni.
Setelah itu Deni merasakan tubuhnya yang lelah sekali, kemudian dia
membaringkan tubuhnya di samping tubuh Bu Siska dengan posisi memeluk
tubuh Bu Siska yang telah dinikmatinya itu.
Lama Deni dalam posisi itu sampai pada akhirnya dia dikejutkan oleh
gerakan tubuh Bu Siska yang sudah mulai siuman. Secara reflek, Deni
bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah saklar lampu dan
mematikannya. Tertegun Deni berdiri di samping tempat tidur dalam kamar
yang sudah dalam keadaan gelap gulita itu. Sesaat kemudian terdengar
suara Bu Siska.
“Oh, dimana aku, mengapa gelap sekali..?”
Sebentar kemudian suasana menjadi hening.
“Dan, mengapa tanganku diikat, dan, oh.., tubuhku juga telanjang, kemana
pakaianku, apa yang terjadi..?” terdengar suara Bu Siska pelan dan
serak.
Suasana hening agak lama. Deni tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia diam saja.
Terdengar lagi suara Bu Siska mengeluh, “Oh.., tolonglah aku..! Apa yang
terjadi padaku, mengapa aku bisa dalam keadaan begini, siapa yang
melakukan ini terhadapku..?” keluh Bu Siska.
Akhirnya timbul kejantanan dalam diri Deni, bagaimanapun setelah apa
yang dia lakukan terhadap Bu Siska, Deni harus berterus terang
mengatakannya semuanya.
“Ini saya..,” gumam Deni lirih.
“Siapa, kamukah Yodi..? Mengapa kamu kembali lagi padaku..?” sahut Bu Siska agak keras.
“Bukan, ini saya Bu.., Deni..,” Deni berterus terang.
“Deni..!” kaget Bu Siska mendengarnya.
“Apa yang kamu lakukan pada Ibu, Deni..? Bicaralah..! Mengapa Ibu kamu perlakukan seperti ini..?” tanya Bu Siska kemudian.
Kemudian Deni bercerita mulai dari awal sampai akhir, bagaimana
mula-mula dia tertarik pada Bu Siska, sampai pada keheranannya bagaimana
juga Bu Siska dapat hidup sendiri selama setahun tanpa ada laki-laki
yang dapat memuaskan hasrat birahi Bu Siska. Juga tidak lupa Deni
menceritakan semua yang dia lakukan terhadap Bu Siska selama Bu Siska
tidak sadar karena pengaruh obat tidur. Tertegun Bu Siska mendengar
semua perkataan Deni. Lama mereka terdiam, tapi terdengar Bu Siska
bicara lagi.
“Deni.., Deni.., Ibu memang menginginkan laki-laki yang bisa
memuaskan hasrat birahi Ibu, tapi bukan begini caranya, mengapa kamu
tidak berterus-terang pada Ibu sejak dulu, kalaupun kamu berterus terang
meminta kepada Ibu, pasti Ibu akan memberikannya kepadamu, karena Ibu
juga merasakan bagaimana tidak enaknya hidup sendiri tanpa laki-laki.”
“Terus terang saya malu Bu, saya malu kalau Ibu menolak saya.”
“Tapi setidaknya kan, berterus terang itu lebih sopan dan terhormat daripada harus memperlakukan Ibu seperti ini.”
“Saya tahu Bu, saya salah, saya siap menerima sanksi apapun, saya siap diusir dari rumah ini atau apa saja.”
“Oh, tidak Deni, bagaimanapun kamu telah melakukannya semua terhadap
Ibu. Sekarang Ibu tidak lagi terpengaruh oleh obat tidur itu lagi, Ibu
ingin kamu melakukannya lagi terhadap Ibu apa yang kamu perbuat tadi,
Ibu juga menginginkannya Deni tidak hanya kamu saja.”
“Benar Bu..?” tanya Deni kaget.
“Benar Deni, sekarang nyalakanlah lampunya, biar Ibu bisa melihatmu seutuhnya,” pinta Bu Siska kemudian.
Tanpa pikir panjang lagi, Deni segera menyalakan lampu yang sejak
tadi padam. Sekarang terlihatlah kedua tubuh mereka yang sama-sama
polos, dan telanjang bulat dengan posisi Bu Siska terikat tangannya.
“Oh Deni, tubuhmu begitu atletis. Kemarilah, nikmatilah tubuh Ibu, Ibu
menginginkannya Deni..! Ibu ingin kamu memuaskan hasrat birahi Ibu yang
selama ini Ibu pendam, Ibu ingin malam ini Ibu benar-benar terpuaskan.”
Perlahan Deni mendekati Bu Siska, diperhatikan wajah yang tambah
cantik itu karena memang kondisi Bu Siska yang sudah tersadar, beda
dengan tadi ketika Bu Siska masih tidak sadarkan diri. Diusap-usapnya
dengan lembut tubuh Bu Siska yang polos dan indah itu, mulai dari paha,
perut, sampai payudara. Terdengar suara Bu Siska menggelinjang keenakan.
“Terus.., Deni.., ah.. terus..!” terlihat tubuh Bu Siska bergerak-gerak dengan lembut mengikuti sentuhan tangan Deni.
“Tapi, Deni, Ibu tidak ingin dalam keadaan begini, Ibu ingin kamu
melepas tali pengikat tangan Ibu, biar Ibu bisa menyentuh tubuhmu
juga..!” pinta Ibu Siska memelas.
“Baiklah Bu.”
Sedetik kemudian Deni sudah melepaskan ikatan tali di tangan Bu
Siska. Setelah itu Deni duduk di pinggir tempat tidur sambil kedua
tangannya terus mengusap-usap dan meremas-remas perut dan payudara Bu
Siska.
“Nah, begini kan enak..,” kata Bu Siska.
Sesaat kemudian ganti tangan Bu Siska yang meremas-remas dan menarik
maju mundur kemaluan Deni, tidak lama kemudian kemaluan Deni yang
diremas-remas oleh Bu Siska mulai mengencang dan mengeras. Benar-benar
hebat si Deni ini, dimana tadi kemaluannya sudah terpakai sekarang
mengeras lagi. Benar-benar hyper dia.
“Oh.., Deni, kemaluanmu begitu keras dan kencang, begitu panjang dan
besar, ingin Ibu memasukkannya ke dalam vagina Ibu.” kata Bu Siska lirih
sambil terus mempermainkan kemaluan Deni yang sudah membesar itu.
Diperlakukan sedemikian rupa, Deni hanya dapat mendesah-desah menahan keenakan.
“Bu Siska, oh Bu Siska, terus Bu Siska..!” pinta Deni memelas.
Semakin hebat permainan seks yang mereka lakukan berdua, semakin hot,
terdengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan kecil yang keluar dari
mulut mereka berdua.
“Oh Deni, naiklah ke atas tempat tidur, naiklah ke atas tubuhku,
luapkan hasratmu, puaskan diriku, berikanlah kenikmatanmu pada Ibu..!
Ibu sudah tak tahan lagi, ibu sudah tak sabar lagi..” desis Bu Siska
memelas dan memohon.
Sesaat kemudian Deni sudah naik ke atas tempat tidur, langsung menindih
tubuh Bu Siska yang telanjang itu, sambil terus menciumi dan
meremas-remas payudara Bu Siska yang indah itu.
“Oh, ah, oh, ah.., Deni oh..!” tidak ada kata yang lain yang dapat
diucapkan Bu Siska yang selain merintih dan mendesah-desah, begitu juga
dengan Deni yang hanya dapat mendesis dan mendesah, sambil
menggosok-gosokkan kemaluannya di atas permukaan vagina Bu Siska. Reflek
Bu Siska memeluk erat-erat tubuh Deni sambil sesekali mengusap-usap
punggung Deni.
Sampai suatu ketika, tangan Bu Siska memegang kemaluan Deni dan
memasukkannya ke dalam vaginanya. Pelan dan pasti Deni mulai memasukkan
kemaluannya ke dalam vagina Bu Siska, sambil kedua kakinya bergerak
menggeser kedua kaki Bu Siska agar merenggang dan tidak merapat, lalu
menjepit kedua kaki Bu Siska dengan kedua kakinya untuk terus telentang.
Akhirnya setelah sekian lama berusaha, karena memang tadi Deni sudah
memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Siska, sekarang agak gampang
Deni menembusnya, Deni sudah berhasil memasukkan seluruh batang
kemaluannya ke dalam vagina Bu Siska.
Kemudian dengan reflek Deni menggerakkan kedua pantatnya maju mundur
teru-menerus sambil menghunjamkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Siska.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar ketika Deni melakukan aktivitasnya itu.
Terlihat tubuh Bu Siska bergerak menggelinjang keenakan sambil terus
menggoyang-goyangkan pantatnya mengikuti irama gerakan pantat Deni.
“Ah.., ah.., oh.. Deni.., jangan lepaskan, teruskan, teruskan, jangan
berhenti Deni, oh.., oh..!” terdengar rintihan dan desahan nafas Bu
Siska yang keenakan.
Lama Deni melakukan aktivirasnya itu, menarik dan memasukkan kemaluannya
terus-menerus ke dalam vagina Bu Siska. Sambil mulutnya terus menciumi
dan mengulum kedua puting payudara Bu Siska.
“Oh.., ah.. Bu Siska, oh.., kamu memang cantik Bu Siska, akan
kulakukan apa saja untuk bisa memuaskan hasrat birahimu, ih.., oh..!”
desis Deni keenakan.
“Oh.., Deni.., bahagiakanlah Ibu malam ini dan seterusnya, oh Deni.., Ibu sudah tak tahan lagi, oh.., ah..!”
Semakin cepat gerakan Deni menarik dan memasukkan kemaluannya ke dalam
vagina Bu Siska, semakin hebat pula goyangan pantat Bu Siska mengikuti
irama permainan Deni, sambil tubuhnya terus menggelinjang bergerak-gerak
tidak beraturan.
Semakin panas permainan seks mereka berdua, sampai akhirnya Bu Siska
merintih, “Oh.., ah.., Deni.., Ibu sudah tak tahan lagi, Ibu sudah tak
kuat lagi, Ibu mau keluar, oh Deni.., kamu memang perkasa..!”
“Keluarkan Bu..! Keluarkanlah..! Puaskan diri Ibu..! Puaskan hasrat Ibu sampai ke puncaknya..!” desis Deni menimpali.
“Mari kita keluarkan bersama-sama Bu Siska..! Oh, aku juga sudah tak tahan lagi,” desis Deni kemudian.
Setelah berkata begitu, Deni menambah genjotannya terhadap Bu Siska,
terus-menerus tanpa henti, semakin cepat, semakin panas, terlihat sekali
kedua tubuh yang basah oleh keringat dan telanjang itu menyatu begitu
serasi dengan posisi tubuh Deni menindih tubuh Bu Siska.
Sampai akhirnya Deni merasakan tubuhnya mengejang hebat, begitu pula
dengan tubuh Bu Siska. Keduanya saling merapatkan tubuhnya masing-masing
lebih dalam, seakan-akan tidak ada yang memisahkannya.
“Ser.., ser.., ser..!” terasa keluar cairan kenikmatan keluar dari ujung
kemaluan Deni mengalir ke dalam vagina Bu Siska, begitu nikmat
seakan-akan seperti terbang ke langit ke tujuh, begitu pula dengan tubuh
Bu Siska seakan-akan melayang-layang tanpa henti di udara menikmati
kepuasan yang diberikan oleh Deni.
Sampai akhirnya mereka berdua berhenti karena merasa kelelahan yang amat sangat setelah bercinta begitu hebat.
Sejenak kemudian, masih dengan posisi yang saling menindih, terpancar senyum kepuasan dari mulut Bu Siska.
“Deni, terima kasih atas apa yang telah kau berikan pada Ibu..,” kata Bu Siska sambil tangannya mengelus-elus rambut Deni.
“Sama-sama Bu, aku juga puas karena sudah membuat Ibu berhasil memuaskan
hasrat birahi Ibu,” sahut Deni dengan posisi menyandarkan kepalanya di
atas dada Bu Siska.
Suasana yang begitu mesra.
“Selama disini, mulai malam ini dan seterusnya, Ibu ingin kamu selalu memberi kepuasan birahi Ibu..!” pinta Ibu Siska.
“Saya berjanji Bu, saya akan selalu memberikan yang terbaik bagi Ibu..,” kata Deni kemudian.
“Ah, kamu bisa saja,” tersungging senyum di bibir Bu Siska.
“Tapi, ngomong-ngomong bagaimana dengan Ida dan Bik Sumi..?” tanya Deni.
“Lho, kita kan bisa mencari waktu yang tepat. Disaat Ida berangkat
sekolah juga bisa, dan Bik Sumi di dapur. Di saat keduanya tidur pun
kita bisa melakukannya. Pokoknya setiap saat dan setiap waktu..!” jawab
Bu Siska manja sambil tangannya mengusap-usap punggung Deni.
Sejenak Deni memandang wajah Bu Siska, sesaat kemudian keduanya
sama-sama tertawa kecil. Akhirnya apa yang mereka pendam berdua
terlampiaskan sudah. Sambil dengan keadaan yang masih telanjang dan
posisi saling merangkul mesra, mereka akhirnya tertidur kelelahan.
Komentar
Posting Komentar