PRAGMATIC189 - Namaku Karina, usiaku 17 tahun dan aku adalah anak kedua dari pasangan
Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi sekitar 168 cm dan berat 50 kg.
Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B. Dalam keluargaku, semua
wanitanya rata-rata berbadan seperti aku, sehingga tidak seperti
gadis-gadis lain yang mendambakan tubuh yang indah sampai rela berdiet
ketat. Di keluarga kami justru makan apapun tetap segini-segini saja.
Suatu sore dalam perjalanan pulang sehabis latihan cheers di sekolah,
aku disuruh ayah mengantarkan surat-surat penting ke rumah temannya
yang biasa dipanggil Om Robert. Kebetulan rumahnya memang melewati rumah
kami karena letaknya di kompleks yang sama di perumahan elit selatan
Jakarta.
Om Robert ini walau usianya sudah di akhir kepala 4, namun wajah dan
gayanya masih seperti anak muda. Dari dulu diam-diam aku sedikit naksir
padanya. Habis selain ganteng dan rambutnya sedikit beruban, badannya
juga tinggi tegap dan hobinya berenang serta tenis. Ayah kenal dengannya
sejak semasa kuliah dulu, oleh sebab itu kami lumayan dekat dengan
keluarganya.
Kedua anaknya sedang kuliah di Amerika, sedang istrinya aktif di
kegiatan sosial dan sering pergi ke pesta-pesta. Ibu sering diajak oleh
si Tante Mela, istri Om Robert ini, namun ibu selalu menolak karena dia
lebih senang di rumah.
Dengan diantar supir, aku sampai juga di rumahnya Om Robert yang dari
luar terlihat sederhana namun di dalam ada kolam renang dan kebun yang
luas. Sejak kecil aku sudah sering ke sini, namun baru kali ini aku
datang sendiri tanpa ayah atau ibuku. Masih dengan seragam cheers-ku
yang terdiri dari rok lipit warna biru yang panjangnya belasan centi
diatas paha, dan kaos ketat tanpa lengan warna putih, aku memencet bel
pintu rumahnya sambil membawa amplop besar titipan ayahku.
Ayah memang sedang ada bisnis dengan Om Robert yang pengusaha kayu,
maka akhir-akhir ini mereka giat saling mengontak satu sama lain. Karena
ayah ada rapat yang tidak dapat ditunda, maka suratnya tidak dapat dia
berikan sendiri.
Seorang pembantu wanita yang sudah lumayan tua keluar dari dalam dan
membukakan pintu untukku. Sementara itu kusuruh supirku menungguku di
luar.
Ketika memasuki ruang tamu, si pembantu berkata, “Tuan sedang berenang,
Non. Tunggu saja di sini biar saya beritahu Tuan kalau Non sudah
datang.”
“Makasih, Bi.” jawabku sambil duduk di sofa yang empuk.
Sudah 10 menit lebih menunggu, si bibi tidak muncul-muncul juga,
begitu pula dengan Om Robert. Karena bosan, aku jalan-jalan dan sampai
di pintu yang ternyata menghubungkan rumah itu dengan halaman belakang
dan kolam renangnya yang lumayan besar. Kubuka pintunya dan di tepi
kolam kulihat Om Robert yang sedang berdiri dan mengeringkan tubuh
dengan handuk.
“Ooh..” pekikku dalam hati demi melihat tubuh atletisnya terutama
bulu-bulu dadanya yang lebat, dan tonjolan di antara kedua pahanya.
Wajahku agak memerah karena mendadak aku jadi horny, dan payudaraku
terasa gatal. Om Robert menoleh dan melihatku berdiri terpaku dengan
tatapan tolol, dia pun tertawa dan memanggilku untuk menghampirinya.
“Halo Karin, apa kabar kamu..?” sapa Om Robert hangat sambil memberikan sun di pipiku.
Aku pun balas sun dia walau kagok, “Oh, baik Om. Om sendiri apa kabar..?”
“Om baik-baik aja. Kamu baru pulang dari sekolah yah..?” tanya Om Robert sambil memandangku dari atas sampai ke bawah.
Tatapannya berhenti sebentar di dadaku yang membusung terbungkus kaos
ketat, sedangkan aku sendiri hanya dapat tersenyum melihat tonjolan di
celana renang Om Robert yang ketat itu mengeras.
“Iya Om, baru latihan cheers. Tante Mella mana Om..?” ujarku basa-basi.
“Tante Mella lagi ke Bali sama teman-temannya. Om ditinggal sendirian nih.” balas Om Robert sambil memasang kimono di tubuhnya.
“Ooh..” jawabku dengan nada sedikit kecewa karena tidak dapat melihat tubuh atletis Om Robert dengan leluasa lagi.
“Ke dapur yuk..!”
“Kamu mau minum apa Rin..?” tanya Om Robert ketika kami sampai di dapur.
“Air putih aja Om, biar awet muda.” jawabku asal.
Sambil menunggu Om Robert menuangkan air dingin ke gelas, aku pindah
duduk ke atas meja di tengah-tengah dapurnya yang luas karena tidak ada
bangku di dapurnya.
“Duduk di sini boleh yah Om..?” tanyaku sambil menyilangkan kaki kananku dan membiarkan paha putihku makin tinggi terlihat.
“Boleh kok Rin.” kata Om Robert sambil mendekatiku dengan membawa gelas berisi air dingin.
Namun entah karena pandangannya terpaku pada cara dudukku yang
menggoda itu atau memang beneran tidak sengaja, kakinya tersandung ujung
keset yang berada di lantai dan Om Robert pun limbung ke depan hingga
menumpahkan isi gelas tadi ke baju dan rokku.
“Aaah..!” pekikku kaget, sedang kedua tangan Om Robert langsung menggapai pahaku untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
“Aduh.., begimana sih..? Om nggak sengaja Rin. Maaf yah, baju kamu jadi
basah semua tuh. Dingin nggak airnya tadi..?” tanya Om Robert sambil
buru-buru mengambil lap dan menyeka rok dan kaosku.
Aku yang masih terkejut hanya diam mengamati tangan Om Robert yang
berada di atas dadaku dan matanya yang nampak berkonsentrasi menyeka
kaosku. Putingku tercetak semakin jelas di balik kaosku yang basah dan
hembusan napasku yang memburu menerpa wajah Om Robert.
“Om.. udah Om..!” kataku lirih.
Dia pun menoleh ke atas memandang wajahku dan bukannya menjauh malah
meletakkan kain lap tadi di sampingku dan mendekatkan kembali wajahnya
ke wajahku dan tersenyum sambil mengelus rambutku.
“Kamu cantik, Karin..” ujarnya lembut.
Aku jadi tertunduk malu tapi tangannya mengangkat daguku dan malahan
menciumku tepat di bibir. Aku refleks memejamkan mata dan Om Robert
kembali menciumku tapi sekarang lidahnya mencoba mendesak masuk ke dalam
mulutku. Aku ingin menolak rasanya, tapi dorongan dari dalam tidak
dapat berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundak
Om Robert, sedang tangannya sendiri meraba-raba pahaku dari dalam rokku
yang makin terangkat hingga terlihat jelas celana dalam dan
selangkanganku.
Ciumannya makin buas, dan kini Om Robert turun ke leher dan menciumku
di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Robert
dan membukanya. Tanganku menelusuri dadanya yang bidang dan bulu-bulunya
yang lebat, kemudian mengecupnya lembut. Sementara itu tangan Om Robert
juga tidak mau kalah bergerak mengelus celana dalamku dari luar,
kemudian ke atas lagi dan meremas payudaraku yang sudah gatal sedari
tadi.
Komentar
Posting Komentar