PRAGMATIC189 - Ini Ketika Aku mempunyai cewek yang bernama Devi yang bersekolah satu sekolah denganku dan juga satu desa dan bahkan satu RT denganku. Devi orangnya imut, juga manis. Payudara Devi berukuran 32b (memang serasi untuk ukuran tubuh Devi yang bertinggi 165 cm, jadi terlihat sexy).
Devi orangnya suka memakai BH yang membayang atau memakai baju/kaos yang transparan. Dia juga suka memakai celana pendek ketat sebatas paha sehingga menampakkan paha mulusnya itu. Ini adalah kisah semasa aku masih di SMP (sekarang aku kelas dua SMU). Perkenalkan dahulu namaku Ronny, aku bersekolah di SMP 3 Klaten. Aku orangnya manis (kata banyak temen temen cewekku) kayak bintang film India. Aku bertinggi badan 172 cm, berat badan 54 kg dan aku juga seorang model sehingga banyak cewek yang ingin menjadi pacarku. Cerita seks terbaru hanya ada di Lensa69.net.Ini pengalaman ML-ku dengannya yang begitu indah, unik, dan mengasyikkan. Begini awalnya, saat itu aku sedang di rumah sendirian pada sore hari (kebiasaanku kalau sore hari aku ditinggal berjualan oleh ibuku jadi aku sendirian di rumah sedangkan ayahku sudah meninggal sejak aku kelas 2 SMP). Saat itu aku sedang nonton TV sendirian (saat itu hari Minggu) Devi datang ke rumahku dan memintaku untuk menemaninya karena dia takut dirumah sendirian sebab ortunya pergi ke luar kota dan lusa baru pulang. Singkat cerita aku langsung menuju ke rumahnya.
Aku langsung melanjutkan menonton acara TV yang sempat tertunda tadi sedangkan Devi berganti baju di kamarnya. Karena hawanya dingin aku langsung menutup pintu depan rumah jadi dirumah hanya ada kami berdua. Saat itu Devi selesai berganti baju, saat dia keluar aku langsung menatap tak berkedip karena Devi memakai baju yang begitu sexy dan merangsang. Saat itu Devi hanya memakai tanktop putih transparan (sebenarnya itu kaos dalam yang dipakai untuk melapisi BH) tanpa memakai BH lagi di dalamnya sehingga payudaranya terlihat jelas di dalamnya dan bawahannya memakai rok kaos mini yang menampakkan keindahan pahanya. Jika ada cowok yang ada didekatnya pasti cowok itu akan menelan ludah dan langsung beronani takkan tahan dengan tubuh indah Devi. Aku yang disuguhi pemandangan indah itu hanya bisa melotot tak berkedip.
Devi langsung duduk disampingku dengan cueknya yang saat itu sedang terbengong. Dia langsung ikutan menonton TV.
“Hai Ron bengong aja”, tegurnya sambil mengibaskan tangannya.
“Eh.. nggak kok”, jawabku terbata bata.
Kami nonton TV sambil mengobrol berdua hingga pestanya habis. Kebetulan
di rumahnya ada CD jadi kami melanjutkan dengan menonton CD karena acara
TV-nya jadi membosankan. Kami menonton film yang baru dia sewa dari
rental yang berjudul “007 – The World Is Not Enough”. Kami menikmati
film itu berdua kebetulan di tengah film ada adegan ML yang dilakukan
oleh James Bond dengan seorang pemeran cewek. Kami langsung terdiam
memperhatikan adegan itu dengan penuh perhatian.
Tanganku langsung menggenggam tangan Devi yang berada diatas pahaku. Tanpa sadar aku sudah melumat bibir Devi yang kelihatan sayu (mungkin dia terangsang juga). Aku langsung menindih Devi sambil tetap berciuman. Kami bermain bibir dan lidah lama sampai tak terasa tanganku sudah berada di atas payudaranya yang masih ditutupi oleh tanktopnya. Aku masih mengelusnya saja takut dia akan marah tapi ternyata dia malah meremas tanganku yang ada di payudaranya sambil merintih.
“Ih.. mhh Ronny kok nikmat yah kamu elusin tadi”, katanya sambil meremas tanganku yang ada di susunya.
Aku diam saja sambil terus meremas payudaranya karena telah mendapat
“ijin”nya. Saat aku meremas remas payudaranya, dia meraba raba
punggungku, terus ke bawah hingga sampai di daerah pahaku. Saat tiba
didaerah pangkal pahaku tangannya berhenti dan meremas kontolku (aku
masih memakai celanaku lengkap) yang sudah sejak pertama melihat
penampilan Devi tadi telah ngaceng. Dia meremas remas terus.
“Akhh.. mhh terus sayang”, kataku sambil
meremas remas payudaranya keras keras karena rasa nikmatku di daerah
kontolku sehingga tak sadar aku meremas kuat kuat payudaranya sampai
sampai dia merintih kesakitan.
“Akkhh Ronny jangan keras keras, sakit tau”, katanya setengah marah. Aku
langsung minta maaf. Tangannya memasuki celana satinku (saat itu aku
memakai kaos oblong terus bawahnya memakai celana satin tipis dengan
celana dalam yang terbuat dari nilon tipis) dan langsung menggenggam
kontolku. Karena terasa mengganggu aku menyuruhnya melepas saja
celanaku.
“Devilepasin aja celanaku biar nggak ngganggu”, kataku sambil menurunkan
celanaku. Dia terus membantu dengan meloloskan celanaku sampai terlapas
hingga aku telanjang. Dan akupun mematikan TV karena suaranya
mengganggu.
Ronny kok besar banget”, katanya sambil memegang kontolku. Kontolku berukuran panjang 15 cm dengan diameter 3.5 cm.
“Iya Vi dan hitam lagi”, kataku sambil bercanda (kontolku memang hitam).
“Kocokin dong sayang”, kataku sambil menaik turunkan tangannya yang
berada di kontolku. Dia langsung mengocok kontolku dengan kasar, maklum
dia baru lihat kontol cowok jadi seperti mendapat mainan baru.
Kocokannya terasa kasar tetapi malah membuat sensasi nikmat tersendiri.
“Yang, kamu buka dong kaosmu biar aku
lihat payudaramu masa aku saja yang telanjang”, kataku sambil mengangkat
tanktopnya. Dia hanya tersenyum menggodaku. Aku langsung saja membuang
tanktopnya sembarangan.
“Yang, payudaramu indah banget sambil aku meremas remas payudaranya.”
“Kamu kocokin dong kontolku, nah.. teruss yang”, kataku keenakan ketika
dia melanjutkan kocokan di kontolku. Kami melakukan saling remas dengan
berdiri berhadapan di depan kursi panjang, tanganku bosan meremas
payudaranya langsung turun ke daerah pahanya dan mengelusi paha mulusnya
tapi dia masih mengocok kontolku sampai kontolku terasa sakit. Aku
menghentikan tangannya agar tidak menyakiti kontolku. Tangannya langsung
memelukku dan badan kami langsung menyatu. Aku terus mengelusi pahanya.
Hingga aku mendudukkan dia di kursi panjang.
“vi kamu duduk aja yah, aku mau ciumin
tempik (vagina) kamu”, kataku tanpa basa basi. Aku langsung menaikkan
roknya keatas tanpa melepasnya hingga terlihatlah celana dalamnya
berwarna merah jambu dengan gambar bunga bunga kecil merangsangku
semakin hebat saja. Aku langsung mencium tempiknya yang masih terbungkus
celana dalamnya menghirup wangi khas tempiknya (aku paling suka
mengintip celana dalam cewek kecil atau mini set, BH mini yang bergambar
lucu lucu). Aku lama lama memandangi daerah tempiknya yang masih
terbungkus dengan celana dalam bergambar bunga itu. Lalu tanganku pun
menurunkan celana dalamnya sampai terlepas hingga terlihat tempik sempit
nan indah dengan bulu tipis tipis. Sehingga tanpa sadar aku pun berkata
takjub.
“devv.. oh Devi kok semakin indah sih sayang, aku boleh menciumnya nggak sih?”, tanyaku sambil meraba tempik Devi.
“Iya sayang, cium dan, milikilah aku sudah nggak tahan”, kata Deviku menahan gairahnya.
Lalu akupun menciumnya perlahan lahan. Aku menciumnya dan tanganku yang
kanan naik meremas payudaranya yang sudah tak berpenutup itu. Lama lama
aku menjilati tempiknya dengan sedikit melumatnya kasar sehingga Devi
merintih rintih kenikmatan.
“Shh.. Ronnya.. ayo yang keras enak banget Ronny..”, rintihnya sambil
meremas remas rambutku dan menekan kepalaku ke tempiknya. Aku melepas
jilatanku pada tempiknya saat dia menikmati jilatanku dengan tiba tiba
hingga membuatnya terengah engah.
“Ron nya ayo kenapa kamu hentikan sayang”, katanya sambil terengah engah.
“Yang kamu jilatin juga dong kontolku”, kataku sambil menurunkan lepas kaos dan roknya yang mini itu.
“Gimana caranya”, tanyanya karena belum pernah.
“Pinggangku di atas kepalamu dan pinggangmu tepat di bawah mukaku jadi
seperti angka 69″, kataku karena aku ingin mempraktekkan gaya yang ada
di film BF.“Lalu kamu mengulum kontolku lalu aku menjilati tempikmu
sayang”, tambahku sambil mengatur posisiku di atas kepala Devi.
“Ih.. yang, geli”, katanya menggenggam kontolku.
“Iya sayang, kamu kulum itu”, kataku menyuruh Devi mengulum kontolku.
Lalu Devi mengulum kontolku dan akupun mulai menjilati tempiknya dengan
rakus karena kegelian.
“Mhh.. nghh..”, suaranya Devi merintih sambil mengulum batang kontolku.
“Shh.. mhh.. shh.. terus sayang”, kataku sambil kegelian dan jilatin
tempiknya. Kami melakukannya lama sekali hingga Devi sampai pada
puncaknya.
“Akhh say aku mau pipis..”, katanya sambil melepas kulumannya. Aku pun
tak mau melepas jilatanku malah semakin menjilat keras keras.
“Yanghh udahh.. enak yang”, ceracaunya tak jelas. Lalu.. crot.. crot..
crot.. crot. Empat kali air maninya menyembur hingga meleleh kepahanya
akupun menjilati tempiknya hingga bersih menikmati air maninya yang
rasanya melebihi air madu itu hingga ke pahanya.
“Shh udah sayang, geli tempikku kamu jilatin terus”, katanya mendorong mukaku menjauhi tempiknya yang indah itu.
“Yang kamu gantian dong ngemut aku”, kataku sambil menyodorkan kontolku.
Lalu Devi memegang kontolku dan menjilati kepalanya yang gundul. Lalu
Devi memasukkan ke mulutnya dan ngemut seperti ngemut permen saja hingga
aku mendesah desah keenakan.
“Ahh sishh mhh enak sayang, kamu hebat”, kataku sambil tanganku meremas
payudaranya yang menggantung kebawah karena Devi membungkuk. Lalu tanpa
sadar akupun segera sampai.
“Akhh.. shh.. mhh crot croot croot croot croot..”, 5 kali aku
menembakkan sperma ke mulut Devi hingga meleleh keluar dari mulutnya.
Aku sengaja tidak memberi tahu Devi kalau aku sampai karena aku ingin
Devi merasakan air maniku. Kata orang Irian Jaya yang masih pedalaman,
jika cewek pasangannya meminum air mani cowoknya dia akan setia pada
pasangan cowoknya. Itu terbukti karena sampai sekarang Devi tidak mau
pisah denganku.
PRAGMATIC189 - SITUS SLOT GACOR DAN TERPERCAYA SE INDONESIA
“Ih kamu “pipis” nggak bilang bilang,
tapi kok enak yah sayang, kayak santan”, kata Devi sambil mengelap air
mani yang keluar lewat pipinya.
“Mhh.. enak kan sayang, mau yang enak lagi nggak”, kataku. Lalu tanpa
minta izin dulu aku lalu melebarkan pahanya hingga dia agak
mengangkangkan pahanya memperlihatkan bentuk tempiknya yang berbulu
halus dan membukit indah itu.
“Tahan yah sayang, tapi pasti enak kok. Kontolku akan aku masukkan ke tempikmu”, kataku
“Iya deh masukin aja tapi pelan pelan yah biar aku liat masuknya”,
katanya. Setelah itu aku langsung memasukkan kontolku perlahan lahan.
Pertama tama seperti ada benda empuk yang menolak kontolku. Dua kali
gagal lalu aku menarik tempik Devi ke kanan dan ke kiri agar bisa masuk
dan aku menyuruh Devi memegang dan memasukkan kontolku kearah tempiknya.
“Devi bantu dong sayang biar cepet masuk. Ini pegang kontolku dan aku menarik tempikmu agar bisa masuk”, kataku sambil menarik narik tempiknya. Lalu Devi memegang kontolku dan mengarahkan kontolku ke lubang tempiknya yang masih sempit perawan itu. Lalu.. 1,2,3 Bleesshh kepala kontolku baru masuk. Kepala kontolku saja yang masuk tapi sudah memberikan sejuta rasa bagi kami. Devi mendesah dan memegang pantatku dan aku menjerit kecil karena aku juga baru pertama menusuk tempik cewekku.
“Ronny, sakit sayang..”, kata Ssika menahan perih.
“Tahan yah sayang ntar juga enakan kok”, kataku.
“Mhh nggak apa apa kok terusin sayang masukin kontolmu ayo”, kata Devi
memberiku semangat agar lebih dalam memasukkan kontolku. Akupun segera
mendorong pantatku maju agar kontolku segera masuk.
Sleep.. pelan pelan kontolku masuk ke tempik Devi. Terasa sekali
tempiknya memijat mijat kontolku memberikan kenikmatan yang membuatku
seperti terbang hingga aku merasa ada selaput yang menahan masuknya
kontolku.
“Apaan sih, ini kok nahan sayang?”, tanyaku padanya (maklum baru pertama jadi aku tak tau yang namanya selaput dara.
“Udah Ronny terusin aja deh”, jawabnya sambil menggigit bibir bawahnya.
Lalu aku mendorong perlahan kontolku agar masuk lagi tetapi selaput itu
masih menghalangi. Lalu aku memasukan kontolku dan mendorongnya kuat
kuat. Sleep.. breett mirip kain sobek rasanya ketika kontolku menembus
selaput itu.
“Akhh shh.. sakiit sekali Ronny”, kata Devi sambil memelukku erat erat. Aku yang baru merasakan juga merasa sedikit perih pada kontolku seperti lecet memajukan kontolku pelahan lahan saja karena belum masuk semuanya dan setelah masuk semua baru aku mendiamkan kontolku di dalam tempik Devi. Rasanya memang sangat indah, nikmat, sakit, gatal, enak, perih semua berkumpul jadi satu tak bisa diungkapkan dengan kata kata.
“Devi enak sekali rasanya tempikmu menjepit jepit kontolku”, kataku pada Devi karena memang tempik Devi memijati kontolku.
“Perih Ronny, tapi nggak apa apa”, katanya menahan perih di tempiknya karena keperawanannya baru saja hilang.
Lalu perlahan lahan aku memaju mundurkan kontolku hingga aku mendesah
dan Devi menjerit karena merasa perih dan nikmat bercampur.
“Shh..Devv enak Devi tempikmu asik bangethh”, kataku tak jelas.
“Mhh akhh.. sshh sakiit, periihh yang, kontolmu besar banget”, katanya.
Gerakanku makin lama makin cepat saja. Slep.. slepp.. bleeshh..
blesshh.. bleshh.. cplokk.. cplokk irama senggama kami romantis banget.
Sudah dua kali kami berganti posisi dari
pertama aku diatas tubuh Devi lalu Devi berganti di atas tubuhku dan
menggerakkan tubuhnya naik turun seperti naik kuda. Lalu tak terasa ada
yang mau keluar dari dalam kontolku lagi.
“Yang aku mau pipishh..”, kataku menahan gerakan pinggulnya.
“Bentar sayang aku jugaa..”, teriaknya sambil meremas payudaranya
sendiri. Hingga tak sabar aku membalikkan tubuh Devi dan melepas
kontolku lalu menunggingkan tubuhnya lalu memasukkan kontolku ke dalam
tempiknya lagi dan menggenjotnya kuat kuat karena aku merasa akan segera
sampai.
“Sleep.. slepp.. sleep cplok cplokk cplok.. shh akhh sshh aakhh”, desahan Devi dan bunyi persetubuhan kami beriringan lalu..
“Croott.. croott.. crroott.. suurr.. suurr.. suurr”, kami saling
melepaskan air mani kami dan aku memeluk pinggang Devi agar tidak tumpah
air mani kami. Lalu aku berguling sambil tetap memeluk Devi agar
kontolku tetap menancap di tempiknya dan membiarkan Devi diatas tubuhku.
“Mhh Devi, kamu hebat, aku sayang kamu, “kataku sambil tetap memeluknya.
“Shh.. kamu juga sayang , ini pertama kali aku lakuin enaak banget.
Pantesan Papa sama Mama sering bertelanjang bareng kayak gini tak taunya
enak ya, Yang”, katanya di atasku.
“Memang kamu pernah lihat Papa sama Mama kamu main ginian?”, tanyaku.
“Sering benget Ronny, hampir tiap hari ginian bahkan kalau di dapur atau di depan TV kalau aku sudah tidur”, katanya polos.
“Ceritain dong”, aku memintanya bercerita sambil menarik tubuhku karena kontolku sudah mengecil di dalam tempiknya.
“Bentar ya Yang, aku ganti baju dulu”, katanya.
“Iya deh, aku tunggu disini”, kataku sambil duduk didepan TV yang mati.
Aku mengelus elus kontolku yang masih basah mengkilat itu.
Kontolku masih terasa nikmat sisa kenikmatan yang tadi. Lalu Devi keluar
dari dalam dan memakai daster tipis dari bahan nilon berwarna merah
jambu (kelihatanya warna kesukaan Devi) tanpa memakai apapun lagi di
dalamnya sehingga transparan memperlihatkan semua keindahan tubuhnya dan
membuat kontolku berdiri lagi.
“Kekamarku yuk Yang, di sini dingin”, katanya.
“Iya deh”, aku berdiri dan masuk kekamarnya tanpa memakai pakaianku karena aku kegerahan.
“Ayo dong, ceritain”, kataku saat kami sudah sama sama berbaring berhadapan di ranjangnya Devi.
“Dulu saat aku pulang sekolah Papa sama Mama lagi di dapur memasak berdua, tidak tau kalau aku udah datang, nah waktu itu aku denger suara mirip orang nangis tapi kok aneh karena penasaran aku deketin suara itu apa Papa sama Mama bertengkar ya, pikirku lalu aku intip dari dalam kamarku ini, kuintip dari celah ini (sambil menunjuk celah cendela yang menuju ke dapur rumahnya) lalu aku perhatiin.. kok Papa memangku Mama dari atas meja dapur dan Mama di atas Papa, mereka semua pada nggak pakai baju, baju mereka ada dibawah kaki Papa. Waktu itu Mama bergerak naik turun diatas perut Papa dan merintih rintih kayak orang nangis tapi kok mukanya kaya orang bahagia gitu..”, cerita Devi terputus dan tangannya memegang kontolku yang berdiri lagi karena memperhatikan cerita Devi lalu meremasnya. Lalu aku mendekat dan memasukkan tanganku kedalam rok dasternya mencari tempiknya lagi dan memasukkan jari jariku kedalam tempiknya.
“Pelan pelan Yang masih sakit”, katanya sambil menahan tanganku agar tidak menusuk nusuknya keras keras.
“Lanjutin dong sayang”, kataku sambil menusuk nusukkan tanganku ke tempiknya perlahan lahan.
“Lalu Papa menjilati puting payudara Mama dan mengemutnya, tiba tiba
Papa dan Mama saling peluk dan mereka menjerit bersama sama.. akhh Paa
kata Mama, lalu Mama turun dari Papa lalu Mama mengemut kontolnya Papa
yang besar banget..
“Segini..”, kataku sambil menunjuk kontolku yang tegang membesar dalam genggaman tangan Devi.
“Besaar lagi”, katanya sambil mendesah desah karena merasa geli dalam tempiknya ada benda asing.
“Lalu? lanjutin dong”, kataku
“Lalu Mama menjilatin kontol Papa sampai bersih, kok nggak jijik ya,
pikirku saat itu tapi ternyata memang enak ya sayang? (dia nyengir) lalu
Mama bilang udah Pa, ntar Devi pulang lho, lalu aku lepasin semua baju
dan aku ganti baju”, ceritanya polos sekali. Tangannya lalu mulai menaik
turunkan kontolku.
“Kalau di TV?”, tanyaku lagi.
“Dulu saat aku mau tidur, tapi Papa sama Mama masih nonton TV berdua,
lalu aku intip Papa sama Mama saling raba raba, Papa meraba ke payudara
Mama dan tempik Mama tapi Mama meraba kontol Papa yang masih tertutup
celana pendek Papa, lalu Papa menarik daster Mama sampai Mama nggak
pakai apa apa lagi, ternyata Mama nggak pakai pakaian dalam, lalu Papa
meremas payudara Mama dan menciuminya. Mama mendesah dan memandang ke
atas seperti keenakan lalu Mama melepasi semua baju Papa sampai Papa
telanjang dan mengulum kontol Papa seperti mengulum permen. Papa
keenakan sambil meremas rambut Mama sampai berantakan, lalu Mama
berbaring di sofa TV dan Papa menaiki tubuh Mama dan memasukkan kontol
Papa ke tempik Mama yang bulunya lebat lalu bergerak naik turun berkali
kali, kayaknya mereka sama sama keenakan hingga Papa sama Mama menjerit
jerit dan mendesah, lalu setelah lama Papa naik turun Papa turun dari
tubuh Mama dan menjilati tempiknya Mama lalu aku masuk dan menutup
kamarku, saat itu aku langsung melepas semua pakaian dalamku dan kembali
memakai dasterku lalu aku mengelusi tempikku sendiri naik turun karena
sudah gatel banget tempikku, Yang”, katanya polos sekali.
“Seperti ini?”, kataku sambil mengelusi tempik Devi.
“Yahh.. shh kaya gitu, enakhh, Yang”, katanya sambil memegang tanganku.
Lalu di luar ada bel pintu berbunyi.
“Yang, bukain dulu, siapa tuch di depan”, kataku karena takut kalau ortu
Devi pulang. Lalu Devi berlari keluar sambil membenahi dasternya yang
berantakan lalu membuka pintu rumahnya ternyata Desi tetangga kami yang
juga kelas tiga SMP tapi beda sekolah dengan kami. Lalu Desi masuk dan
Devi mengajak Desi main bersama kami asal Desi jaga rahasia dan ternyata
memang Desi mau jaga rahasia, jadi kami main lagi bertiga. Lalu Desi
masuk kekamar Devi.
“Kamu Ronny ngapain di sini, tanpa baju lagi”, katanya terkejut melihatku telanjang bulat.
“Ssstt jangan keras keras, yang penting ayo main”, kataku membungkam mulut Desi.
“Iya Des, kita main ginian yuk, katanya kamu pingin nyobain”, ajak Devi.
“Iya sih tapii..”, kata Desi.
“Nggak apa apa deh, ntar kita jaga bertiga rahasia ini”, kata Devi lagi.
Lalu Desi diam saja tak tau apa yang mesti dia perbuat. Lalu aku mendekatinya dan memeluknya dari depan memegang meremas payudaranya tapi dia masih saja diam lalu aku menurunkan kaos ketatnya hingga terlihat BH-nya yang berwarna putih bersih. Desi mulai ada tanggapan padaku, dia lalu memelukku dan meraba raba punggungku lalu aku memeluknya dan meraba punggungnya juga.
Lalu Devi bergabung dan berjongkok dibawahku untuk mengemut kontolku yang sejak tadi tegang terus. Aku lalu meremasi payudara Desi yang berukuran 34 itu (memang lebih besar dari Devi tapi runcing diputingnya) yang masih ditutupi BH dan menarik BH-nya sampai kaitanya terputus lalu membuangnya sembarangan.
“Pelan pelan Ronny, nanti BH-ku
gimana?”, kata Desi takut kalau BH-nya rusak. Aku diam saja karena
melihat keindahan payudara cewek selain punya Devi terus meremas
payudara Desi. Setelah puas meremasnya aku segera saja melumat putingnya
yang sedikit mengeras pertanda Desi mulai terangsang. Sedang Devi masih
mempermainkan kontolku dibawah
Aku meremas payudara kiri Desi sedang payudara kanan Desi aku lumat
habis habisan. Desi tak sadar meremas remas kepalaku sampai rambutku
berantakan.
Lalu aku mencabut kuluman Devi pada kontolku dan membaringkan Desi diranjang Devi lalu menurunkan celananya 3/4 hingga terlihat celana dalam Desi yang mini sekali berwarna hitam berenda. Karena memakai tali disamping kiri kanannya hingga hanya mampu menutupi tempik Desi saja. Lalu aku mulai mengerjai tempik Desi yang masih terbungkus celana dalam sexynya itu. Desi hanya melihat dari atas karena belum pernah melakukannya. Sedang Devi hanya menonton kami bermain.
Aku menjilat, mencium, dan menggigit kecil pada tempiknya hingga Desi merem melek keenakan. Lalu aku mulai menarik celana dalam Desi hingga tali talinya terlepas dan membuangnya sembarangan. Lalu aku kembali menjilati tempik Desi yang ternyata sangat indah menggunduk tebal dengan bulu yang lebat jauh lebih lebat dari punya Devi yang mulai basah cairan kenikmatan Desi. Aku menjilatinya naik turun kekiri den kekanan pada itilnya yang nyempil bikin geregetan aku saja. Desi yang keenakan mendesah desah tak karuan.
“Ronny nikmat terushh.. Ronnya”, katanya
mendesah merangsang. Aku sesekali menjilat sesekali menyedot tempik
Desi hingga lama sampai tak terasa.
“Akhh.. Ronny aku mau pipis Ronny”, desahnya telah sampai pada
puncaknya. Lalu aku memeluk pinggangnya dan suurr.. suurr.. suurr..
ssuurr empat kali cairan putihnya menyembur dari tempiknya. Aku
menjilati semua cairannya sampai habis karena rasanya enaak sekali.
Kayaknya punya Desi lebih manis dari punya Devi tapi sedikit encer.
“Uumhh Ronny, enak banget deh, tadi Devi pasti keenakan”, katanya.
“Iya dong, kamu mau yang lebih enak lagi nggak?”, kataku. Sedangkan Devi
sedang memainkan tempiknya sendiri dan meremas payudaranya di atas meja
belajarnya karena terangsang berat melihat permainan kami.
“Ronny, aku ingin rasain air pejuh (sperma) kamu boleh nggak?”, tanyanya.
“Boleh, kenapa tidak”, kataku. Lalu Desi mendekatkan wajahnya ke
kontolku karena tadi melihat Devi mengulum kontolku. Lalu dengan pelahan
terus menerus Desi ngemut kontolku sampai tak terasa kontolku kembali
akan mengeluarkan airnya.
“Des, aku nyampe lhotelan yah”, kataku memegangi kepala Desi. Lalu
crot.. croott..crot 3 kali kontolku menembakkan pejuh kedalam mulut Desi
lalu Devi mendekati Desi.
“Des, bagi dong aku mau nih”, katanya lalu mencium bibir Desi dan berebut air pejuhku. Aku istirahat sebentar karena kelelahan.
“Ronny, aku mau dong kaya yang ada di BF itu”, katanya.
“Gimana?”, tanyaku pura pura tidak mengerti.
“Itu lho yang cowok memasukkan tititnya (Desi menyebut kontol dengan titit) ke dalam tempik ceweknya”, katanya.
“Emang kamu mau?”, tanyaku.
“Iya aku pingin banget ngerasain kata Kak Sinta (kakak Desi) enak banget kaya di surga”, katanya lagi.
“Iya deh, tapi kamu siap siap dong”, kataku sambil naik ke tubuh Desi
dan mengangkangkan paha Desi kaya Devi tadi lalu menarik tempik Desi ke
kanan dan kekiri.
“Des, bantuin dong, masukin kontolku gih”, kataku. Lalu Desi memegang kontolku dan menempelkanya ke tempiknya.
Aku lalu mendorong kontolku.. bleeshh.. kepala kontolku masuk duluan.
“Akhh.. Ronny emhh enak”, kata Desi berbeda dengan Devi yang kesakitan
saat aku masukin kontolku. Tangannya mendorong pantatku agar kontolku
lebih memasuki tempiknya dan slleepp.. kontolku pelahan lahan memasuki
tempiknya tapi anehnya Desi malah keenakan nggak kesakitan.
“Shh.. terusin Ronnya enaak”, katanya terus menekan pinggulku hingga
kontolku kembali menyentuh selaput tipis seperti punya Devi.
“Tahan yah Des”, kataku.
“Udah Ronny, masukin cepetan aku tak tahan”, katanya kembali menekan
pinggulku. Aku lalu menekan pinggulku kuat kuat dan.. breet ada seperti
kain tipis kembali terlewati kontolku.
“Akhh shh perriih”, Desi baru berteriak kesakitan.
“Pelan dulu Ronny, tempikku perih”, katanya. Aku lalu mendiamkan
kontolku di dalam tempik Desi dan menikmati jepitan jepitan tempik Desi
pada kontolku.
Aku melihat kearah Devi yang sedang
masturbasi sambil mengangkat roknya keatas menggunakan HP 8250 milik
Desi yang kecil dan mengeluar masukan HP itu. Aku merasa kasihan banget
karena dia sudah terangsang banget lalu aku menyuruhnya berdiri
menghadapkan tempiknya ke mukaku agar tempiknya dapat aku puaskan. Lalu
aku menaik turunkan pinggulku pelahan lahan sambil menikmati remasan
remasan tempik Desi.
“Shh.. akhh.. shh.. akkhh”, desahan Desi keras keras membuat aku makin semangat menyetubuhinya.
“Shh.. Ronnya ukhh”, desahan Devi tak kalah indah sambil meremas
kepalaku. Aku menggenjot tempik Desi dan sambil melumat tempik Devi
sungguh pengalaman bersetubuhku yang indah dan baru pertama kali.
Gerakan pinggulku dari perlahan menjadi semakin cepat dan semakin cepat
hingga Desi memeluk pinggangku erat erat tanda Desi akan sampai dan..
“Shh akkhh surr.. suurr.. suurr.. ssuur”, Desi sampai untuk yang kedua kalinya.
Lalu aku mencabut kontolku dari tempik Desi dan membaringkan Devi di
ranjangnya lalu kembali memasukan kontolku ke dalam tempik Devi dan
menggenjotnya kuat kuat.
“Shh.. mhh.. sshh.. akhh”, desahan Devi.
“Mhh.. ahh Devi, tempikmu nikmathh”, rintihanku menahan kenikmatan.
Lalu serr.. serr.. serr.. Devi telah sampai duluan.
Sleep.. sleep.. clleepp.. clleepp suara kocokan antara kontolku dan tempik Devi merdu.
“Ronny sudah yang aku capek, geli Yang, udah”, katanya tapi aku tak peduli dan terus menggerakan pinggulku kesetanan
“Nggh.. hhaahh.. maahh.. gelii”, desahan Devi malah membuat aku nggak
sampai sampai. Sedangkan Desi hanya diam menonton saja sambil mengelus
elus tempik dan payudaranya yang basah oleh keringat.
Hingga akhirnya, “Devimhh.. yahh.. clep.. sllepp clleepp croot crot crot croot crroott”, aku sampai juga.
Ranjang Devi morat marit tidak karuan dan banyak bercak darah dan lendir
putih disana sini berbau aneh. Bercak darah dari Desi dan Devi yang
telah aku perawani.
Akhirnya kami bertiga tidur bersamaan dan tidak memakai baju sama
sekali. Aku terbangun pada tengah malam karena udara terasa dingin
banget dan menyenggol kaki Desi hingga terbangun.
“Des, dingin yah”, kataku.
“Iya Ronny”, jawabnya.
“Des pakaian dalammu rusak biar besok aku ganti yah”, kataku sambil mengambil pakaian dalam Desi dan menyimpannya
“Iya deh, tapi besok aku gimana?”, tanyanya.
“Besok kamu nggak usah pakai dulu, terus aja pulang dan ganti baju, lagi
pula punya Devi kan kekecilan karena kamu lebih besar dari Devi”,
kataku.
“Tapi payudaraku kelihatan dong, ntar dilihatin Mamaku gimana”, katanya lalu mendekatiku dan duduk di sampingku.
“Besok kamu pakai aja jaketnya Devi biar payudaramu tertutup lalu kamu
pakai celanamu itu, nggak bakalan kelihatan tempikmu kok, karena
celanamu kan tebel”, kataku
“Oklah, Ronny sini aku mau liat titit kamu”, katanya lalu memegang kontolku.
“Kok bisa yah bikin puas orang padahal kan benda ini kecil”, katanya
sambil menimang nimang kontolku dan aku hanya tiduran menciumi bibir
Devi yang kecil mungil berwarna merah jambu itu.
“Iya dong kan itu burung dewa”, kataku sambil meremas payudara Devi yang
menggelantung ke kanan karena tidur Devi ke arah kanan (aku mulai
terangsang lagi karena kontolku dimainin lagi).
Lalu Desi kembali mengulum kontolku dan saat itu Devi terbangun karena remasanku terlalu keras
“Ronny, sakit”, katanya lalu bangun dan aku bangun juga.
“Desi, kamu keenakan dari tadi aku juga mau dong”, lalu Devi ikutan
berebut ngemut kontolku. Saat itu rasanya seperti dijalari beribu semut
dan dialiri listrik ribuan watt.
“Sudah kalau tak tahan masukin aja kontolku ke tempik kalian”, kataku
lalu aku tiduran dan Devi naik ke selangkanganku dan menduduki kontolku
hingga masuk semua dan bergerak semakin lama semakin cepat. Mereka
bergantian memasukkan kontolku ke dalam tempiknya menjadikanku seperti
mainan hingga mereka puas.
Kami melakukan skandal ini hingga sekarang. Aku biasa bermain bertiga antara aku, Devi, Desi. Terkadang juga hanya aku dengan Desi, terkadang hanya aku dengan Devi, terkadang di rumah Devi terkadang di rumah Desi atau terkadang di rumahku. Kami melakukan semua itu tanpa bosan bosannya.


Komentar
Posting Komentar