PRAGMATIC189 - Perkenalan pertamaku dengan Mai terjadi karena kebetulan ada kuliah umum gabungan untuk dua fakultas dari seorang ekonom nasional. Biasa saja, kebetulan ada bangku kosong di sebelahnya dan aku mengisinya. Kebetulan memang tinggal itu satu-satunya bangku kosong pada daerah strategis, di belakang dan dekat pintu keluar. Wajahnya khas gadis cantik berdarah Tionghoa, bulat telur, putih kekuningan, mata bulat kecil dengan sudut-sudut mata agak menyipit ke atas, hidung kecil mancung, bibir tipis agak lebar. Saat itu nampaknya dia tidak menggunakan make-up tebal. Tidak terlalu mencolok dibandingkan teman-temannya yang bermake-up tebal.
Seperti biasa, perkenalan diawali basa-basi tanya angkatan berapa?
dst.. dst.. Dan.. sebulan kemudian kami sudah jalan bareng.
Kontak-kontak fisik baru hanya sebatas bergandengan tangan, memeluk
pundak, sun pipi. Inipun sudah mampu menimbulkan “kekerasan” di bawah
celanaku karena ternyata badan Mai memancarkan bau yang “aneh”, bukan
bau keringat, juga bukan bau parfum, semacam bau jamu lulur badan, dan
bau tersebut menimbulkan rasa betah berdekatan dengan Mai.
Petualangan seksualku dan Mai pertama kali terjadi kira-kira 6
bulan setelah jalan bareng bersamanya. Saat itu kira-kira pukul 19.00
Mai mampir ke kamar kost-ku, yang kebetulan di dekat kampus. Sebetulnya
biasa seperti itu, kira-kira pukul 21.00 selalu kuantar pulang ke rumah
orang tuanya.
Begitu juga kali ini, datang terus cium pipi dan sedikit bibir,
terus Mai “lesehan” di sofa dan kami ngobrol segala macam kesana-kemari.
Sampai akhirnya Mai “lesehan” di pelukanku sambil nonton sinetron di TV
dan aku melingkarkan kedua tanganku dari belakang ke perutnya. Rupanya
Mai begitu “exciting” dengan pengalaman pelukan pertama ini. Kedua
tanganku dipegang erat-erat, dan matanya terpejam sambil wajahnya
menengadah ke atas. Mulailah aku mencium pelipisnya dan Mai bereaksi
dengan sedikit lenguhan sambil menggerak-gerakan kedua kakinya
bergesekan dan melipat lututnya. Tersingkaplah paha Mai yang putih,
mulus, agak berkilap-kilap. Dan Mai juga tidak berusaha menutup belahan
rok midi (bukan mini) yang tersingkap tersebut. Kaki-kaki langsing,
putih bersih, dengan latar belakang rok mini warna pink dan pangkal paha
yg dibalut celana dalam katun berwarna coklat muda membentuk
pemandangan indah yang tak terlupakan.
Aku lanjutkan dengan mulai merambah daerah bibir, dan Mai ternyata
bereaksi makin hebat. Tangan kananku digesernya masuk ke bawah belahan
blouse dan ditempatkan di payudara sebelah kirinya. Secara otomatis juga
tanganku meremas-remas gunung kembarnya. Kususupkan jari-jariku ke
bawah BH sampai menyentuh puting susu Mai yang sudah berdiri mengeras.
Mulai muncul sentakan-sentakan kecil di pinggul Mai. Rok mininya pun
sudah tersingkap sempurna, begitu juga blouse putihnya sudah
“berantakan”. Kulanjutkan meraba-raba dan kadang-kadang menjepit puting
susu Mai dengan jari tengah dan ibu jari, dan saat itu juga selalu Mai
melenguh agak keras sambil tersenyum dan pinggulnya menggelinjang kecil.
Berganti-ganti kuraba payudara kiri dan kanan. Aku lihat juga celana
dalam Mai ternyata sudah basah kuyup (juga celana dalamku).
PRAGMATIC189 - SITUS SLOT GACOR DAN TERPERCAYA SE INDONESIA
Kira-kira 15 menit kemudian kami berhenti sejenak untuk merubah
posisi. Kugelar kasur dan kami rebahan berdampingan. Mai mulai melepas
blousenya. Dilanjutkan aku yang melepas BH-nya yang juga berwarna coklat
muda. Wuih.., bukan main.. kedua bukit kembar itu mengeras, puting yang
berwarna coklat sudah mencuat. Kali ini aku yang berinisiatif menjilati
kedua puting susunya bergantian kiri-kanan. Kadang-kadang aku jepit
dengan bibir, sementara kedua tanganku meremas-remas bagian bawah
payudaranya itu. Aku benar-benar menikmati lekukan-lekukan dan tonjolan
kecil-kecil di sekitar puting susunya dengan lidah dan bibirku dan Mai
terlihat berusaha menahan rasa geli dengan mencengkeram kasur kuat-kuat
sambil tentu saja melenguh-lenguh sambil sekali-sekali tertawa.
Tiba-tiba badan Mai mengejang, punggungnya terangkat, pangkal
pahanya berguncang hebat, menggelinjang maju-mundur beberapa kali.
Sepertinya Mai tidak mampu lagi mengontrol pangkal pahanya itu. Dan
payudaranya pun menjadi lembek kembali. Setelah guncangan berhenti
kulihat Mai masih memejamkan matanya tapi tangannya sudah tidak
mencengkeram kasur lagi, kali ini tangan Mai mengusap-usap kepalaku.
Rupanya betul-betul pengalaman orgasme yang pertama bagi Mai. Maksudnya
orgasme dengan melibatkan orang lain.
Sambil Mai “beristirahat” kulanjutkan “penjelajahan”, kali ini agak
merambat ke bagian perut Mai. Lidahku menjilati seputar pusar sambil
tangan kiriku memijat payudaranya kiri-kanan bergantian. Tangan kananku
mulai masuk ke bawah rok mengusap-usap perut Mai agak di bawah pusar
sampai pinggul, tapi masih di luar celana dalamnya. Lagi.., Mai mulai
melenguh-lenguh dan tertawa-tawa kecil. Tak lama kemudian terasa
payudara dan puting susu Mai mulai mengeras lagi. Kulihat juga matanya
sudah mulai terpejam lagi, dan lenguhan-lenguhannya terdengar makin
keras, manja dan menggemaskan. Tangannya juga sudah mencengkeram kasur
lagi. Usapan tangan kananku turun sedikit ke daerah “segitiga emas” dan
tanganku bisa merasakan jejak rambut kemaluan Mai dari luar celana dalam
katun yang basah kuyup itu. Tanganku terus bergerak ke paha dan lutut
Mai yang terkatup rapat. Kuturunkan lagi, kali ini telunjuk dan jari
tengahku, ke bagian dalam antara paha dan lututnya.
Tiba-tiba kedua paha Mai membuka dan aku leluasa mengusap-usap
seluruh bagian dalam paha itu. Akhirnya jari-jariku mulai menyentuh
bagian kewanitaannya. Celana dalam yang basah kuyup mempermudah jariku
menikmati bibir kemaluannya, lipatan-lipatannya, tonjolan klitorisnya,
dan juga jejak rambut kemaluannya. Jari tengahku kutempatkan memanjang
di belahan liang kewanitaannya sementara telapak tanganku menggenggam
bagian atas yang berambut. Mulailah kugesekkan jariku maju-mundur sambil
sekali-sekali menekan tonjolan klitoris dan kadang-kadang meremas-remas
gundukan rambut kemaluannya. Lenguhan-lenguhan Mai sudah berubah
menjadi erangan kuat tanpa tawa-tawa kecil. Sampai akhirnya kembali
tubuh Mai mengejang dan bagian pangkal pahanya kembali menghentak-hentak
kuat tanpa terkontrol.
Mai yang tampak kelelahan terlihat berusaha mengatur nafasnya yang
masih tersengal-sengal. Tak lama kemudian Mai tertidur sebentar, dengan
hanya mengenakan pakaian bagian bawah saja. Dan karena sudah saat makan
malam, aku keluar sebentar untuk membeli nasi goreng.
Begitu kembali, Mai ternyata sudah menutupi tubuhnya dengan
selimut, tapi seluruh pakaiannya, luar dalam, sekarang terlipat di sofa
sepertinya habis disetrika. Mai betul-betul telanjang bulat dalam
selimut. Kubangunkan Mai untuk makan malam dan dia seperti tidak sungkan
lagi memperlihatkan tubuh indahnya. Selesai makan kubantu Mai
mengenakan semua pakaiannya sambil sekali-sekali menciumi bagian-bagian
tubuhnya terutama sekitar dada dan perut. Aku paling suka saat membantu
mengenakan celana dalamnya. Kuciumi dulu perut dan sekitar rambut
kemaluannya sambil kuusap-usap celah liang kewanitaannya sebelum celana
dalamnya menutup daerah “segitiga emas” tersebut.
Dan jadilah malam itu tonggak sejarah awal petualangan seksual
kami. Setelah kejadian itu, kami sering mengulanginya lagi bahkan lebih
dari yang telah kami lakukan malam itu.


Komentar
Posting Komentar