PRAGMATIC189 - Sudah dua tahun ini aku menikah dengan Virni, dia seorang model iklan dan enam bulan lalu, dia menjadi seorang bintang sinetron, sementara aku sendiri adalah seorang wiraswasta di bidang pompa bensin. Usiaku kini 32 tahun, sedangkan Virni usia 21 tahun. Virni seorang yang cantik dengan kulit yang putih bersih mungkin karena keturunan dari ibunya. Aku pun bangga mempunyai istri secantik dia. Ibunya Virni, mertuaku, sebut saja Mama Mona, orangnya pun cantik walau usianya sudah 39-tahun. Mama Mona merupakan istri ketiga dari seorang pejabat negara ini, karena istri ketiga jadi suaminya jarang ada di rumah, paling-paling sebulan sekali. Sehingga Mama Mona bersibuk diri dengan berjualan berlian.
Aku tinggal bersama istriku di rumah ibunya, walau aku sndiri punya
rumah tapi karena menurut istriku, ibunya sering kesepian maka aku
tinggal di “Pondok Mertua Indah”. Aku yang sibuk sekali dengan bisnisku,
sementara Mama Mona juga sibuk, kami jadi kurang banyak berkomunikasi
tapi sejak istriku jadi bintang sinetron 6 bulan lalu, aku dan Mama Mona
jadi semakin akrab malahan kami sekarang sering melakukan hubungan
suami istri, inilah ceritanya.
Sejak istriku sibuk syuting sinetron, dia banyak pergi keluar kota,
otomatis aku dan mertuaku sering berdua di rumah, karena memang kami
tidak punya pembantu. Tiga bulan lalu, ketika istriku pergi ke Jogja,
setelah kuantar istriku ke stasiun kereta api, aku mampir ke rumah
pribadiku dan baru kembali ke rumah mertuaku kira-kira jam 11.00 malam.
Ketika aku masuk ke rumah aku terkaget, rupanya mertuaku belum tidur.
Dia sedang menonton TV di ruang keluarga.
“Eh, Mama.. belum tidur..”
“Belum, Tom.. saya takut tidur kalau di rumah belum ada orang..”
“Oh, Maaf Ma, saya tadi mampir ke rumah dulu.. jadi agak telat..”
“Virni.. pulangnya kapan?”
“Ya.. kira-kira hari Rabu, Ma.. Oh.. sudah malam Ma, saya tidur dulu..”
“Ok.. Tom, selamat tidur..”
Kutinggal Mama Mona yang masih nonton TV, aku masuk ke kamarku,
lalu tidur. Keesokannya, Sabtu Pagi ketika aku terbangun dan menuju ke
kamar makan kulihat Mama Mona sudah mempersiapkan sarapan yang rupanya
nasi goreng, makanan favoritku.
“Selamat Pagi, Tom..”
“Pagi.. Ma, wah Mama tau aja masakan kesukaan saya.”
“Kamu hari ini mau kemana Tom?”
“Tidak kemana-mana, Ma.. paling cuci mobil..”
“Bisa antar Mama, Mama mau antar pesanan berlian.”
“Ok.. Ma..”
Hari itu aku menemani Mama pergi antar pesanan dimana kami pergi
dari jam 09.00 sampai jam 07.00 malam. Selama perjalanan, Mama
menceritakan bahwa dia merasa kesepian sejak Virni makin sibuk dengan
dirinya sendiri dimana suaminya pun jarang datang, untungnya ada diriku
walaupun baru malam bisa berjumpa. Sejak itulah aku jadi akrab dengan
Mama Mona.
Sampai di rumah setelah berpergian seharian dan setelah mandi, aku
dan Mama nonton TV bersama-sama, dia mengenakan baju tidur modelnya baju
handuk sedangkan aku hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Tiba-tiba
Mama menyuruhku untuk memijat dirinya.
“Tom, kamu capek nggak, tolong pijatin leher Mama yach.. habis pegal banget nih..”
“Dimana Ma?”
“Sini.. Leher dan punggung Mama..”
Aku lalu berdiri sementara Mama Mona duduk di sofa, aku mulai
memijat lehernya, pada awalnya perasaanku biasa tapi lama-lama aku
terangsang juga ketika kulit lehernya yang putih bersih dan mulus
kupijat dengan lembut terutama ketika kerah baju tidurnya diturunkan
makin ke bawah dimana rupanya Mama Mona tidak mengenakan BH dan
payudaranya yang cukup menantang terintip dari punggungnya olehku dan
juga wangi tubuhnya yang sangat menusuk hidungku.
“Maaf, Ma.. punggung Mama juga dipijat..”
“Iya.. di situ juga pegal..”
Dengan rasa sungkan tanganku makin merasuk ke punggungnya sehingga
nafasku mengenai lehernya yang putih, bersih dan mulus serta berbulu
halus. Tiba-tiba Mama berpaling ke arahku dan mencium bibirku dengan
bibirnya yang mungil nan lembut, rupanya Mama Mona juga sudah mulai
terangsang. “Tom, Mama kesepian.. Mama membutuhkanmu..” Aku tidak
menjawab karena Mama memasukkan lidahnya ke mulutku dan lidah kami
bertautan. Tanganku yang ada di punggungnya ditarik ke arah payudaranya
sehingga putingnya dan payudaranya yang kenyal tersentuh tanganku. Hal
ini membuatku semakin terangsang, dan aku lalu merubah posisiku, dari
belakang sofa, aku sekarang berhadapan dengan Mama Mona yang telah
meloloskan bajunya sehingga payudaranya terlihat jelas olehku.
Aku tertegun, rupanya tubuh Mama Mona lebih bagus dari milik
anaknya sendiri, istriku. Aku baru pertama kali ini melihat tubuh ibu
mertuaku yang toples.
“Tom, koq bengong, khan Mama sudah bilang, Mama kesepian..”
“iya.. iya.. iya Mah,”
Ditariknya tanganku sehingga aku terjatuh di atas tubuhnya, lalu
bibirku dikecupnya kembali. Aku yang terangsang membalasnya dengan
memasukkan lidahku ke mulutnya. Lidahku disedot di dalam mulutnya.
Tanganku mulai bergerilya pada payudaranya. Payudaranya yang berukuran
36B sudah kuremas-remas, putingnya kupelintir yang membuat Mama Mona
menggoyangkan tubuhnya karena keenakan. Tangannya yang mungil memegang
batangku yang masih ada di balilk celana pendekku. Diusap-usapnya hingga
batangku mulai mengeras dan celana pendekku mulai diturunkan sedikit,
setelah itu tangannya mulai mengorek di balik celana dalamku sehingga
tersentuhlah kepala batangku dengan tangannya yang lembut yang membuatku
gelisah.
Keringat kami mulai bercucuran, payudaranya sudah tidak terpegang
lagi tanganku tapi mulutku sudah mulai menari-nari di payudaranya,
putingnya kugigit, kuhisap dan kukenyot sehingga Mama Mona kelojotan,
sementara batangku sudah dikocok oleh tangannya sehingga makin mengeras.
Tanganku mulai meraba-raba celana dalamnya, dari sela-sela celana dan
pahanya yang putih mulus kuraba vaginanya yang berbulu lebat. Sesekali
kumasuki jariku pada liang vaginanya yang membuat dirinya makin
mengelinjang dan makin mempercepat kocokan tangannya pada batangku.
Hampir 10 menit lamanya setelah vaginanya telah basah oleh cairan
yang keluar dengan berbau harum, kulepaskan tanganku dari vaginanya dan
Mama Mona melepaskan tangannya dari batangku yang sudah keras. Mama Mona
lalu berdiri di hadapanku, dilepaskannya baju tidurnya dan celana
dalamnya sehingga aku melihatnya dengan jelas tubuh Mama Mona yang bugil
dimana tubuhnya sangat indah dengan tubuh tinggi 167 cm, payudara
berukuran 36B dan vagina yang berbentuk huruf V dengan berbulu lebat,
membuatku menahan ludah ketika memandanginya.
“Tom, ayo.. puasin Mama..”
“Ma.. tubuh Mama bagus sekali, lebih bagus dari tubuhnya Virni..”
“Ah.. masa sih..”
“Iya, Ma.. kalau tau dari 2 tahun lalu, mungkin Mamalah yang saya nikahi..”
“Ah.. kamu bisa aja..”
“Iya.. Ma.. bener deh..”
“Iya sekarang.. puasin Mama dulu.. yang penting khan kamu bisa menikmati Mama sekarang..”
“Kalau Mama bisa memuaskan saya, saya akan kawini Mama..”
Mama lalu duduk lagi, celana dalamku diturunkan sehingga batangku
sudah dalam genggamannya, walau tidak terpegang semua karena batangku
yang besar tapi tangannya yang lembut sangat mengasyikan.
“Tom, batangmu besar sekali, pasti Virni puas yach.”
“Ah.. nggak. Virni.. biasa aja Ma..”
“Ya.. kalau gitu kamu harus puasin Mama yach..”
“Ok.. Mah..”
Mulut mungil Mama Mona sudah menyentuh kepala batangku, dijilatnya
dengan lembut, rasa lidahnya membuat diriku kelojotan, kepalanya kuusap
dengan lembut. Batangku mulai dijilatnya sampai biji pelirku, Mama Mona
mencoba memasukkan batangku yang besar ke dalam mulutnya yang mungil
tapi tidak bisa, akhirnya hanya bisa masuk kepala batangku saja dalam
mulutnya.
Hal ini pun sudah membuatku kelojotan, saking nikmatnya lidah Mama
Mona menyentuh batangku dengan lembut. Hampir 15 menit lamanya batangku
dihisap membuatnya agak basah oleh ludah Mama Mona yang sudah tampak
kelelahan menjilat batangku dan membuatku semakin mengguncang keenakan.
Setelah itu Mama Mona duduk di Sofa dan sekarang aku yang jongkok di
hadapannya. Kedua kakinya kuangkat dan kuletakkan di bahuku. Vagina Mama
Mona terpampang di hadapanku dengan jarak sekitar 50 cm dari wajahku,
tapi bau harum menyegarkan vaginanya menusuk hidungku.
“Ma, Vagina Mama wangi sekali, pasti rasanya enak sekali yach.”
“Ah, masa sih Tom, wangi mana dibanding punya Virni dari punya Mama.”
“Jelas lebih wangi punya mama dong..”
“Aaakkhh..”
Vagina Mama Mona telah kusentuh dengan lidahku. Kujilat lembut
liang vagina Mama Mona, vagina Mama Mona rasanya sangat menyegarkan dan
manis membuatku makin menjadi-jadi memberi jilatan pada vaginanya.
“Ma, vagina.. Mama sedap sekali.. rasanya segar..”
“Iyaah.. Tom, terus.. Tom.. Mama baru kali ini vaginanya dijilatin.. ohh.. terus.. sayang..”
Vagina itu makin kutusuk dengan lidahku dan sampai juga pada
klitorisnya yang rasanya juga sangat legit dan menyegarkan. Lidahku
kuputar dalam vaginanya, biji klitorisnya kujepit di lidahku lalu
kuhisap sarinya yang membuat Mama Mona menjerit keenakan dan tubuhnya
menggelepar ke kanan ke kiri di atas sofa seperti cacing kepanasan.
“Ahh.. ahh.. oghh oghh.. awww.. argh.. arghh.. lidahmu Tom.. agh, eena..
enakkhh.. aahh.. trus.. trus..” Klitoris Mama Mona yang manis sudah
habis kusedot sampai berulang-ulang, tubuh Mama Mona sampai terpelintir
di atas sofa, hal itu kulakukan hampir 30 menit dan dari vaginanya sudah
mengeluarkan cairan putih bening kental dan rasanya manis juga, cairan
itupun dengan cepat kuhisap dan kujilat sampai habis sehingga tidak ada
sisa baik di vaginanya maupun paha mama Mona.
“Ahg.. agh.. Tom.. argh.. akh.. akhu.. keluar.. nih.. ka.. kamu..
hebat dech..” Mama Mona langsung ambruk di atas sofa dengan lemas tak
berdaya, sementara aku yang merasa segar setelah menelan cairan vagina
Mama Mona, langsung berdiri dan dengan cepat kutempelkan batang
kemaluanku yang dari 30 menit lalu sudah tegang dan keras tepat pada
liang vagina Mama Mona yang sudah kering dari cairan. Mama Mona
melebarkan kakinya sehingga memudahkanku menekan batangku ke dalam
vaginanya, tapi yang aku rasakan liang vagina Mama Mona terasa sempit,
aku pun keheranan.
“Ma.. vagina Mama koq sempit yach.. kayak vagina anak gadis.”
“Kenapa memangnya Tom, nggak enak yach..”
“Justru itu Ma, Mama punya sempit kayak punya gadis. Saya senang
Ma, karena vagina Virni sudah agak lebar, Mama hebat, pasti Mama rawat
yach?”
“Iya, sayang.. walau Mama jarang ditusuk, vaginanya harus Mama rawat sebaik-baiknya, toh kamu juga yang nusuk..”
“Iya Ma, saya senang bisa menusukkan batang saya ke vagina Mama yang sedaap ini..”
“Akhh.. batangmu besar sekali..”
Vagina Mama Mona sudah terterobos juga oleh batang kemaluanku yang
diameternya 4 cm dan panjangnya 28 cm, setelah 6 kali kuberikan tekanan.
Pinggulku kugerakan maju-mundur menekan vagina Mama Mona yang sudah
tertusuk oleh batangku, Mama Mona hanya bisa menahan rasa sakit yang
enak dengan memejamkan mata dan melenguh kenikmatan, badannya
digoyangkan membuatku semakin semangat menggenjotnya hingga sampai semua
batangku masuk ke vaginanya. “Tom.. nggehh.. ngghh.. batangmu menusuk
sampai ke perut.. nich.. agghh.. agghh.. aahh.. eenaakkhh..” Aku pun
merasa keheranan karena pada saat masukkan batangku ke vaginanya Mama
Mona terasa sempit, tapi sekarang bisa sampai tembus ke perutnya.
Payudara Mama Mona yang ranum dan terbungkus kulit yang putih bersih
dihiasi puting kecil kemerahan sudah kuterkam dengan mulutku. Payudara
itu sudah kuhisap, kujilat, kugigit dan kukenyot sampai putingnya
mengeras seperti batu kerikil dan Mama Mona belingsatan, tangannya
membekap kepalaku di payudaranya sedangkan vaginanya terhujam keras oleh
batangku selama hampir 1 jam lamanya yang tiba-tiba Mama Mona berteriak
dengan lenguhan karena cairan telah keluar dari vaginanya membasahi
batangku yang masih di dalam vaginanya, saking banyaknya cairan itu
sampai membasahi pahanya dan pahaku hingga berasa lengket.
“Arrgghh.. argghh.. aakkhh.. Mama.. keluar nich Tom.. kamu belum
yach..?” Aku tidak menjawab karena tubuhnya kuputar dari posisi
terlentang dan sekarang posisi menungging dimana batangku masih
tertancap dengan kerasnya di dalam vagina Mama Mona, sedangkan dia sudah
lemas tak berdaya. Kuhujam vagina Mama Mona berkali-kali sementara Mama
Mona yang sudah lemas seakan tidak bergerak menerima hujaman batangku,
Payudaranya kutangkap dari belakang dan kuremas-remas, punggungnya
kujilat. Hal ini kulakukan sampai 1 jam kemudian di saat Mama Mona
meledak lagi mengeluarkan cairan untuk yang kedua kalinya, sedangkan aku
mencapai puncak juga dimana cairanku kubuang dalam vagina Mama Mona
hingga banjir ke kain sofa saking banyaknya cairanku yang keluar.
“Akhh.. akh.. Ma, Vagina Mama luar biasa sekali..” Aku pun ambruk
setelah hampir 2,5 jam merasakan nikmatnya vagina mertuaku, yang memang
nikmat, meniban tubuh Mama Mona yang sudah lemas lebih dulu.
Aku dan Mama terbangun sekitar jam 12.30 malam dan kami pindah
tidur ke kamar Mama Mona, setelah terbaring di sebelah Mama dimana kami
masih sama-sama bugil karena baju kami ada di sofa, Mama Mona memelukku
dan mencium pipiku.
“Tom, Mama benar-benar puas dech, Mama pingin kapan-kapan coba lagi batangmu yach, boleh khan..”
“Boleh Ma, saya pun juga puas bisa mencoba vagina Mama dan
sekarangpun yang saya inginkan setiap malam bisa tidur sama Mama jika
Virni nggak pulang.”
“Iya, Tom.. kamu mau ngeloni Mama kalau Virni pergi?”
“Iya Ma, vagina Mama nikmat sih.”
“Air manimu hangat sekali Tom, berasa dech waktu masuk di dalam vagina Mama.”
“Kita Main lagi Ma..?”
“Iya boleh..”
Kami pun bermain dalam nafsu birahi lagi di tempat tidur Mama
hingga menjelang ayam berkokok baru kami tidur. Mulai hari itu aku
selalu tidur di kamar Mama jika istriku ada syuting di luar kota dan ini
berlangsung sampai sekarang.


Komentar
Posting Komentar