PRAGMATIC189 - Waktu sudah larut malam saat Wiwin dan Anisya pulang jalan-jalan dari sebuah mall di kota Bandung, kota tempat mereka menuntut ilmu pada sebuah PTN terkemuka. Saat itu kampus mereka sedang liburan semester yang lumayan lama, sehingga banyak di antara teman-teman mereka yang memilih pulang kampung, namun bagi Wiwin dan Anisya lebih memilih untuk tetap tinggal di kota Bandung karena tidak banyak yang dapat mereka kerjakan untuk mengisi waktu liburan di Jakarta kota asal mereka.
Sampai di tempat kost mereka kira-kira jam 10 malam. Saat itu
daerah di sekitarnya sudah sepi begitupula di dalam kost-kostan karena
semua penghuninya pulang ke kampung atau kota asal mereka masing-masing
untuk memanfatkan waktu liburan kuliah mereka, dan kini tinggallah
mereka berdua saja yang masih bertahan di dalam areal kost yang luas dan
besar itu. Walau usia mereka terpaut jauh, mereka berdua sangatlah
akrab karena selain mereka tinggal sekamar dan berasal dari Jakarta, di
kampus mereka juga satu fakultas.
Wiwin saat ini berusia 26 tahun, sementara Anisya baru berusia 18
tahun. Keduanya memiliki wajah yang cantik, Wiwin dengan bentuk badan
yang berukuran sedang nampak anggun dengan penampilan kesehariannya,
sedangkan Anisya memiliki tubuh yang mungil dan wajah yang imut-imut.
Banyak pria yang tertarik kepada mereka berdua, karena bukan saja mereka
cantik dan pintar, namun mereka juga pandai dalam bergaul dan ringan
tangan. Akan tetapi dengan halus pula mereka menolak berbagai ajakan
yang ingin menjadikan mereka sebagai kekasih atau pacar dari para pria
yang mendekati mereka.
Wiwin saat ini lebih memilih berkonsentrasi untuk menghadapi sidang
skripsinya, sedang Anisya yang baru menamatkan tahun pertamanya di
kampus tersebut lebih memilih untuk aktif di organisasi kampus dari pada
pacaran atau berhura-hura.
Sesampainya di kost, Wiwin langsung menuju ke kamar kost dan
membuka pintu, sedangkan Anisya mampir dulu ke kamar mandi yang terletak
agak jauh dari kamar kost mereka. Setelah membuka kamar, Wiwin begitu
terkejut ketika dilihatnya kamar mereka sudah berantakan seperti habis
ada pencuri. Belum lagi sempat memeriksa segalanya, tiba-tiba kepala
Wiwin sudah dipukul dari belakang sampai pingsan.
Wiwin tidak tahu apa-apa sampai tubuhnya digoncang-goncang
seseorang hingga tersadar dan menemukan dirinya sudah dalam keadaan
terikat di kursi tempat biasanya dia duduk untuk belajar dan mulutnya
disumpal kain, sehingga tidak dapat bersuara. Belum lagi lama dia
siuman, matanya terbelalak ketika melihat pemandangan di sekitarnya, ia
melihat dua pria di depannya. Yang menyuruhnya bangun, orangnya berbadan
tinggi besar dan kepalanya berambut gondrong dia hanya mengenakan
celana jeans kumal, badannya telanjang penuh dengan tatto. Dan satu
orang lagi juga berbadan agak gemuk, berambut acak-acakan juga hanya
mengenakan celana jeans.
Wajah mereka khas, usia mereka sekitar 40 tahunan. Sementara kamar
kost mereka dalam keadaan tertutup rapat, jendela pun yang tadinya agak
sedikit terbuka kini telah tertutup rapat. Tidak beberapa lama kemudian
mata Wiwin kembali terbelalak dan ingin menjerit, karena kedua orang itu
ternyata dikenalnya. Yang membangunkan dia bernama Asan dan satu lagi
bernama Thomas atau sering dipangil Liem. Mereka berdua adalah teman
dari Henry pemilik kost yang sering nongkrong di tempat itu, pekerjaan
mereka tidak jelas.
PRAGMATIC189 SITUS SLOT GACOR DAN TERPERCAYA SE INDONESIA
Memang beberapa waktu yang lalu Wiwin dan Anisya dikenalkan oleh
Henry kepada Asan dan Liem. Karena dengan setengah memaksa Henry, Asan
dan Liem ingin dikenalkan dengan Wiwin dan Anisya yang waktu itu baru
pulang dari kampus. Rupanya mereka berdua tertarik dengan kecantikan
Wiwin dan Anisya. Akan tetapi rupanya cinta mereka bertepuk sebelah
tangan, Wiwin dan Anisya lebih sering menghindar untuk bertemu dengan
Asan dan Liem. Dan yang membuat hati Wiwin menjerit dan panas adalah
begitu sadar sepenuhnya dan mengetahui Asan sedang duduk di pinggir
ranjang mereka sambil memangku Anisya yang saat itu sudah tinggal
memakai BH dan celana dalamnya saja yang berwarna putih.
Anisya sambil menangis memohon-mohon minta dilepaskan, air matanya
telah membasahi wajahnya yang cantik itu. Tapi si Asan yang badannya
jauh lebih besar itu tidak menghiraukannya, dia mulai meremas-remas
payudara Anisya yang baru sekepalan tangan orang dewasa itu yang masih
terbungkus BH itu, kemudian menjilati leher Anisya.
Pria itu lalu berkata, “Diam, jangan macam-macam atau kupatahkan lehermu, nurut saja kalau mau selamat..!”
Setelah itu dilumatnya dengan rakus bibir indah Anisya dengan
bibirnya, “Hmp.., cup.., cup..,” begitulah bunyinya saat kedua bibir
mereka beradu.
Air liur pun sampai menetes-netes keluar, rupanya lidah Asan bermain di dalam rongga mulut Anisya.
Sementara itu Liem yang berada di samping Wiwin berkata kepada
Wiwin, “Hei, elo sudah bangun ya, teman elo ini boleh juga, gue pake dia
dulu ya, baru setelah itu giliran elo, nah sekarang elo perhatikan gue
baik-baik kalo sampe elo nanti engga bisa muasin nafsu gue, mampus deh
elo..!” sambil mengelus-elus kepala Wiwin.
Wiwin mau berontak tapi tidak dapat berbuat apa-apa, Wiwin pun mulai pucat.
Lalu Asan yang masih memangku Anisya menyudahi serbuan bibirnya dan
berkata, “Ok Sayang, ini waktunya pesta, ayo kita bersenang-senang!”
Dia menyuruh Anisya berlutut di depannya dan menyuruhnya membukakan celana jeans kumalnya, lalu mengulum batang kemaluannya.
Sambil menangis Wiwin memohon belas kasih, “J.. ja.. angan.. tolong jangan perkosa saya, ambil saja semua barang di sini!”
Belum selesai berkata, tiba-tiba, “Pllaakk..!” si Asan menampar pipinya dan menjambak rambutnya.
Dengan paksa Anisya dibuat berlutut di depannya, “Masukkan ke dalam mulut elo, hisap atau gue bunuh elo..!”
Terpaksa dengan putus asa dan wajah yang pucat dan gemetar, Anisya
membuka celana Asan dan begitu dia menurunkan celana dalam Asan
tampaklah kemaluan Asan yang telah membesar dan menegang. Tanpa membuang
waktu Asan segera memasukkan kemaluannya itu ke mulut Anisya yang
mungil itu. Batang kemaluannya tidak dapat sepenuhnya masuk karena
terlalu besar, dengan kasar dia memaju-mundurkan kepala Anisya.
“Hhmpp.., emphh.. mpphh..!” begitulah suara Anisya saat mulutnya dijejali dengan kemaluan Asan.
Liem juga tidak tinggal diam, rupanya nafsu telah memenuhi otaknya,
setelah dia melepas celana jeansnya dia berdiri di samping Anisya,
menyuruh Anisya mengocokkan batang kemaluannya yang juga telah membesar
dengan tangan. Batang kemaluan Liem tidak sebesar temannya, tapi
diameternya cukup lebar sesuai dengan tubuhnya. Sekarang Anisya dalam
posisi berlutut dengan mulut dijejali kemaluan Asan dan tangan kanannya
mengocok batang kemaluan Liem.
“Emmhh.. benar-benar enak emutan gadis cantik ini, lain dari yang lain..!” kata Asan.
“Iya, kocokannya juga enak banget, tangannya halus nih..!” timpal Liem.
Beberapa lama kemudian nampak tubuh Asan menegang, seluruh badannya
mengejang, dan, “A.. akh..!” Asan akhirnya berejakulasi di mulut
Anisya.
Cairan putih kental memenuhi mulut Anisya menetes di pinggir
bibirnya seperti vampire baru menghisap darah, dan Anisya terpaksa
meminum semuanya karena takut ancaman mereka dan juga kuatnya pegangan
tangan Asan di kepalanya.
Setelah itu mereka melepas BH dan CD Anisya, sehingga dia
benar-benar telanjang bulat sekarang, tampaklah payudara dan bulu-bulu
kemaluannya yang masih halus dan jarang.
“Waw cantik sekali anjing ini.” ujar Liem sambil memandangi tubuh
bagian dada dan bawah Anisya yang sedang terisak-isak ketakutan.
Kali ini Liem duduk di pinggir ranjang dan menyuruh Anisya
berjongkok di depannya sambil terus memijati dan mengocok batang
kemaluan dengan tangannya. Anisya terpaksa menuruti kemauan Liem itu
sambil sesekali dipaksa untuk menjilati ujung batang kemaluannya,
sehingga Liem mendengus keenakan. Sementara itu si Asan mengambil posisi
berbaring di bawah kemaluan Anisya dan menjilati liang vaginanya sambil
sesekali menusuk-nusukkan jarinya ke liang kemaluan itu.
Seketika itu Anisya kaget dan, “Ehhgh.., iihh.. iih.. eggmhh..!”
Anisya pun merintih-rintih jadinya, badannya menggeliat-geliat akibat
tusukan jari-jari serta jilatan lidah Asan di kemaluan Anisya.
“Ayo anjing.., kocok terus barang gue..!” bentak Liem sambil menampar kepala Anisya.
Kembali Anisya mengocok kemaluan Liem sambil badannya terus
meliak-liuk karena kemalunnya mendapat serangan dari tangan dan lidah
Asan. Dari bibirnya pun terus terdengar suaranya merintih-tintih.
Sekitar 10 menit dikocok, Liem memuncratkan maninya dan membasahi
wajah serta rongga mulut Anisya. Kali ini Anisya sudah tidak tahan
dengan rasa cairan itu, sehingga dia memuntahkannya. Melihat itu Liem
jadi gusar, dia lalu menjambak rambut Anisya dan menampar pipinya sampai
dia jatuh ke ranjang.
“Pelacur anjing..! Kurang ajar, berani-beraninya membuang air
maniku. Kalo sekali lagi begitu, kurontokkan gigi elo, dengar itu..!”
bentaknya.
Asan pun terpaksa menyudahi aktifitasnya dan ikut-ikutan menampar Anisya.
“Goblok..! Gue lagi asyik nikmatin memek elo. Elo jangan macem-macem ya..!” bentak Asan.
Anisya hanya dapat menangis memegangi pipinya yang merah akibat dua
kali tamparan itu. Nampak kemarahan Wiwin bangkit karena teman dekatnya
diperlakukan begitu. Wiwin meronta-ronta di kursinya, tapi ikatannya
terlalu kencang sehingga hanya dapat membuat kursi itu bergoyang-goyang.
Melihat reaksi Wiwin si Asan berkata, “Kenapa? Elo tidak terima ya
pacar elo gue pinjam, tapi sayang sekarang elo nggak bisa ngapa-ngapain,
jadi jangan macem-macem ya, ha.. ha.. ha..! Abis ini giliran elo yang
gue entot..! Hahaha..!”
Mereka kembali menggerayangi tubuh Anisya, kali ini Asan
merentangkan tubuh Anisya di tempat tidur dan membuka lebar kedua
pahanya, dan segera mulai memasukkan batang kejantanannya ke liang
kemaluan Anisya.
“J.. jangan. Aduh.., tto.. long.., Mbak Wiwin. Ampun Bang..!” pinta
Anisya sambil mencoba berontak tapi dengan sigapnya Liem membantu Asan
dengan memegangi kedua tangan Anisya.
Batang kemaluan yang ukurannya besar itu dimasukkannya dengan paksa
ke liang kemaluan Anisya yang masih sempit, sehingga dari wajah Anisya
terlihat dia menahan sakit yang amat sangat, tangisannya pun semakin
keras.


Komentar
Posting Komentar