PRAGMATIC189 - Cerita bokep hot – Hampir tidak percaya bahwa hari telah larut malam. Aku masih berada di ruang komputer kampus sendirian. Pegal rasanya seharian menulis tugas yang harus diserahkan besok pagi. Untunglah akhirnya selesai juga. Sambil melepas lelah iseng-iseng aku buka internet dan masuk ke situs-situs porno. Aku membuka gambar-gambar orang bersenggama lewat anus. Mula-mula terasa aneh, tapi makin lama aku merasakan fantasi lain. Aku merasakan erangan perempuan yang kesakitan karena lubang duburnya yang sempit ditembus dengan kemaluan yang mengeras. Ah.. khayalanku semakin jauh.
Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara pintu ruangan membuka dan
menutup. Hii.. aku lihat sudah jam 22:30, malam-malam begini pikiranku
jadi membayangkan hal-hal menakutkan. Tapi kemudian aku dikagetkan lagi
ketika melihat seorang perempuan membawa map berisi beberapa lembar
kertas dan dua buah buku tipis masuk kemudian menaruhnya di sebelah
komputer, lalu menyalakan komputer dan mengetik. Komputernya terhalang
tiga meja komputer di sebelahku. Aku jadi lega, sekarang ada teman,
walaupun dia tidak memperhatikan aku sama sekali. Aku perhatikan dari
samping, wajahnya manis dengan hidung yang kecil dan mancung. Kulitnya
tidak terlalu putih, tapi mulus dengan jaket jeans lengan pendek yang
dikenakannya, dia tampak cantik.
Tapi, akh peduli amat. Aku melanjutkan buka-buka situs tadi,
anganku semakin menerawang, kemaluanku agak menegang. Dan akhirnya aku
melirik pada perempuan di ruangan itu, dan langsung aku melirik
pantatnya. Besar! pikirku. Tiba-tiba saja aku membayang kalau kemaluanku
merobek-robek pantatnya yang menggiurkan itu. Aku jadi deg-degan,
semakin dibayangkan semakin menjadi-jadi kemaluanku menegang. Sampai
akhirnya aku nekat mendekati dia. Aku mencoba menenangkan diriku agar
tampak normal.
PRAGMATIC189 SITUS SLOT GACOR DAN TERPERCAYA SE INDONESIA
“Ma’af.. sedang mengerjakan tugas?” suaraku sedikit bergetar. Dia
melirikku sebentar lalu matanya tertuju lagi ke layar komputer, sambil
menjawab, “Iya.. Mas.. aku kelupaan menuliskan beberapa judul buku dalam
daftar kepustakaan, cuma dikit kok.” “Rumahnya deket sini?” “Iya di
asrama, dan saya biasa kerja malam-malam begini,” jawabnya. “Nah..
selesai deh,” dia membereskan kertas-kertas, lalu terdengar suara mesin
printer bekerja. Dia mengambil hasilnya dan kelihatan puas. “Bisa pulang
sama-sama?” aku bertanya sambil mataku sebentar-sebentar mencuri
pandang ke arah pantatnya yang kelihatan besar membayang dibalik celana
trainning kain parasitnya. Aduh, dadaku mendesir. “Sebentar aku tutup
dulu komputerku ya..”
Aku bergegas pergi ke komputerku. “Mas sedang ngerjakan apaan?” Aku
kaget tidak menyangka kalau dia mengikuti aku. “Ah.. ini.. iseng-iseng
aja buka-buka internet, capek sih ngetik serius terus dari tadi.” “Eh..
gambar-gambar gituan yaa? Hi ih!” dia mengangkat bahunya, tapi mulutnya
tersenyum. “Ah.. iseng-iseng aja.. Mau ikutan liat-liat?” tiba-tiba
keberanianku muncul. Dan di luar dugaan dia tidak menolak. “Tapi bentar
aja yaa.. entar keburu malam!” dia langsung duduk di kursi sebelahku.
Makin lama kami makin asyik buka-buka gambar porno, sampai akhirnya,
“Aku mau pulang deh Mas. Udah malem.. Aku bisa pulang sedirian.. deket
kok.” Dia siap berdiri. Tapi dengan reflek tanganku cepat memegang
pergelangannya. Dia terkejut. Aku sudah tidak memperdulikan apa-apa
lagi, kecuali mempraktekkan gambar-gambar yang dilihat tadi. Kemaluanku
sudah menegang.
Tanpa basa basi aku langsung menduduki pahanya dan langsung melumat
bibirnya. “Umh.. mh..” dia berusaha meronta dan menarik kepalanya ke
belakang, tapi tangan kiriku cepat menahan belakang kepalanya, sementara
tangan kananku sudah memegang buah dadanya, memutar-mutar, dan
meremas-remas putingnya. Gerakan perempuan itu makin lama makin lemah,
akhirnya aku berani melepaskan ciumanku, dan beralih menciumi
bagian-bagian tubuh lain, leher, belakang telinga, kembali ke leher,
lalu turun ke bagian belahan buah dadanya. Aku melihat dia juga
menikmatinya. Matanya mulai sayu, bibirnya terbuka merekah.
“Namamu siapa?” aku tampaknya agak bisa mengendalikan keadaan. Dia
tidak menjawab. Hanya matanya yang sayu itu memandang kepadaku. Aku
tidak mengerti maksudnya. Tapi ah tidak perduli aku mengangkat berdiri
tubuhnya, lalu aku duduk di kursi, kutarik badannya dan dia duduk di
pangkuanku. “Ehh.. hh..” dia berdesah ketika kepalaku menyeruduk buah
dada yang masih terhalang T-shirt merah muda di balik jaket jeans yang
terbuka kancingnya. Tanganku segera menaikkan kaosnya, sehingga tampak
bagian bawah dadanya yang masih berada di balik BH. Kunaikkan BH-nya
tanpa melepas, dan kembali mulutku beraksi pada putingnya, sementara
tanganku meremas-remas pantatnya dan pahanya.
“Oohh.. Mas.. Mas.. Aoohh..” aku semakin menggila mendengar
desahnya. Lalu aku ingin melaksanakan niatku untuk menembuskan batang
kemaluanku ke pantatnya. Kubalikkan badannya sehingga dia
membelakangiku. Aku pun berdiri dan menurunkan celana trainingnya dengan
mudah. Dengan tidak sabar celana dalamnya pun segera kuturunkan. Aku
duduk dan kutarik badannya sehingga pantatnya menduduki kemaluanku.
“Aghh.. Uhh” aku terkejut karena kemaluanku yang sedang menegang itu
rasanya mau patah diduduki pantatnya. Tapi nafsuku menghilangkan rasa
sakit itu. Aku genggam kemaluanku dan kutempelkan ke lubang duburnya,
lalu kutekan. “Aaah..” dia menjerit, tubuhnya mengejang ke belakang.
Tapi kemaluanku tidak bisa masuk. Terlalu sempit lubangnya.
Keberingasanku makin menjadi. Aku dorong tubuhnya sehingga posisi
badannya membungkuk pada meja komputer. Pantatnya kelihatan jelas,
bulat. Pelukanku dari belakang tubuhnya membuat dia tertindih di meja.
Kutempelkan kemaluanku pada lubang pantatnya. Sementara tangan kiriku
meremas buah dada kirinya. Mulutku pun tidak henti-hentinya
menggerayangi bagian belakang leher dan punggungnya. Dengan sekali
hentak paksa, kudorong masuk kemaluanku. “Aih.. ah uh aoowww..” aku pun
mersa sedikit kesakitan, tapi kenikmatan yang tiada taranya kurasakan.
“Jangan.. aduh aahh sakiit, tidak deh.. ahh..” Aku semakin bernafsu
mendengar rintihannya. Sambil memeluk buah dadanya., kutarik dia
berdiri. Lalu aku pun menggerakan kemaluanku maju mundur, mulutku
menciumi pipinya dari samping belakang, sementara tanganku meremas buah
dadanya, seolah-olah ingin menghancur lumatkan tubuh perempuan yang
sintal itu.
Perempuan itu tidak henti-hentinya merintih, terutama ketika
kemaluanku kudorong masuk. Beberapa tetes air mata menggelinding di
pipinya. Mungkin kesakitan, aku tidak tahu. Tapi apa daya aku pun sudah
tidak kuat menahan keluar air maniku lagi dan tubuhku mengejang,
perempuan itupun mengejang dan merintih, karena tanganku dengan sangat
keras meremas buah dadanya. Badannya ikut tertarik ke belakang, dan
mulutku tanpa terasa menggigit lehernya. “Ouhh.. hh..” kenikmatan luar
biasa ketika kemaluanku menyemburkan air maniku ke pantatnya. Hangat
sekali. Aku terduduk dia pun terduduk di atas kemaluanku yang masih
menancap di pantatnya. Kepalaku terkulai di punggungnya. Perempuan itu
memandang ke arah layar komputer dengan pandangan kosong. Sementara
tetes air matanya masih terus membasahi pipinya.
“Ma’afkan aku.. Aku tidak kuat nahan diri,” aku mencoba
menghiburnya. Tapi dia tidak menjawab. “Siapa namamu?” tanyaku dengan
lembut. Kembali dia membisu. “Aku mau pulang.. kamu tidak perlu nganter
aku.. biar orang-orang tidak tanya macem-macem,” katanya dengan suara
perlahan. “Aku sebenarnya tau siapa kamu.. Mas,” dia berbicara tanpa
menoleh ke arahku. “Ha.. aku..” aku tekejut. “Ya.. karena aku temen baru
pacarmu, Yuni, aku pernah liat foto-fotomu di tempat dia.” Kali ini dia
menatapku dengan tajam. “Tapi.. aku sama sekali tidak nyangka
kelakuanmu seperti ini,” selesai dia menaikkan celana dan membetulkan BH
dan T-shirtnya. “Tapi tidak usah khawatir aku tidak bakalan cerita
kejadian ini, aku takut ini akan melukai hatinya. Dia setia sama kamu,”
lanjutnya. “Kamu tidak.. kasian ama dia?” Aku terdiam, termangu, bahkan
tidak menyadari kalau dia sudah berlalu.
Akhir-akhir ini aku tahu nama gadis itu Rani, memang dia teman
pacarku, Yuni. Aku menyesali perbuatanku. Rani tetap baik pada kami
berdua. Kami bahkan menjadi kawan akrab. Seperti tidak pernah terjadi
apa-apa. Entah sampai kapan dia akan menyimpan rahasia ini. Aku
kadang-kadang khawatir, kadang-kadang juga memandang iba pada Rani. Oh,
aku telah menghancurkan gadis yang tulus.


Komentar
Posting Komentar