PRAGMATIC189 - Aku sedang menunggu clientku dan mencari tempat yang asyik dimana disana ada sajian live music untuk menghibur pengunjung saat itu yang main band beraliran jazz aku lihat dari penyayinya seorang cewek suaranya enak sekali , wajah manisnya ditambah dengan lesung pipinya membuat dia semakin manis , kira kira umurnya 26 tahun. “Para pengunjung sekalian.. Malam ini saya, Della bersama band akan menemani anda semua. Jika ada yang ingin bernyanyi bersama saya, mari.. saya persilakan. Atau jika ingin request lagu.. silakan”.
Penyanyi yang ternyata bernama Della itu mulai menyapa pengunjung Cafe. Aku hanya tertarik mendengar suaranya. Percakapan dengan client menyita perhatianku. Sampai kemudian telingaku menangkap perubahan cara bermain dari sang keyboardist. Aku melihat ke arah band tersebut dan melihat Della ternyata bermain keyboard juga.
Della bermain solo keyboard sambil menyanyikan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang sangat sederhana. Aku menikmati semua jenis musik dan berusaha mengerti semua jenis musik. Termasuk jazz yang memang ‘brain music’. Musik cerdas yang membuat otakku berpikir setiap mendengarnya. Della ternyata bermain sangat aman. Aku terkesima menemukan seorang penyanyi cafe yang mampu bermain keyboard dengan baik. Tiba-tiba aku menjadi sangat tertarik dengan Della. Aku menuliskan request laguku dan memberikannya melalui pelayan cafe tersebut. “The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy.”, tulisku di kertas request sekaligus menuliskan nomor HP-ku. Aku melanjutkan percakapan dengan clientku dan tak lama kemudian aku mendengar suara Della.
“The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..?”
Bahasa tubuh Della menunjukkan bahwa dia ingin tahu dimana aku duduk.
Aku melambaikan tanganku dan tersenyum ke arahnya. Posisi dudukku tepat
di depan band tersebut. Jadi, dengan jelas Della bisa melihatku. Kulihat
Della membalas senyumku. Dia mulai memainkan keyboardnya. Sambil
bermain dan bernyanyi, matanya menatapku. Aku pun menatapnya. Untuk
menggodanya, aku mengedipkan mataku. Aku kembali berbicara dengan
clientku. Tak lama kudengar suara Della menghilang dan berganti dengan
suara penyanyi pria. Kulihat sekilas Della tidak nampak. Tit.. Tit..
Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.
PRAGMATIC189 - SITUS SLOT GACOR DAN TERPERCAYA SE INDONESIA
“Della.” tampak pesan SMS di HP-ku. Wah.. Della meresponsku. Segera kutelepon dia.
“Hai.. Aku Boy. Kau dimana, Della?”
“Hi Boy. Aku di belakang. Ke kamar mandi. Kenapa ingin tahu HP-ku?”
“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku terus terang. Kudengar tawa ringan dari Della.
“Rayuan ala Boy, nih?”
“Lho.. Bukan rayuan kok. Tetapi pujian yang pantas buatmu yang memang
sexy.. Oh ya, pulang dari cafe jam berapa? Aku antar pulang ya?”
“Jam 24.00. Boleh. Tapi kulihat kau dengan temanmu?”
“Oh.. dia clientku. Sebentar lagi dia pulang kok. Aku hanya mengantarnya sampai parkir mobil. Bagaimana?”
“Okay.. Aku tunggu ya.”
“Okay.. See you soon, sexy..”
Aku melanjutkan sebentar percakapan dengan client dan kemudian
mengantarkannya ke tempat parkir mobil. Setelah clientku pulang aku
kembali ke cafe. Waktu masih menunjukkan pukul 23.30. Masih 30 menit
lagi. Aku kembali duduk dan memesan hot tea. 30 menit aku habiskan
dengan memandang Della yang menyanyi. Mataku terus menatap matanya
sambil sesekali aku tersenyum. Kulihat Della dengan percaya diri
membalas tatapanku. Gadis ini menarik hingga membuatku ingin
mencumbunya. Dalam perjalanan mengantarkan Della pulang, aku sengaja
menyalakan AC mobil cukup besar sehingga suhu dalam mobil dingin sekali.
Della tampak menggigil.
“Boy, AC-nya dikecilin yah?” tangan Della sambil meraih tombol AC untuk
menaikkan suhu. Tanganku segera menahan tangannya. Kesempatan untuk
memegang tangannya.
“Jangan.. Udah dekat rumahmu kan? Aku tidak tahan panas. Suhu segini aku
baru bisa. Kalau kamu naikkan, aku tidak tahan..” alasanku.
Aku memang ingin membuat Della kedinginan. Kulihat Della bisa mengerti.
Tangan kiriku masih memegang tangannya. Kuusap perlahan. Della diam
saja.
“Kugosok ya.. Biar hangat..” kataku datar. Aku memberinya stimulum ringan. Della tersenyum. Dia tidak menolak.
“Ya.. Boleh. Habis dingin banget. Oh ya, kamu suka jazz juga ya?”
“Hampir semua musik aku suka. Oh ya, baru kali ini aku melihat penyanyi
jazz wanita yang bisa bermain keyboard. Mainmu asyik lagi.”
“Haha.. Ini malam pertama aku main keyboard sambil menyanyi.”
“Oh ya? Tapi tidak terlihat canggung. Oh ya, kudengar tadi mainmu banyak
memakai scale altered dominant ya?” aku kemudian memainkan tangan
kiriku di tangannya seolah-olah aku bermain piano.
“What a Boy! Kamu tahu jazz scale juga? Kamu bisa main piano yah?” Della tampak terkejut. Mukanya terlihat penasaran.
“Yah, dulu main klasik. Lalu tertarik jazz. Belum mahir kok.” Aku berhenti di depan rumah Della.
“Tinggal dengan siapa?” tanyaku ketika kami masuk ke rumahnya. Ya, aku
menerima ajakannya untuk masuk sebentar walaupun ini sudah hampir jam 1
pagi.“Aku kontrak rumah ini dengan beberapa temanku sesama penyanyi
cafe. Lainnya belum pulang semua. Mungkin sekalian kencan dengan
pacarnya.”
Della masuk kamarnya untuk mengganti baju. Aku tidak mendengar suara
pintu kamar dikunci. Wah, kebetulan. Atau Della memang memancingku? Aku
segera berdiri dan nekat membuka pintu kamarnya. Benar! Della berdiri
hanya dengan bra dan celana dalam. Di tangannya ada sebuah kaos. Kukira
Della akan berteriak terkejut atau marah. Ternyata tidak. Dengan santai
dia tersenyum.
“Maaf.. Aku mau tanya kamar mandi dimana?” tanyaku mencari alasan. Justru aku yang gugup melihat pemandangan indah di depanku.
“Di kamarku ada kamar mandinya kok. Masuk aja.”
Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya aku melihat ada sebuah keyboard. Aku
tidak jadi ke kamar mandi malah memainkan keyboardnya. Aku memainkan
lagu “Body and Soul” sambil menyanyi lembut. Suaraku biasa saja juga
permainanku. Tapi aku yakin Della akan tertarik. Beberapa kali aku
membuat kesalahan yang kusengaja. Aku ingin melihat reaksi Della.
“Salah tuh mainnya.” komentar Della. Dia ikut bernyanyi.
“Ajarin dong..” kataku.
Dengan segera Della mengajariku
memainkan keyboardnya. Aku duduk sedangkan Della berdiri membelakangiku.
Dengan posisi seperti memelukku dari belakang, dia menunjukkan sekilas
notasi yang benar. Aku bisa merasakan nafasnya di leherku.
Wah.. Sudah jam 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku
lakukan. Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Della saling
bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Kalau
ditolak, berarti dia tidak bermaksud apa-apa denganku. Jika dia diam
saja, aku boleh melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis halus
tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.
“Katanya mau ke kamar mandi?” tanyannya sambil tersenyum. Oh ya.. Aku melupakan alasanku membuka pintu kamarnya.
“Oh ya..” aku berdiri.
Ada rasa sesak di dadaku menerima penolakannya. Tapi aku tak menyerah.
Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kamar mandi!
“Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Della terkejut. Aku tertawa saja.
Kubawa dia ke kamar mandi dan kusiram dengan air! Biarlah. Kalau mau
marah ya aku terima saja. Yang jelas aku terus berusaha mendapatkannya.
Ternyata Della malah tertawa. Dia membalas menyiramku dan kami sama-sama
basah kuyup. Segera aku menyandarkannya ke dinding kamar mandi dan
menciumnya!
Della membalas ciumanku. Bibir kami saling memagut. Sungguh nikmat
bercumbu di suhu dingin dan basah kuyup. Bibir kami saling berlomba
memberikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya.
Kemudian bra dan celana pendeknya. Sementara Della juga membuka kaos dan
celanaku. Kami sama-sama tinggal hanya memakai celana dalam. Sambil
terus mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut dan merangsang
payudaranya. Sementara tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan
sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya aku bisa meraih
vaginanya. Menggosok-gosoknya dengan jariku.
“Agh..” kudengar rintihan Della. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy
sekali. Berat dan basah. Perlahan aku merasakan penisku ereksi.
“Egh..” aku menahan nafas ketika kurasakan tangan Della menggenggam batang penisku dan meremasnya.
Tak lama dia mengocok penisku hingga membuatku makin terangsang. Tubuh
Della kuangkat dan kududukkan di bak air. Cukup sulit bercinta di kamar
mandi. Licin dan tidak bisa berbaring. Sewaktu Della duduk, aku hanya
bisa merangsang payudara dan mencumbunya. Sementara pantat dan vaginanya
tidak bisa kuraih. Della tidak mau duduk. Dia berdiri lagi dan menciumi
puting dadaku!
Ternyata enak juga rasanya. Baru kali ini putingku dicium dan dijilat.
Della cukup aktif. Tangannya tak pernah melepas penisku. Terus dikocok
dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang
seakan-akan dia sedang menari dan menikmati musik.
Merasa terganggu dengan celana dalam, aku melepasnya dan juga melepas
celana dalam Della. Kami bercumbu kembali. Lidahku menekan lidahnya.
Kami saling menjilat dan menghisap. Rintihan kecil dan desahan nafas
kami saling bergantian membuat alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu
yang dingin membuat kami saling merapat mencari kehangatan. Ada sensasi
yang berbeda bercinta ketika dalam keadaan basah. Waktu bercumbu, ada
rasa ‘air’ yang membuat ciuman berbeda rasanya dari biasanya.
Aku menyalakan shower dan kemudian di bawah air yang mengucur dari
shower, kami semakin hangat merapat dan saling merangsang. Aliran air
yang membasahi rambut, wajah dan seluruh tubuh, membuat tubuh kami makin
panas.
Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas agak keras,
sementara bibirku melumat makin ganas bibir Della. Sesekali Della
menggigit bibirku. Perlahan tanganku merayap naik sambil memijat ringan
pinggang, punggung dan bahu Della. Dari bahasa tubuhnya, Della sangat
menikmati pijatanku.
“Ogh.. Its nice, Boy.. Och..” Della mengerang.
Lidahku mulai menjilati telinganya. Della menggelinjang geli. Tangannya
ikut meremas pantatku. Aku merasakan payudara Della makin tegang.
Payudara dan putingnya terlihat begitu seksi. Menantang dengan puting
yang menonjol coklat kemerahan.
“Payudaramu seksi sekali, Della.. Ingin kumakan rasanya..” candaku
sambil tertawa ringan. Della memainkan bola matanya dengan genit.
“Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.
“Enak lho..” sambungnya sambil menjilat telingaku. Ugh.. Darahku
berdesir. Perlahan ujung lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya
persis di ujung putingnya.
“Ergh..” desah Della. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.
Mulai dari ujung lidah sampai akhirnya dengan seluruh lidahku, aku
menjilatnya. Kemudian aku menghisapnya dengan lembut, agak kuat dan
akhirnya kuat. Tak lama kemudian Della kemudian membuka kakinya dan
membimbing penisku memasuki vaginanya.
“Ough.. Enak.. Ayo, Boy” Della memintaku mulai beraksi.
Penisku perlahan menembus vaginanya. Aku
mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil bibir kami saling
melumat. Aku berusaha keras membuatnya merasakan kenikmatan. Della
dengan terampil mengikuti tempo kocokanku.
Kami bekerja sama dengan harmonis saling memberi dan mendapatkan
kenikmatan. Vaginanya masih rapat sekali. Mirip dengan Reni. Apakah
begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum pernah bercinta dengan
perawan, kecuali dengan Reni yang selaput daranya tembus oleh jari
pacarnya.
“Agh.. Agh..” Della mengerang keras. Lama kelamaan suaranya makin keras.
“Come on, Boy.. Fuck me..” ceracaunya.
Rupanya Della adalah tipe wanita yang bersuara keras ketika bercinta.
Bagiku menyenangkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih
hebat menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku makin cepat.
Beberapa saat kemudian aku berhenti. Mengatur nafas dan mengubah posisi
kami. Della menungging dan aku ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy
style. Kulihat payudara Della sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan
usil jariku meraba anusnya, kemudian memasukkan jariku.
“Hey.. Perih tau!” teriak Della. Aku tertawa.
“Sorry.. Kupikir enak rasanya..” Aku menghentikan memasukkan jari ke
anusnya tetapi tetap bermain-main di sekitar anusnya hingga membuatnya
geli.
Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Aku merasakan saat-saat orgasmeku
hampir tiba. Aku berusaha keras mengatur ritme dan nafasku.
“Aku mau nyampe, Della..”
“crot di dalam aja boy. Udah lama aku tidak merasakan semburan
kenikmatan pria” Aku agak terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau hamil
gimana, pikirku.
“Aman, Boy. Aku ada obat anti hamil kok..” Della meyakinkanku. Aku yang
tidak yakin. Tapi masa bodoh ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok lagi
dengan gencar. Della berteriak makin keras.
“Yes.. Aku juga hampir sampe, Boy…come on.. come on.. lebih dalam boy.. oh yeah..”
Saat-saat itu makin dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tiada tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..
“Aku orgasme. Sesaat kemudian kurasakan tubuh Della makin bergetar
hebat. Aku berusaha keras menahan ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang
mengalami puncak kenikmatan.
“Aarrgghh.. Yeeaahh..” Della menyusulku orgasme.
Dia menjerit kuat sekali kemudian membalikkan badannya dan memelukku.
Kami kemudian bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku
memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher,
payudara dan kemudian perutnya.
Aku membuatnya kegelian ketika hidungku
bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia. Mengambil handuk dan
mengeringkan tubuh kami berdua. Sambil terus mencuri-curi ciuman dan
rabaan, kami saling menggosok tubuh kami. Dengan tubuh telanjang aku
mengangkatnya ke tempat tidur, membaringkannya dan kembali menciumnya.
Della tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.
“Thanks Boy.. Sudah lama sekali aku tidak bercinta. Kamu berhasil memuaskanku..”
Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku
hanya berusaha melayani setiap wanita yang bercinta denganku.
Memperhatikan kebutuhannya.
Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba
pintu kamar terbuka. Sial, kami tadi lupa mengunci pintu!! Seorang
wanita muncul. Aku tidak sempat lagi menutupi tubuh telanjangku.
“Ups.. Gak usah terkejut. Dari tadi aku udah dengar teriakan Della. Tadi
malah sudah mengintip kalian di kamar mandi..” kata wanita itu. Aku
kecolongan. Tapi apa boleh buat. Biarkan saja. Kulihat Della tertawa.
“Kenalin, dia Meri. Mbak.. Dia Boy.” aku menganggukkan kepalaku padanya.
“Hi Meri..” sapaku.
Kemudian aku berdiri. Dengan penis lemas terayun aku mencari kaos dan
celana pendek Della dan memakainya. Meri masuk ke kamar. Busyet, ni anak
tenang sekali, Pikirku. Sudah jam 2 pagi. Aku harus pulang


Komentar
Posting Komentar