PRAGMATIC189 - Aku adalah gadis berusia 19 tahun. kawan-kawan mengatakan aku cantik, tinggi 170, kulit putih dengan rambut lurus sebahu. Aku termasuk populer diantara kawan-kawan, pokoknya ’gaul abis’.
Namun demikian aku masih mampu menjaga kesucianku sampai.. Suatu saat aku dan enam orang kawan Ani (19), Susan (20), Kevin (22), Dimas (22), John (23) dan Erick (20). menghabiskan liburan dengan menginap di villa keluarga Erick di Puncak.
Ani walaupun tidak terlalu tinggi (160) memiliki tubuh padat dengan kulit putih, sangat sexy apalagi dengan ukuran payudara 36b-nya, Ani telah berpacaran cukup lama dengan Kevin. Diantara kami bertiga Susan yang paling cantik, tubuhnya sangat proporsi tidak heran kalau sang pacar, Dimas, sangat tergila-gila dengannya.
Sementara aku, Erick dan John masih ’jomblo’. Erick yang berdarah India sebenarnya suka sama aku, dia lumayan ganteng hanya saja bulu-bulu dadanya yang lebat terkadang membuat aku ngeri, karenanya aku hanya menganggap dia tidak lebih dari sekedar teman.
Acara ke Puncak kami mulai dengan ’hang-out’ disalah satu kafe terkenal di kota kami. Larut malam baru tiba di Puncak dan langsung menyerbu kamar tidur, kami semua tidur dikamar lantai atas. Udara dingin membuatku terbangun dan menyadari hanya Ani yang ada sementara Susan entah kemana.
Rasa haus membuatku beranjak menuju dapur untuk mengambil minum. Sewaktu melewati kamar belakang dilantai bawah, telingaku menangkap suara orang yang sedang bercakap-cakap.
Kuintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, ternyata Dimas dan Susan. Niat menegur mereka aku urungkan, karena kulihat mereka sedang berciuman, awalnya kecupan-kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan. Keingintahuan akan kelanjutan adegan itu menahan langkahku menuju dapur.
Adegan ciuman itu bertambah ’panas’ mereka saling memagut dan berguling-gulingan, lidah Dimas menjalar bagai bagai ular ketelinga dan leher sementara tangannya menyusup kedalam t-shirt meremas-remas payudara yang menyebabkan Susan mendesah-desah, suaranya desahannya terdengar sangat sensual.
Disibakkannya t-shirt Susan dan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putingnya, menghisap dan meremas-remas payudara Susan. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif yang tertutup cd. Dimas berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi sepertinya Susan keberatan.
Lamat-lamat kudengan pembicaraan mereka.
“Jangan Mas” tolak Susan.
“Kenapa sayang” tanya Dimas.
“Aku belum pernah.. gituan”
“Makanya dicoba sayang” bujuk Dimas.
“Takut Mas” Susan beralasan.
“Ngga apa-apa kok” lanjut Dimas membujuk
“Tapi Mas”
“Gini deh”, potong Dimas, “Aku cium aja, kalau kamu ngga suka kita berhenti”
“Janji ya Mas” sahut Susan ingin meyakinkan.
“Janji” Dimas meyakinkan Susan.
Dimas tidak membuang-buang waktu, ia membuka t-shirt dan celana pendeknya dan kembali menikmati bukit kenikmatan Susan yang indah itu, perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun celana dalam Susan.
Dengan hati-hati Dimas membuka kedua
paha Susan dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan.
Tubuh Susan bergetar merasakan lidah Dimas.
“Agghh.. Mas.. oohh.. enakk.. mas”
Mendengar desahan Susan, Dimas semakin menjadi-jadi, ia bahkan
menghisap-hisap kewanitaan Susan dan meremas-remas payudaranya dengan
liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Susan,
tubuhnya menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak
berkeputusan, tangannya mengusap-usap dan menarik-narik rambut Dimas,
seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan.
Susan semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut Dimas melahap kewanitaannya. Kepalanya mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai, semua yang diraih dicengramnya kuat-kuat. Susan sudah tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. Dimas tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia membuka CD nya dan merangkak naik keatas tubuh Susan.
PRAGMATIC189 - SITUS SLOT GACOR DAN TERPERCAYA SE INDONESIA
Mereka bergumul dalam ketelanjangan yang berbalut birahi. Sesekali Dimas di atas sesekali dibawah disertai gerakan erotis pinggulnya, Susan tidak tinggal diam ia melakukan juga yang sama. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan. Melihat itu semua membuat degup jantung berdetak kencang dan bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.. Aku mulai terjangkit virus birahi mereka.
Dimas kemudian mengangkat tubuhnya yang
ditopang satu tangan, sementara tangan lain memegang kejantannya. Dimas
mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha Susan. “Jangan Mas, katanya
cuma cium aja” sergah Susan.
“Rileks San” bujuk Dimas, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan Susan.
“Tapi.. Mas.. oohh.. aahh” protes Susan tenggelam dalam desahannya sendiri.
“Nikmatin aja San”
“Ehh.. akkhh.. mpphh” Susan semakin mendesah
“Gitu San.. rileks.. nanti lebih enak lagi”
“He eh Mas.. eesshh”
“Enak San..?”
“Ehh.. enaakk Mas”
Aku benar-benar ternganga dibuatnya. Seumur hidup belum pernah aku
melihat milik pria yang sebenarnya, apalagi adegan ’live’ seperti itu.
Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Susan yang terdengar.
“Aku masukin ya San” pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
Dimas langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan Susan.
“Aakhh.. Mas.. eengghh” erang Susan cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuhku meremang mendengarnya.
Dimas lebih merunduk lagi dengan sikut menahan badan, perlahan
pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat
payudara Susan.
“Teruss.. Mas.. enak banget.. ohh.. isep yang kerass sayangg” Susan meracau.
“Aku suka sekali payudara kamu San.. mmhh”
“Aku juga suka kamu isep Mas.. ahh” Susan menyorongkan dadanya membuat Dimas bertambah mudah melumatnya.
Bukan hanya Susan yang terayun-ayun gelombang birahi, aku yang melihat
semua itu turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar aku mulai meremas-remas
payudara dan memainkan putingku sendiri, membuat mataku terpejam-pejam
merasakan nikmatnya.
Dimas tahu Susan sudah pada situasi
’point of no return’, ia merebahkan badannya menindih Susan dan
memeluknya seraya melumat mulut, leher dan telinga Susan dan.. kulihat
Dimas menekan pinggulnya, dapat kubayangkan bagaimana kejantanannya
melesak masuk ke dalam rongga kenikmatan Susan.
“Auuwww.. Mas.. sakiitt” jerit Susan.
“Stop.. stop Mas”
“Rileks San… supaya enak nanti” bujuk Dimas, sambil terus menekan lebih dalam lagi.
“Sakit Mas.. pleasee.. jangan diterusin”
Terlambat.. seluruh kejantanan Dimas telah terbenam di dalam rongga
kenikmatan Susan. Beberapa saat Dimas tidak bergerak, ia mengecup-ngecup
leher, pundak dan akhirnya payudara Susan kembali jadi bulan-bulanan
lidah dan mulutnya. Perlakuan Dimas membuat birahi Susan terusik
kembali, ia mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin
menjadi-jadi. Bagian belakang tubuh Dimas yang mulai dari punggung,
pinggang sampai buah pantatnya tak luput dari remasan-remasan tangan
Susan.
Dimas memahami sekali keadaan Susan,
pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya
bertambah ganas melahap gundukan daging Susan yang dihiasi puting kecil
kemerah-merahan.
“Uhh.. ohh.. Mas” desah kenikmatan Susan, kakinya dibuka lebih melebar lagi.
Dimas tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.
“Agghh.. ohh.. terus Masss” Susan
meracau merasakan kejantanan Dimas yang berputar-putar di kewanitaannya,
kepalanya tengadah dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang.
Merasakan gerakannya mendapat respon Dimas tidak ragu lagi untuk
menarik-memasukan batang kemaluannya.
“Aaauugghh.. sshh.. Mass.. ohh.. Mass” Susan tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saja dari mulutnya.
Pinggul Dimas yang turun naik dan kaki
Susan yang terbuka lebar membuat darahku berdesir, menimbulkan
denyut-denyut di bagian sensitifku, kumasukan tangan kiri kebalik celana
pendek dan CD. Tubuhku bergetar begitu jari-jemariku meraba-raba
kewanitaanku.
“Ssshh.. sshh” desisku tertahan manakala jari tengahku menyentuh bibir
kemaluanku yang sudah basah, sesaat ’life show’ Dimas dan Susan
terlupakan. Kesadaranku kembali begitu mendengar pekikan Susan.
“Adduuhh.. Mas.. nikmat sekalii” Susan terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.
“Nikmati San.. nikmati sepuas-puasnya”
“Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Mas”
“Punya kamu enaakk sekalii San.. uugghh”
“Ohh.. Mass.. aku sayang kamu.. sshh” desah Susan seraya memeluk, pujian
Dimas rupanya membuat Susan lebih agresif, pantatnya bergoyang
mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat Dimas.
“Enaak San.. terus goyang.. uhh.. eenngghh” merasakan goyangan Susan Dimas semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.
“Ahh.. aahh.. Mass.. teruss.. sayaang” pekik Susan.
Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.
“Mass.. tekan sayangg.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh” erang Susan.
Dimas menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh keduanya pun mengejang.
Gema erangan kenikmatan mereka memenuhi seantero kamar dan kemudian
keduanya.. terkulai lemas.
Dikamar aku gelisah mengingat-ingat kejadian yang baru saja kulihat, bayang-bayang Dimas menyetubuhi Susan begitu menguasai pikiranku. Tak kuasa aku menahan tanganku untuk kembali mengusap-usap seluruh bagian sensitif di tubuhku namun keberadaan Ani sangat mengganggu, menjelang ayam berkokok barulah mataku terpejam. Dalam mimpi adegan itu muncul kembali hanya saja bukan Susan yang sedang disetubuhi Dimas tetapi diriku.
Jam 10.00 pagi harinya kami jalan-jalan menghirup udara puncak, sekalian membeli makanan dan cemilan sementara Ani dan Kevin menunggu villa. Belum lagi 15 menit meninggalkan villa perutku tiba-tiba mulas, aku mencoba untuk bertahan, tidak berhasil, bergegas aku kembali ke villa.
Selesai dari kamar mandi aku mencari Ani dan Kevin, rupanya mereka sedang di ruang TV dalam keadaan.. bugil. Lagi-lagi aku mendapat suguhan ’live show’ yang spektakuler. Tubuh Ani setengah melonjor di sofa dengan kaki menapak kelantai, Kevin berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua kaki Ani, Mulutnya mengulum-ngulum kewanitaan Ani, tak lama kemudian Kevin meletakan kedua tungkai kaki Ani dibahunya dan kembali menyantap ’segitiga venus’ yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi Ani berkelojotan diperlakukan seperti itu.
“Ssshh.. sshh.. aahh” desis Ani.
“Oohh.. Vin.. nikmat sekalii.. sayang”
“Gigit.. Vin.. pleasee.. gigitt”
“Auuwww.. pelan sayang gigitnyaa”
Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda dirinya satu tangan Ani
mencengkram kepala Kevin, tangan lainnya meremas-remas payudara 36b-nya
sendiri serta memilin putingnya.
Beberapa saat kemudian mereka berganti
posisi, Ani yang berlutut di lantai, mulutnya mengulum kejantanan Kevin,
kepalanya turun naik, tangannya mengocok-ngocok batang kenikmatan itu,
sekali-kali dijilatnya bagai menikmati es krim. Setiap gerakan kepala
Ani sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa bagi Kevin.
“Aaahh.. aauugghh.. teruss sayangg” desah Kevin.
“Ohh.. sayangg.. enakk sekalii”
Suara desahan dan erangan membuat Ani tambah bernafsu melumat kejantanan Kevin.
“Ohh.. Anii.. ngga tahann.. masukin sayangg” pinta Kevin.
Ani menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disofa dengan pinggul Kevin berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang kenikmatan Kevin, diarahkan kemulut kewanitaannya dan dibenamkan. “Aaagghh” keduanya melenguh panjang merasakan kenikmatan gesekan pada bagian sensitif mereka masing-masing. Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya Ani mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja Kevin mengeliat-geliat merasakan batangnya diurut-urut oleh kewanitaan Ani. Sebaliknya, milik Kevin yang menegang keras dirasakan oleh Ani mengoyak-ngoyak dinding dan lorong kenikmatannya. Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut manakala kedua insan itu sedang dirasuk kenikmatan duniawi.
Tontonan itu membuat aku tidak dapat
menahan keinginanku untuk meraba-raba2 sekujur tubuhku, rasa gatal
begitu merasuk kedalam kemaluanku. Kutinggalkan ’live show’ bergegas
menuju kamar, kulampiaskan birahiku dengan mengesek-gesekan bantal di
kewanitaanku. Merasa tidak puas kusingkap rok miniku, kuselipkan
tanganku kedalam CD-ku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan
kewanitaanku dan.. akhirnya menyentuh klitorisku.
“Aaahh.. sshh.. eehh” desahku merasakan nikmatnya elusan-elusanku
sendiri, jariku merayap tak terkendali ke bibir kemaluanku, membuka
belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan
pelancar, manakala kenikmatan semakin membalut diriku tiba-tiba pintu
terbuka.. Ani! masih dengan pakaian kusut menerobos masuk, untung aku
masih memeluk bantal, sehingga kegiatan tanganku tidak terlihat olehnya.
“Ehh Sus.. kok ada disini, bukannya tadi ikut yang lain?” sapa Ani terkejut.
“Iya nii.. balik lagi.. perut mules”
“Aku suruh Kevin beli obat ya”
“Ngga usah Ani.. udah baikan kok”
“Yakin Sus?”
“Iya ngga apa-apa kok” jawabku meyakinkan Ani yang kemudian kembali ke
ruang tengah setelah mengambil yang dibutuhkannya. Sirna sudah birahiku
karena rasa kaget.
Malam harinya selesai makan kami semua
berkumpul diruang tengah, Erick langsung memutar VCD X-2. Adegan demi
adegan di film mempengaruhi kami, terutama kawan-kawan pria, mereka
kelihatan gelisah. Film masih setengah main Ani dan Kevin menghilang,
tak lama kemudian disusul oleh Susan dan Dimas. Tinggal aku, John dan
Erick, kami duduk dilantai bersandar pada sofa, aku di tengah. Melihat
adegan film yang bertambah panas membuat birahiku terusik. Rasa gatal
menyeruak dikewanitaanku mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik
berlalu semakin memuncak saja, aku jadi salah tingkah. John yang pertama
melihat kegelisahanku.
“Kenapa Sus, gelisah banget horny ya” tegurnya bercanda.
“Ngga lagi, ngaco kamu John” sanggahku.
“Kalau horny bilang aja Sus.. hehehe.. kan ada kita-kita” Erick menimpali.
“Rese’ nih berdua, nonton aja tuh” sanggahku lagi menahan malu.
John tidak begitu saja menerima
sanggahanku, diantara kami ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu
ia tahu persis apa yang sedang aku rasakan. John tidak
menyia-nyiakannya, bahuku dipeluknya seperti biasa ia lakukan, seakan
tanpa tendensi apa-apa.
“Santai Sus, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal” bisik John sambil meremas pundakku.
Remasan dan terpaan nafas John saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu
di tubuhku meremang, tanpa terasa tanganku meremas ujung rok. John
menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal
lagi tanganku jadi meremas pahanya.
“Remas aja paha aku Sus daripada rok” bisik John lagi.
Kalau sedang bercanda jangankan paha, pantatnya yang ’geboy’ saja kadang
aku remas tanpa rasa apapun, kali ini merasakan paha John dalam
remasanku membuat darahku berdesir keras.
“Ngga usah malu Sus, santai aja” lanjutnya lagi.
Entah karena bujukannya atau aku sendiri yang menginginkan, tidak jelas,
yang pasti tanganku tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan
yang ’wow’ kuremas pahanya. Merasa mendapat angin, John melepaskan
rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas pahaku, awalnya masih
dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya
membuatku merinding.
Entah bagaimana mulainya tanpa kusadari
tangan John sudah berada dipaha dalamku, tangannya mengelus-elus dengan
halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu
kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangan John yang semakin
menjadi-jadi.
“Sus gue suka deh liat leher sama pundak kamu” bisik John seraya mengecup pundakku.
Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu.
“Jangan John” namun aku berusaha menolak.
“Kenapa Sus, cuma pundak aja kan” tanpa perduli penolakanku John tetap
saja mengecup, bahkan semakin naik keleher, disini aku tidak lagi
berusaha ’jaim’.
“John.. ahh” desahku tak tertahan lagi.
“Enjoy aja Sus” bisik John lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku.
“Ohh Sus” aku sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam
sejak melihat ’live show’ dan film, perlahan merayapi lagi tubuhku.
Aku hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut John di leher dan
telingaku. Erick yang sedari tadi asik nonton melihatku seperti itu
tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak,
leher dan telinga sebelah kiriku jadi sasaran mulutnya.
Melihat aku sudah pasrah mereka semakin
agresif. Tangan John semakin naik hingga akhirnya menyentuh kewanitaanku
yang masih terbalut CD. Elusan-elusan di kewanitaanku, remasan Erick di
payudaraku dan kehangatan mulut mereka dileherku membuat magma birahiku
menggelegak sejadi-jadinya.
“Agghh.. Johnnn..Rickkk… ohh.. sshh” desahanku bertambah keras.
Erick menyingkap tang-top dan braku bukit kenyal 34b-ku menyembul,
langsung dilahapnya dengan rakus. John juga beraksi memasukan tangannya
kedalam CD meraba-raba kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan
pelicin. Aku jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuhku
bergelinjang keras.
“Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh” desahanku berganti menjadi erangan-erangan.
Mereka melucuti seluruh penutup tubuhku, tubuh polosku dibaringkan
dilantai beralas karpet dan mereka pun kembali menjarahnya. Erick
melumat bibirku dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga
mulutku, lidah kami saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya.
Sementara John menjilat-jilat pahaku lama kelamaan semakin naik..
naik.. dan akhirnya sampai di kewanitaanku, lidahnya bergerak-gerak liar
di klitorisku, bersamaan dengan itu Erick pun sudah melumat payudaraku,
putingku yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.
Diperlakukan seperti itu membuatku
kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang diawang- awang, terlena
dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Bahkan aku mulai berani
punggung Erick kuremas-remas, kujambak rambutnya dan merengek-rengek
meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.
“Aaahh.. Johnnn.. Rickkk.. teruss.. sshh.. enakk sekalii”
“Nikmatin Sus… nanti bakal lebih lagi” bisik Erick seraya menjilat dalam-dalam telingaku.
Mendengar kata ’lebih lagi’ aku seperti tersihir, menjadi hiperaktif
pinggul kuangkat-angkat, ingin John melakukan lebih dari sekedar
menjilat, ia memahami, disantapnya kewanitaanku dengan menyedot-nyedot
gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairanku. Tidak
berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak,
tubuhku menegang, kupeluk Erick-yang sedang menikmati puting susu-dengan
kuatnya.
“Aaagghh.. Johnn.. Rickk.. akuu.. oohh” jeritku keras, dan merasakan
hentak-hentakan kenikmatan didalam kewanitaanku. Tubuhku melemas..
lungai.
John dan Erick menyudahi ’hidangan’ pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata kuingat-ingat apa yang baru saja kualami. Permainan Erick di payudara dan John di kewanitaanku yang menyebarkan kenikmatan yang belum pernah kualami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar birahi diseluruh tubuhku. Aku semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba kurasakan hembusan nafas ditelingaku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan lidah Erick mulai lagi, tapi kali ini tubuhku seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata Erick sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Begitupun John sudah bugil, ia membuka kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.
Mataku terpejam, aku sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuhku sebagai ’hidangan’ utama. Ada rasa kuatir dan takut tapi juga menantikan kelanjutannya dengan berdebar. Begitu kurasakan mulut John yang berpengalaman mulai beraksi.. hilang sudah rasa kekuatiran dan ketakutanku. Gairahku bangkit merasakan lidah John menjalar dibibir kemaluanku, ditambah lagi Erick yang dengan lahapnya menghisap-hisap putingku membuat tubuhku mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuhku.
“Aaahh.. Johnn.. Rickk… nngghh.. aaghh” rintihku tak tertahankan lagi.
John kemudian mengganjal pinggulku dengan bantal sofa sehingga pantatku
menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluanku. Kali ini
ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatanku, bergerak-gerak
liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuhku bagai tersengat aliran
listrik aku hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit
merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu kurasakan sesuatu yang
hangat keras berada dibibirku.. kejantanan Erick! Aku
mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Erick tidak
menggubrisnya ia malah manahan kepalaku dengan tangannya agar tidak
bergerak.
“Jilat.. Sus” perintahnya tegas.
Aku tidak lagi bisa menolak, kujilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Erick mendesah-desah merasakan jilatanku.
“Aaahh.. Suss.. jilat terus.. nngghh” desah Erick.
“Jilat kepalanya Sus” aku menuruti permintaannya yang tak mungkin kutolak.
Lama kelamaan aku mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya
menjilat-jilat batang penis itu, lidahku berputar dikepala kemaluannya
membuat Erick mendesis desis.
“Ssshh.. nikmat sekali Suss.. isep sayangg.. isep” pintanya diselah-selah desisannya.
Aku tak tahu harus berbuat bagaimana,
kuikuti saja apa yg pernah kulihat di film, kepala kejantanannya
pertama-tama kumasukan kedalam mulut, Erick meringis.
“Jangan pake gigi Suss.. isep aja” protesnya, kucoba lagi, kali ini Erick mendesis nikmat.
“Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Sus”
Melihat Erick saat itu membuatku turut larut dalam kenikmatannya,
apalagi ketika sebagian kejantanannya melesak masuk menyentuh
langit-langit mulutku, belum lagi kenakalan lidah John yang tiada
henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluanku. Aku semakin
terombang-ambing dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhku,
aku bahkan tidak malu lagi mengocok-ngocok kejantanan Erick yang
separuhnya berada dalam mulutku.
Beberapa saat kemudian Erick mempercepat
gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tanganku
tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan,
ku geleng-gelengkan kepalaku hendak melepaskan benda panjang itu tapi
malah berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat kemaluannya
seperti dikocok-kocok. Erick bertambah beringas mengeluar-masukan
batangnya dan..
“Aaagghh.. nikmatt.. Sus… aku.. kkeelluaarr” jerit Erick, air maninya
menyembur-nyembur keras didalam mulutku membuatku tersedak, sebagian
meluncur ke tenggorokanku sebagian lagi tercecer keluar dari mulutku.
Aku sampai terbatuk-batuk dan
meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulutku. John tidak
kuhiraukan aku langsung duduk bersandar menutup dadaku dengan bantal
sofa.
“Gila Erick.. kira-kira dong” celetukku sambil bersungut-sungut.
“Sorry Sus.. ngga tahan.. abis isepan kamu enak banget” jawab Erick dengan tersenyum.
“Udah Sus jangan marah, kamu masih baru nanti lama lama juga bakal suka”
sela John seraya mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa air mani
dari mulutku.
John benar, aku sebenarnya tadi menikmati sekali, apalagi melihat mimik
Erick saat akan keluar hanya saja semburannya yang membuatku kaget. John
membujuk dan memelukku dengan lembut sehingga kekesalanku segera surut.
Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku. Kelembutan perlakuannya
membuatku lupa dengan kejadian tadi. Kecupan dibibir berubah menjadi
lumatan-lumatan yang semakin memanas kami pun saling memagut, lidah John
menerobos mulutku meliuk-liuk bagai ular, aku terpancing untuk
membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan
telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit menahan
desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar dari
mulutku.
John merebahkan tubuhku kembali dilantai
beralas karpet, kali ini dadaku dilahapnya puting yang satu
dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada
kiriku tangannya melesat turun ke kewanitaanku, dielus-elusnya kelentit
dan bibir kemaluanku. Tubuhku langsung mengeliat-geliat merasakan
kenakalan jari-jari John.
“Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh” desisku tak tertahan.
“Teruss.. Johnn.. aakkhh”
Aku menjadi lebih menggila waktu John mulai memainkan lagi lidahnya di
kemaluanku, seakan kurang lengkap kenikmatan yang kurasakan, kedua
tanganku meremas-remas payudaraku sendiri.
“Ssshh.. nikmat Johnn…mmpphh” desahanku semakin menjadi-jadi.
Tak lama kemudian John merayap naik keatas tubuhku, aku berdebar menanti
apa yang akan terjadi. John membuka lebih lebar kedua kakiku, dan
kemudian kurasakan ujung kejantanannya menyentuh mulut kewanitaanku yang
sudah basah oleh cairan cinta.
“Aauugghh.. Johnn.. pelann” jeritku lirih, saat kepala kejantanannya melesak masuk kedalam rongga kemaluanku.
John menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya
dalam kehangatan liang kewanitaanku. Kemudian-masih sebatas
ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu yang aneh
segera saja menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuhku. Rasa geli,
enak dan entah apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku
mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan John.
“Ooohh.. Johnn.. sshh.. aahh.. enakk Johnn” desahku lirih.
Aku benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat
gesekan-gesekan di mulut kewanitaanku. Mataku terpejam-pejam kadang
kugigit bibir bawahku seraya mendesis.
“Enak.. Sus” tanya John berbisik.
“He ehh Johnn.. oohh enakk.. Johnn.. sshh”
“Nikmatin Sus.. nanti lebih enak lagi” bisiknya lagi.
“Ooohh.. Jonn.. ngghh”
John terus mengayunkan pinggulnya
turun-naik-tetap sebatas ujung kejantanannya-dengan ritme yang semakin
cepat. Selagi aku terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba John
menekan kejantanannya lebih dalam membelah kewanitaanku.
“Auuhh.. sakitt Johnn” jeritku saat kejantanannya merobek selaput
darahku, rasanya seperti tersayat silet, John menghentikan tekanannya.
“Pertama sedikit sakit Sus.. nanti juga hilang kok sakitnya” bisik John seraya menjilat dan menghisap telingaku.
Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti aku mulai
merasakan nikmatnya milik John yang keras dan hangat didalam rongga
kemaluanku.
John kemudian menekan lebih dalam lagi,
membenamkan seluruh batang kemaluannya dan mengeluar-masukannya. Gesekan
kejantanannya dirongga kewanitaanku menimbulkan sensasi yang luar
biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuatku menggelepar-gelepar.
“Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Johnn.. empphh” desahku tak tertahan.
“Ohh.. Sus.. enak banget punya kamu.. oohh” puji John diantara lenguhannya.
“Agghh.. terus Johnn.. teruss” aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kejantanan John di kemaluanku.
Peluh-peluh birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan
lenguhan mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit kejantanan John
menebar kenikmatan ditubuhku. Magma birahi semakin menggelegak sampai
akhirnya tubuhku tak lagi mampu menahan letupannya.
“Johnn.. oohh.. tekan Johnnn.. agghh.. nikmat sekali Johnn” jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku.
Tubuhku mengejang, kupeluk John erat-erat, magma birahiku meledak,
mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung
kewanitaanku.
Tubuhku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian John mulai lagi memacu gairahku, hisapan dan remasan didadaku serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi tubuhku dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuhku dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali kewanitaanku berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi John sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuhku. Selagi posisiku di atas John, Erick yang sedari tadi hanya menonton serta merta menghampiri kami, dengan berlutut ia memelukku dari belakang. Leherku dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dadaku. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitorisku membuatku menjadi tambah meradang.
Kutengadahkan kepalaku bersandar pada
pundak Erick, mulutku yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan
lenguhan langsung dilumatnya. Pagutan Erick kubalas, kami saling
melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggulku semakin bergoyang
berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu menginginkan
kejantanan John mengaduk-aduk seluruh isi rongga kewanitaanku yang
meminta lebih dan lebih lagi.
“Aaargghh.. Sus.. enak banget.. terus Sus… goyang terus” erang John.
Erangan John membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi, kuremas buah
dadaku sendiri yang ditinggalkan tangan Erick.. Ohh aku sungguh
menikmati semua ini.
Erick yang merasa kurang puas meminta
merubah posisi. John duduk disofa dengan kaki menjulur dilantai, Akupun
merangkak kearah batang kemaluannya.
“Isep Suss” pinta John, segera kulumat kejantanannya dengan rakus.
“Ooohh.. enak Sus… isep terus”
Bersamaan dengan itu kurasakan Erick menggesek-gesek bibir kemaluanku
dengan kepala kejantanannya. Tubuhku bergetar hebat, saat batang
kemaluan Erick-yang satu setengah kali lebih besar dari milik
John-dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluanku dan terbenam
didalamnya. Tusukan-tusukan kejantanan Erick serasa membakar tubuh,
birahiku kembali menggeliat keras. Aku menjadi sangat binal merasakan
sensasi erotis dua batang kejantanan didalam tubuhku. Batang kemaluan
John kulumat dengan sangat bernafsu. Kesadaranku hilang sudah naluriku
yang menuntun melakukan semua itu.
“Sus.. terus Suss.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh” erang John.
Aku tahu John akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutku,
aku lebih siap kali ini. Selang berapa saat kurasakan semburan-semburan
hangat sperma John.
“Aaagghh.. nikmat banget Sus.. isep teruss.. telan Sus” jerit John,
lagi-lagi naluriku menuntun agar aku mengikuti permintaan John, kuhisap
kejantananya yang menyemburkan cairan hangat dan.. kutelan cairan itu.
Aneh! Entah karena rasanya, atau sensasi sexual karena melihat John yang
mencapai klimaks, yang pasti aku sangat menyukai cairan itu. Kulumat
terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil.. lemas.
John beranjak meninggalkan aku dan
Erick, sepeninggal John aku merasa ada yang kurang. Ahh.. ternyata
dikerjai dua pria jauh lebih mengasikkan buatku. Namun hujaman-hujaman
kemaluan Erick yang begitu bernafsu dalam posisi ’doggy’ dapat membuatku
kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu
jarinya dianusku. Bukan hanya itu, setelah diludahi Erick bahkan
memasukan Ibu jarinya ke lubang anusku. Sodokan-sodokan dikewanitaanku
dan Ibu jarinya dilubang anus membuatku mengerang-erang.
“Ssshh.. engghh.. yang keras Rickkk. mmpphh”
“Enak banget Rickk.. aahh.. oohh”
Mendengar eranganku Erick tambah bersemangat menggedor kedua lubangku,
Ibu jarinya kurasakan tambah dalam menembus anusku, membuatku tambah
lupa daratan.
Sedang asiknya menikmati, Erick mencabut kejantanan dan Ibu jarinya.
“Erickk… kenapa dicabutt” protesku.
“Masukin lagi Rickk…. pleasee” pintaku menghiba.
Sebagai jawaban aku hanya merasakan ludah Erick berceceran di lubang
anusku, tapi kali ini lebih banyak. Aku masih belum mengerti apa yang
akan dilakukannya. Saat Erickkk mulai menggosok kepala penisnya dilubang
anus baru aku sadar apa yang akan dilakukannya.
“Ericki.. pleasee.. jangan disitu” aku menghiba meminta Erick jangan melakukannya.
Erick tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa
geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya
dikemaluanku hilang sudah protesku. Tiba-tiba kurasakan kepala
kemaluannya sudah menembus anusku. Perlahan namun pasti, sedikit demi
sedikit batang kenikmatannya membelah anusku dan tenggelam habis
didalamnya.
“Aduhh sakitt Rick… akhh..!” keluhku pasrah karena rasanya mustahil menghentikan Erick.
“Rileks Sus… seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya” bujuknya seraya
mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitorisku.
Separuh tubuhku yang tengkurap disofa sedikit membantuku, dengan begitu
memudahkan aku untuk mencengram dan mengigit bantal sofa untuk
mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, aku
bahkan mulai menyukai batang keras Erick yang menyodok-nyodok anusku.
Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuhku.
“Aaahh.. aauuhh.. oohh Rickkk”erang-erangan birahiku mewarnai setiap sodokan penis Erick yang besar itu.
Erick dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras Erick
menghujamkan kejantananya semakin aku terbuai dalam kenikmatan.
John yang sudah pulih dari ’istirahat’nya tidak ingin hanya menonton, ia kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan tensi gairahku. Atas inisiatif John kami pindah kekamar tidur, jantungku berdebar-debar menanti permainan mereka. John merebahkan diri terlentang ditempat tidur dengan kepala beralas bantal, tubuhku ditarik menindihinya. Sambil melumat mulutku-yang segera kubalas dengan bernafsu-ia membuka lebar kedua pahaku dan langsung menancapkan kemaluannya kedalam vaginaku. Erick yang berada dibelakang membuka belahan pantatku dan meludahi lubang anusku. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang tak terkendali ditubuhku. Sensasi sexual yang luar bisa hebat kurasakan saat kejantanan mereka yang keras mengaduk-aduk rongga kewanitaan dan anusku. Hentakan-hentakan milik mereka dikedua lubangku memberi kenikmatan yang tak terperikan.
Erick yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuhku terlentang diatasnya, kejantanannya tetap berada didalam anusku. John langsung membuka lebar-lebar kakiku dan menghujamkan kejantanannya dikemaluanku yang terpampang menganga. Posisi ini membuatku semakin menggila, karena bukan hanya kedua lubangku yang digarap mereka tapi juga payudaraku. Erick dengan mudahnya memagut leherku dan satu tangannya meremas buah dadaku, John melengkapinya dengan menghisap puting buah dadaku satunya. Aku sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuhku. Hantaman-hantaman John yang semakin buas dibarengi sodokan Erick, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu didalam kewanitaanku akan meledak, keliaranku menjadi-jadi.
“Aaagghh.. ouuhh.. Johnnn.. Rickkk.. tekaann” jerit dan erangku tak karuan.
Dan tak berapa lama kemudian tubuhku serasa melayang, kucengram pinggul
John kuat-kuat, kutarik agar batangnya menghujam keras dikemaluanku,
seketika semuanya menjadi gelap pekat. Jeritanku, lenguhan dan erangan
mereka menjadi satu.
“Aduuhh.. Johnn.. Rickk.. nikmat sekalii”
“Aaarrghh.. Suss… enakk bangeett”
Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur
hampir bersamaan dikedua lubangku. Tubuhku bergetar keras didera
kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan
dengan hentakan-hentakan dikewanitaanku dan akhirnya kami.. terkulai
lemas.
Sepanjang malam tak henti-hentinya kami mengayuh kenikmatan demi kenikmatan sampai akhirnya tubuh kami tidak lagi mampu mendayung. Kami terhempas kedalam mimpi dengan senyum kepuasan. Dihari-hari berikutnya bukan hanya Erick dan John yang memberikan kepuasan, tapi juga pria-pria lain yang aku sukai. Tapi aku tidak pernah bisa meraih kenikmatan bila hanya dengan satu pria.. aku baru akan mencapai kepuasan bila ’dijarah’ oleh dua atau tiga pria sekaligus.


Komentar
Posting Komentar