PRAGMATIC189 - Aku ingat Lina waktu dia masih kecil. Dia anak temanku yang paling kecil, Lina benar-benar membuat hatiku tidak karuan, dengan rambut sebahu, hitam legam ikal. Umurnya sekitar 15 atau 16 tahun sekarang, dan wajahnya yang baby face membuatnya seperti tak berdosa. Ketika melihat Lina untuk yang kesekian kalinya, aku bersumpah kalau aku harus berhasil tidur bersamanya sebelum aku pergi dari kota ini. Dan aku sudah menjalankan rencanaku. Aku main ke rumah Lina bekali-kali, sepanjang siang dan malam sampai aku telepon untuk mengetahui kapan Lina ada sendirian dan kapan orang tuanya ada. Dan pada waktu malam aku memutuskan untuk masuk ke rumah Lina aku sudah memastikan bahwa orang tua Lina sudah tidur dan Lina ada di kamar tidurnya. Rencanaku akan kuperkosa Lina sementara orang tuanya tidur di kamar mereka.
Tubuhku kaku karena tegang, waktu aku buka jendela belakang rumahnya pakai linggis. Suara jendela yang terdongkel terdengar seperti letusan membuatku harus diam tidak bergerak selama setengah jam menunggu apakah ada penghuni rumah yang terbangun. Untung saja semuanya masih dalam keadaan sunyi senyap, dan aku memutuskan untuk masuk. Tubuhku sekarang gemetar. Setiap langkahku seperti membuat seluruh rumah berderit dan aku siap meloncat melarikan diri. Tapi waktu aku sampai di depan kamar tidur Lina rumah itu masih gelap dan sunyi senyap. Aku buka pintu dan masuk sambil menutupnya kembali. Aku seperti bisa mendengar jantungku yang berdetak keras sekali. Aku belum pernah setakut ini seumur hidupku. Tapi bagian yang paling susah sudah berhasil aku lampaui. Kamar tidur orang tua Lina ada di lantai dasar. Aku berdiri di samping ranjang Lina memilih langkah selanjutnya. Perlahan penisku mulai menegang sampai akhirnya besar dan tegang sampai ngilu. Mata Lina terbuka menatapku tidak bisa bernafas. Aku ada di sebelah ranjangnya mencekik lehernya, sementara tangan kiriku mengacungkan belati di depan wajahnya.
PRAGMATIC189 - SITUS SLOT GACOR DAN TERPERCAYA SE INDONESIA
“Diem. Jangan bergerak, jangan bersuara,
atau lo mati.” aku dengar nada suaraku yang lain sekali dari biasa.
Kedengarannya bengis dan kejam.
Lina tetap terlihat cantik. Umurnya lima belas tahun. Dia terbatuk-batuk.
“Kalau aku lepasin tanganku, lo berguling tengkurap dan jangan berisik
atau aku potong leher lo.” Aku tentu tidak bermaksud akan membunuh dia,
tapi paling tidak itu berhasil bikin Lina ketakutan. Lina langsung
menurut dan segera kuikat tubuhnya, menutup mulutnya dengan plester, dan
mengikat pergelangan tangannya di belakang.
Selimut yang menutupi tubuh Lina
sekarang sudah ada di lantai, dan aku bisa melihat jelas gadis yang lagi
tengkurap di depanku. Tubuh Lina langsing dan mungil, dan baju tidur
yang dipakainya terangkat ke atas membuatku bisa melihat kakinya yang
putih dan mulus. Ereksiku sudah maksimal dan aku sudah tidak tahan
sakitnya, celanaku menyembul didorong oleh penisku yang besar, dan
bersentuhan dengan pantat Lina yang mungil. Aku menindih Lina dan
bergoyang-goyang membuat penisku bergesekan dengan pantat Lina dan
dengan tanganku yang bebas kuraba bagian dada Lina yang masih ditutup
oleh dasternya. Buah dada Lina masih kecil, yang membuatku makin birahi.
Mulutku bersentuhan dengan telinga Lina.
“Lo benar-benar sempurna. Tetap diam dan aku akan pergi sebentar segera.”
Mata Lina terpejam seakan-akan telah
tertidur kembali. Aku lepaskan celana trainingku dan celana dalamku
sampai ke kakiku tapi belum aku melepaskannya dari badanku, sambil
menatap bagian belakang tubuh Lina yang indah. Kakinya yang telanjang
membuat nafasku berat, dan dasternya tidak bisa lagi menutupi pantatnya
yang ditutupi celana dalam putih. Dan tangannya yang terikat erat
benar-benar membuat Lina sempurna buatku. Aku buka kaki Lina tanpa
perlawanan yang berarti, dan membenamkan wajahku, yang membuat Lina
mengeluarkan erangan untuk pertama kalinya. Aku benamkan wajahku ke
selangkangan Lina, menikmati wangi tubuh Lina, yang terus mengerang
ketakutan. Selanjutnya aku raba-raba vaginanya yang tertutup celana
dalam dari belakang, meraba, dan akhirnya menusuk-nusuk dengan jariku.
Ini membuat erangan Lina makin keras sehingga aku harus mengancamnya
lagi dengan belatiku. Kemudian kulihat dia gemetar dan kelihatannya
mulai menangis. Celana dalamnya lembab, dan aku jadi berpikir mungkin
Lina mulai terangsang oleh jariku.
“Lo suka Lina? Hei, lo suka tidak?” Lina hanya menangis. Aku terus
meraba vaginanya, sampai aku tidak tahan lagi, dan langsung kutarik
celana dalam Lina sampai lepas.
Aku makin mencium bau tubuh Lina. Dan
aku mulai gila. Aku balik lagi badannya, karena aku tahu aku lebih mudah
ngerjain Lina lewat depan. Lina berbaring tidak nyaman, berbaring
telentang dengan tangan terikat ke belakang, dan telanjang mulai
pinggang ke bawah, rambut kemaluannya yang masih tipis terlihat jelas.
Ia menatap mataku, air mata membuat pipi Lina berkilat tertimpa cahaya
lampu kamarnya. Aku tidak begitu suka lihat tatap mata Lina, aku jadi
berpikir untuk bikin dia tengkurap lagi begitu penisku sudah masuk ke
vaginanya. Aku menempatkan tubuhku, aku harus memnyuruhnya beberapa kali
untuk membuka kakinya lebih lebar, seperti dokter gigi, “Ayo lebih
lebar sayang, lho kok segitu, lebih lebar lagi, bagus anak manis..”, Aku
ingin tahu dia masih perawan atau tidak. Lina tidak meronta-ronta,
soalnya aku masih pegang belatiku, tapi terus menangis tersedu-sedu, dan
mengerang-erang, berusaha berkata sesuatu.
“Lo masih perawan tidak Lina? Masih? Masih apa tidak.”
Lina terus menangis. Aku angkat
dasternya ke atas lagi. Di depan Lina agak rata, buah dadanya hanya
sekepal dengan puting susu yang mengeras. Aku pikir itu karena udara
dingin, tapi mungkin juga bagian dari tubuh Lina yang emang terangsang.
“Bukan gitu sayang, lo mesti buka lebih lebar lagi..”
Aku tekan penisku di belahan vaginanya
yang masih mungil. Terasa basah. benar-benar super sempit. Kutarik lagi
penisku dan kumasukkan jariku, dan merasakan jepitan vagina Lina yang
hangat yang membuat penisku ingin merasakannya juga. Aku gerakkan
penisku maju mundur beberapa kali dan mengarahkan penisku lagi, tegang
seperti tongkat kayu.
“Buka lagi manis. Lo benar-benar cantik. Aku cuma mau perkosa kamu terus pergi.”
Aku harus mendorong, bergoyang, berputar, dan akhirnya mengangkat kedua kaki Lina ke atas sebelum aku berhasil mendorong kepala penisku masuk ke vagina Lina. Aku lihat lagi buah dada Lina dengan putingnya yang mencuat ke atas, mata yang memohon dan meratap dengan air mata dan aku dorong penisku masuk ke vagina mungil milik gadis berumur lima belas tahun itu dengan seluruh tenagaku. Lina menjerit, diredam oleh plester, membuatku makin semangat. Vaginanya sempit sekali seperti menggenggam penisku. Dia ternyata tidak basah sama sekali. Aku perkosa dia dengan kasar, seakan-akan aku ingin membuatnya mati dengan penisku, berusaha membuat Lina menjerit serta aku menghentak masuk. Lina semakin histeris sekarang.
Keadaanku sudah 100 persen dikuasai birahi, dan sekarang aku memusatkan perhatian untuk menyakiti Lina, dan aku tidak punya lagi rasa kasihan buat Lina. Aku terus menghentak-hentak di atas tubuh Lina, dengan kecepatan yang brutal, dan tubuhnya yang mungil terbanting-banting karena gerakanku. Aku merasa aku seperti merobek vagina Lina dengan penisku, dan membuatku makin terangsang, mendorongku bergerak makin brutal. Di sela-sela gerakanku, aku jatuhkan belatiku dan kulepaskan celanaku yang membuat tanganku bebas menggunakan tubuh Lina. Aku kesetanan merasakan tubuh Lina, aku meremas setiap bagian tubuh Lina, meremas buah dadanya, menjepit puting susunya, dan menggunakan bahunya yang kecil buat menopang tubuhku.
Aku hampir tidak ingat apa aja yang aku
kerjakan sama Lina. Lina beberapa kali meronta pada awalnya, berusaha
membebaskan tangannya, berusaha berguling, berusaha mengeluarkan penisku
dari vaginanya. Wajah Lina memancarkan rasa panik dan takut, dan aku
terus memperkosanya sekuat tenagaku, seakan-akan itu masalah hidup dan
matiku. Seaat sebelum aku mengalami orgasme aku menarik penisku keluar
dan Lina langsung berusaha untuk berguling. Aku jambak rambutnya dan
menariknya.
“Brengsek, tidur ke lantai.”
Aku tarik kepalanya sampai menempel ke lantai. Sementara dia jatuh berlutut, tapi Lina sama sekali tidak bisa mengangkat wajahnya dengan tangan masih terikat ke belakang. Kepala Lina terbenam ke lantai. Lina masih menangis dan gemetar. Aku masukkan lagi penisku ke vagina Lina tanpa kesulitan, karena penisku sudah seluruhnya dilumuri darah perawan Lina. Aku masukkan dari belakang sebelum Lina sempat meronta, aku pegangin pinggulnya sementara aku terus mendorong sekuat tenaga. Dengan pantat masih nungging ke atas aku tekan punggung Lina dengan tanganku sehingga kepala dan dada Lina makin terhimpit ke lantai, dan aku terus memperkosa dia dengan gaya seperti anjing. Dan Lina sendiri sekarang mendengking-dengking seperti anak anjing yang ketakutan. Sekarang kutarik lagi rambutnya, membuat kepala Lina terangkat.
Lina benar-benar cantik dan tak berdaya,
tangannya terikat di punggung. Aku terus menyetubuhinya dengan keras
dan tidak berirama, kadang brutal berhenti sedetik dan mulai lagi dengan
keras, dan bergantian menekan punggungnya ke lantai lalu menarik
rambutnya hingga ia mendongak lagi, sampai aku merasakan tanda-tanda
ejkulasi lagi. Aku ingin sekali melepas plesternya dan memasukan penisku
ke mulutnya yang mungil, tapi untung saja aku masih sadar kalau itu
bisa bikin aku ketahuan, jadi aku tetap menahan penisku di liang
kenikmatan Lina sedalam-dalamnya dan melepaskan ejakulasiku. Aku
pegangin belahan pantat Lina dekat dengan selangkanganku waktu aku
menyemburkan spermaku ke rahim Lina yang menerimanya dengan tatapan mata
panik.
“Oh Lina, sayangku, oh, oh..”
Penisku bekerja keras memompa, berdenyut, menyemburkan sperma ke tubuh Lina, dan aku belum pernah mengeluarkan sperma sebanyak ini selama hidupku. Lina tetap diam tidak bergerak, terengah-engah. Nafasku juga terputus-putus, dan bergidik sedikit ketika aku mengejang lagi dan menyemprotkan sisa spermaku ke rahim Lina. Aku menghentak dia beberapa kali lagi, sekarang dengan penuh perasaan seperti sepasang kekasih. Lina sadar bahwa aku sudah selesai, dan menerima gerakanku yang terakhir ini masih tak bergerak, dengan kepala terbenam ke dalam karpet kamarnya yang tebal.
Aku tarik penisku keluar. Dan aku
langsung merasa cemas lagi. Aku langsung mengenakan pakaianku, dan
secara ajaib masih ingat untuk mengambil belatiku dan memikirkan sesuatu
untuk aku ucapkan pada Lina.
“.. Makasih sayang”, aku berbisik lirih, dan langsung melarikan diri.
Dan biarpun aku sempat cemas ketika aku sudah dalam perjalanan ke luar kota, beberapa saat kemudian aku kembali dipenuhi hasrat baru. Aku berpikir untuk kembali dan menculik Lina serta mengajak beberapa orang temanku untuk mencicipinya.


Komentar
Posting Komentar