PRAGMATIC189 - Perkenalkan dulu namaku Niko. Sudah satu minggu ini akau berada di
rumah sendirian. Istriku, Fitri, sedang ditugaskan dari kantor tempatnya
bekerja untuk mengikuti suatu pelatihan yang dilaksanakan di kota lain
selama dua minggu. Terus terang saja aku jadi kesepian juga rasanya.
Kalau mau tidur rasanya kok aneh juga, kok sendirian dan sepi, padahal
biasanya ada istri di sisiku. Memang perkimpoian kami belum dikaruniai
anak. Maklum baru 1 tahun berjalan. Karena sendirian itu, dan maklum
karena otak laki-laki, pikirannya jadi kemana-mana.
Aku teringat peristiwa yang aku alami dengan ibu mertuaku. Ibu
mertuaku memang bukan ibu kandung istriku, karena ibu kandung Fitri
telah meninggal dunia. Ayah mertuaku kemudian kimpoi lagi dengan ibu
mertuaku yang sekarang ini dan kebetulan tidak mempunyai anak. Ibu
mertuaku ini umurnya sekitar 40 tahun, wajahnya Mina, dan tubuhnya
benar-benar sintal dan padat sesuai dengan wanita idamanku. Buah dadanya
besar sesuai dengan pinggulnya. Demikian juga pantatnya juga bahenol
banget. Aku sering membayangkan ibu mertuaku itu kalau sedang telentang
pasti vaginanya membusung ke atas terganjal pantatnya yang besar itu.
Hemm, sungguh menggairahkan.

Peristiwa itu terjadi waktu malam dua hari sebelum hari perkawinanku
dengan Fitri. Waktu itu aku duduk berdua di kamar keluarga sambil
membicarakan persiapan perkimpoianku. Mendadak lampu mati. Dalam
kegelapan itu, ibu mertuaku (waktu itu masih calon) berdiri, saya pikir
akan mencari lilin, tetapi justru ibu mertuaku memeluk dan menciumi pipi
dan bibirku dengan lembut dan mesra. Aku kaget dan melongo karena aku
tidak mengira sama sekali diciumi oleh calon ibu mertuaku yang cantik
itu.
Hari-hari berikutnya aku bersikap seperti biasa, demikian juga ibu
mertuaku. Pada saat-saat aku duduk berdua dengan dia, aku sering
memberanikan diri memandang ibu mertuaku lama-lama, dan dia biasanya
tersenyum manis dan berkata, “Apaa..?, sudah-sudah, ibu jadi malu”.
Terus terang saja aku sebenarnya merindukan untuk dapat bermesraan
dengan ibu mertuaku itu. Aku kadang-kadang sagat merasa bersalah dengan
Fitri istriku, dan juga ayahku mertua yang baik hati. Kadang-kadang aku
demikian kurang ajar membayangkan ibu mertuaku disetubuhi ayah mertuaku,
aku bayangkan kemaluan ayah mertuaku keluar masuk vagina ibu mertuaku,
Ooh alangkah…! Tetapi aku selalu menaruh hormat kepada ayah dan ibu
mertuaku. Ibu mertuaku juga sayang sama kami, walaupun Fitri adalah anak
tirinya.
Pagi-pagi hari berikutnya, aku ditelepon ibu mertuaku, minta agar
sore harinya aku dapat mengantarkan ibu menengok famili yang sedang
berada di rumah sakit, karena ayah mertuaku sedang pergi ke kota lain
untuk urusan bisnis. Aku sih setuju saja. Sore harinya kami jadi pergi
ke rumah sakit, dan pulang sudah sehabis maghrib. Seperti biasa aku
selalu bersikap sopan dan hormat pada ibu mertuaku.
Dalam perjalan pulang itu, aku memberanikan diri bertanya, “Bu, ngapain sih dulu ibu kok cium Niko?”.
“Aah, kamu ini kok maih diingat-ingat juga siih”, jawab ibuku sambil memandangku.
“Jelas dong buu…, Kan asyiik”, kataku menggoda.
“Naah, tambah kurang ajar thoo, Ingat Fitri lho Nik…, Nanti kedengaran ayahmu juga bisa geger lho Nik”.
“Tapii, sebenarnya kenapa siih bu…, Niko jadi penasaran lho”.
“Aah, ini anak kok nggak mau diem siih, Tapi eeh…, anu…, Nik,
sebenarnya waktu itu, waktu kita jagongan itu, ibu lihat tampangmu itu
kok ganteng banget. Hidungmu, bibirmu, matamu yang agak kurang ajar itu
kok membuat ibu jadi gemes banget deeh sama kamu. Makanya waktu lampu
mati itu, entah setan dari mana, ibu jadi pengin banget menciummu dan
merangkulmu. Ibu sebenarnya jadi malu sekali. Ibu macam apa kau ini,
masa lihat menantunya sendiri kok blingsatan”.
“Mungkin, setannya ya Niko ini Bu…, Saat ini setannya itu juga deg-degan
kalau lihat ibu mertuanya. Ibu boleh percaya boleh tidak, kadang-kadang
kalau Niko lagi sama Fitri, malah bayangin Ibu lho. Bener-bener nih.
Sumpah deh. Kalau Ibu pernah bayangin Niko nggak kalau lagi sama Bapak”,
aku semakin berani.
“aah nggak tahu ah…, udaah…, udaah…, nanti kalau keterusan kan nggak
baik. Hati-hati setirnya. Nanti kalau nabrak-nabrak dikiranya nyetir
sambil pacaran ama ibu mertuanya. Pasti ibu yang disalahin orang,
Dikiranya yang tua niih yang ngebet”, katanya.
“Padahal dua-duanya ngebet lo Bu. Buu, maafin Niko deeh. Niko jadi
pengiin banget sama ibu lho…, Gimana niih, punya Niko sakit kejepit
celana nihh”, aku makin berani.
“Aduuh Nikkk, jangan gitu dong. Ibu jadi susah nih. Tapi terus terang
aja Nikkk.., Ibu jadi kayak orang jatuh cinta sama kamu.., Kalau udah
begini, udah naik begini, ibu jadi pengin ngeloni kamu Nik …, Nik kita
cepat pulang saja yaa…, Nanti diterusin dirumah…, Kita pulang ke rumahmu
saja sekarang…, Toh lagi kosong khan…, Tapi Nik menggir sebentar Nik,
ibu pengen cium kamu di sini”, kata ibu dengan suara bergetar.
ooh aku jadi berdebar-debar sekali. Mungkin terpengaruh juga karena
aku sudah satu minggu tidak bersetubuh dengan istriku. Aku jadi nafsu
banget. Aku minggir di tempat yang agak gelap. Sebenarnya kaca mobilku
juga sudah gelap, sehingga tidak takut ketahuan orang. Aku dan ibu
mertuaku berangkulan, berciuman dengan lembut penuh kerinduan.
Benar-benar, selama ini kami saling merindukan.
“eehhm…, Nikkk ibu kangen banget Nikkk”, bisik ibu mertuaku.
“Niko juga buu”, bisikku.
“Nikkk …, udah dulu Nik …, eehmm udah dulu”, napas kami memburu.
“Ayo jalan lagi…, Hati-hati yaa”, kata ibu mertuaku.
“Buu penisku kejepit niih…, Sakit”, kataku.
“iich anak nakal”, Pahaku dicubitnya.
“Okey…, buka dulu ritsluitingnya”, katanya.
Cepat-cepat aku buka celanaku, aku turuni celana dalamku. Woo, langsung
berdiri tegang banget. Tangan kiri ibu, aku tuntun untuk memegang
penisku.
“Aduuh Nikkk. Gede banget pelirmu…, Biar ibu pegangin, Ayo jalan. Hati-hati setirnya”.
Aku masukkan persneling satu, dan mobil melaju pulang. Penisku dipegangi
ibu mertuaku, jempolnya mengelus-elus kepala penisku dengan lembut.
Aduuh, gelii… nikmat sekali. Mobil berjalan tenang, kami berdiam diri,
tetapi tangan ibu terus memijat dan mengelus-elus penisku dengan lembut.
Sampai di rumahku, aku turun membuka pintu, dan langsung masuk
garasi. Garasi aku tutup kembali. Kami bergandengan tangan masuk ke
ruang tamu. Kami duduk di sofa dan berpandangan dengan penuh kerinduan.
Suasana begitu hening dan romantis, kami berpelukan lagi, berciuman
lagi, makin menggelora. Kami tumpahkan kerinduan kami. Aku ciumi ibu
mertuaku dengan penuh nafsu. Aku rogoh buah dadanya yang selalu aku
bayangkan, aduuh benar-benar besar dan lembut.
“Buu, Niko kangen banget buu…, Niko kangen banget”.
“Aduuh Nikkk, ibu juga…, Peluklah ibu Nik, peluklah ibu” nafasnya semakin memburu.
Matanya terpejam, aku ciumi matanya, pipinya, aku lumat bibirnya, dan
lidahku aku masukkan ke mulutnya. Ibu agak kaget dan membuka matanya.
Kemudian dengan serta-merta lidahku disedotnya dengan penuh nafsu.
“Eehhmm.., Nik, ibu belum pernah ciuman seperti ini…, Lagi Nik masukkan lidahmu ke mulut ibu”
Ibu mendorongku pelan, memandangku dengan mesra. Dirangkulnya lagi
diriku dan berbisik, “Nik, bawalah Ibu ke kamar…, Enakan di kamar,
jangan disini”.
Dengan berangkulan kami masuk ke kamar tengah yang kosong. Aku merasa
tidak enak di tempat tidur kami. Aku merasa tidak enak dengan Fitri
apabila kami memakai tempat tidur di kamar kami.
“Bu kita pakai kamar tengah saja yaa”.
“Okey, Nik. Aku juga nggak enak pakai kamar tidurmu. Lebih bebas di
kamar ini”, kata ibu mertuaku penuh pengertian. Aku remas pantatnya yang
bahenol.
“iich.., dasar anak nakal”, ibu mertuaku merengut manja.
Kami duduk di tempat tidur, sambil beciuman aku buka pakaian ibu
mertuaku. Aku sungguh terpesona dengan kulit ibuku yang putih bersih dan
mulus dengan buah dadanya yang besar menggantung indah. Ibu aku
rebahkan di tempat tidur. Celana dalamnya aku pelorotkan dan aku
pelorotkan dari kakinya yang indah. Sekali lagi aku kagum melihat vagina
ibu mertuaku yang tebal dengan bulunya yang tebal keriting. Seperti aku
membayangkan selama ini, vagina ibu mertuaku benar menonjol ke atas
terganjal pantatnya yang besar. Aku tidak tahan lagi memandang keindahan
ibu mertuaku telentang di depanku. Aku buka pakaianku dan penisku sudah
benar-benar tegak sempurna. Ibu mertuaku memandangku dengan tanpa
berkedip. Kami saling merindukan kebersamaan ini. Aku berbaring miring
di samping ibu mertuaku. Aku ciumi, kuraba, kuelus semuanya, dari
bibirnya sampai pahanya yang mulus.
Aku remas lembut buah dadanya, kuelus perutnya, vaginanya,
klitorisnya aku main-mainkan. Liangnya vaginanya sudah basah. Jariku aku
basahi dengan cairan vagina ibu mertuaku, dan aku usapkan lembut di
clitorisnya. Ibu menggelinjang keenakan dan mendesis-desis. Sementara
peliku dipegang ibu dan dielus-elusnya. Kerinduan kami selama ini sudah
mendesak untuk ditumpahkan dan dituntaskan malam ini. Ibu
menggeliat-geliat, meremas-remas kepalaku dan rambutku, mengelus
punggungku, pantatku, dan akhirnya memegang penisku yang sudah siap
sedia masuk ke liang vagina ibu mertuaku.
“Buu, aku kaangen banget buu…, Niko y kanget banget…, Niko anak nakal buu..”, bisikku.
“Nikkk …, ibu juga. sshh…, masukin Nikkk …, masukin sekarang…, Ibu sudah
pengiin banget Nikkk, Nikkk …”, bisik ibuku tersengal-sengal. Aku naik
ke atas ibu mertuaku bertelakn pada siku dan lututku.
Tangan kananku mengelus wajahnya, pipinya, hidungnya dan bibir ibu
mertuaku. Kami berpandangan. Berpandangan sangat mesra. Penisku
dituntunnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Ditempelkannya
dan digesek-gesekan di bibir vaginanya, di clitorisnya. Tangan kirinya
memegang pantatku, menekan turun sedikit dan melepaskan tekanannya
memberi komando penisku.
Kaki ibu mertuaku dikangkangnya lebar-lebar, dan aku sudah tidak sabar
lagi untuk masuk ke vagina ibu mertuaku. Kepala penisku mulai masuk,
makin dalam, makin dalam dan akhirnya masuk semuanya sampai ke
pangkalnya. Aku mulai turun naik dengan teratur, keluar masuk, keluar
masuk dalam vagina yang basah dan licin. Aduuh enaak, enaak sekali.
“Masukkan separo saja Nik. Keluar-masukkan kepalanya yang besar ini…, Aduuh garis kepalanya enaak sekali”.
Nafsu kami semakin menggelora. Aku semakin cepat, semakin memompa
penisku ke vagina ibu mertuaku. “Buu, Niko masuk semua, masuk semua buu”
“Iyaa Nikkk, enaak banget. Pelirmu ngganjel banget. Gede banget rasane.
Ibu marem banget” kami mendesis-desis, menggeliat-geliat, melenguh penuh
kenikmatan. Sementara itu kakinya yang tadi mengangkang sekarang
dirapatkan.
Aduuh, vaginanya tebal banget. Aku paling tidak tahan lagi kalau sudah
begini. Aku semakin ngotot menyetubuhi ibu mertuaku, mencoblos vagina
ibu mertuaku yang licin, yang tebal, yang sempit (karena sudah kontraksi
mau puncak). Bunyinya kecepak-kecepok membuat aku semakin bernafsu.
Aduuh, aku sudah tidak tahan lagi.
“Buu Niko mau keluaar buu…, Aduuh buu.., enaak bangeet”.
“ssh…, hiiya Nikkkkk, keluariin Nikkk, keluarin”.
“Ibu juga mau muncaak, mau muncaak…, Nikkkk, Nik m, Teruss Nikkk”, Kami
berpagutan kuat-kuat. Napas kami terhenti. Penisku aku tekan kuat-kuat
ke dalam vagina ibu mertuaku.
Pangkal penisku berdenyut-denyut. menyemprotlah sudah spermaku ke vagina
ibu mertuaku. Kami bersama-sama menikmati puncak persetubuhan kami.
Kerinduan, ketegangan kami tumpah sudah. Rasanya lemas sekali. Napas
yang tadi hampir terputus semakin menurun.
Aku angkat badanku. Akan aku cabut penisku yang sudah menancap dari dalam liang vaginanya, tetapi ditahan ibu mertuaku.
“Biar di dalam dulu Nikkk …, Ayo miring, kamu berat sekali. Kamu
nekad saja…, masa’ orang ditindih sekuatnya”, katanya sambil memencet
hidungku. Kami miring, berhadapan, Ibu mertuaku memencet hidungku lagi,
“Dasar anak kurang ajar…, Berani sama ibunya.., Masa ibunya dinaikin,
Tapi Nikkk …, ibu nikmat banget, ‘marem’ banget. Ibu belum pernah
merasakan seperti ini”.
“Buu, Niko juga buu. Mungkin karena curian ini ya buu, bukan miliknya…,
Punya bapaknya kok dimakan. Ibu juga, punya anakya kok ya dimakan,
diminum”, kataku menggodanya.
“Huush, dasar anak nakal.., Ayo dilepas Nikkk.., Aduuh berantakan niih
Spermamu pada tumpah di sprei, Keringatmu juga basahi tetek ibu niih”.
“Buu, malam ini ibu nggak usah pulang. Aku pengin dikelonin ibu malam ini. Aku pengin diteteki sampai pagi”, kataku.
“Ooh jangan cah bagus…, kalau dituruti Ibu juga penginnya begitu.
Tapi tidak boleh begitu. Kalau ketahuan orang bisa geger deeh”, jawab
ibuku.
“Tapi buu, Niko rasanya emoh pisah sama ibu”.
“Hiyya, ibu tahu, tapi kita harus pakai otak dong. Toh, ibu tidak akan
kabur.., justru kalau kita tidak hati-hati, semuanya akan bubar deh”.
Kami saling berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman
lagi penuh kelembutan. Tiada kata-kata yang keluar, tidak dapat
diwujudkan dalam kata-kata. Kami saling mengasihi, antara ibu dan anak,
antara seorang pria dan seorang wanita, kami tulus mengasihi satu sama
lain.
Malam itu kami mandi bersama, saling menyabuni, menggosok, meraba dan
membelai. Penisku dicuci oleh ibu mertuaku, sampai tegak lagi.
“Sudaah, sudaah, jangan nekad saja. Ayo nanti keburu malam”.
Malam itu sungguh sangat berkesan dalam hidupku. Hari-hari selanjutnya
berjalan normal seperti biasanya. Kami saling menjaga diri. Kami
menumpahkan kerinduan kami hanya apabila benar-benar aman. Tetapi kami
banyak kesempatan untuk sekedar berciuman dan membelai. Kadang-kadang
dengan berpandangan mata saja kami sudah menyalurkan kerinduan kami.
Kami semakin sabar, semakain dewasa dalam menjaga hubungan cinta-kasih
kami.
PROMO SPESIAL PRAGMATIC189
🍾 Promo Bonus Redepo Weekend 100% Khusus Member Silver - Gold - Platinum 🍾
🍾 PROMO Event Slot Freespin & Buyspin Up To 25% PRAGMATIC189
🍾 PROMO Event 3JEJER KOI GATES HABANERO PRAGMATIC189
🍾 EVENT BOLA PETIR GATES OF OLYMPUS PRAGMATIC189
🍾 PROMO EVENT MIXPARLAY 3 TEAM 2X BONUS
🍾 PROMO EVENT BIGWIN MIXPARLAY
🍾 Bonus New Member 100% TO X7 Khusus BANK
🍾 Bonus New Member 100% TO X12 Khusus E-Wallet
🍾 Bonus Redepo Everytime 10% TO X3 ( Total Maximal Bonus 500.000 )
🍾 Bonus Redepo Evertyime 5% TO X2 ( Total Maximal Bonus 500.000 )
🍾 Bonus Rollingan Slot - Casino - Poker Up To 0.7%
🍾 Bonus Cashback Sportbooks - Fishing Up To 7%
🍾 Bonus Referral All Game Up To 0.5%
🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥
Situs Slot Terbaik dan Terpercaya se-Indonesia
✨✨ PRAGMATIC189 ✨✨
🍹 Link Daftar KLIK DI SINI 🍹
"
🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥
💳 Menerima Deposit Melalui Bank BCA - BRI - BNI - MANDIRI - CIMB
💳 Menerima Deposit Melalui Ewallet OVO - DANA - GOPAY - LINKAJA
🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥🚥
✨ Jadi Tunggu apalagi Segera Daftar di PRAGMATIC189 ✨
✨ Dan Rasakan Jackpot Besar Sensasional bersama Kami 🥰 ✨
Komentar
Posting Komentar